JURNALISME DAKWAH
Oleh A.Rojabi
A. Sejarah Jurnalisme Dakwah
Jurnalisme pertama kali ada di Amerika saat mungulnya “ACTA DIURNA”, sejenis mading untuk menginformasikan tentang keputusan senat. Jurnalisme merupakan dunia yang berkaitan dengan kejurnalistikan. Jurnalistik itu sendiri berarti segala aktivitas peliputan, pengolahan dan pemberitahuan berita atau informasi kepada masyarakat.
Adapun jurnalisme dakwah yaitu aktivitas peliputan, pengolahan dan pemberitahuan berita yang berisi amar ma’ruf nahi munkar. Tonggak jurnalisme dakwah adalah majalah “ Al-Urwatul Wusqa”, sebuah majalah yang dikelola oleh Jmaluddin al-Afghani dan Rasyid Ridha. Isinya hanya delapan halaman.
B. Ruang Lingkup Jurnalisme Dakwah
Ruang lingkup jurnalisme dakwah terdiri dari:
§ Pesan
§ Media
§ Masyrakat
Ì Pesan
Pesan dalam jurnalisme dakwah berupa tulisan jurnalistik yang bermuatan dakwah. Tulisan jurnalistik ini terdiri dari dua macam, yaitu:
v News = berita, feature
*Berita adalah laporan peristiwa yang bersifat aktual, faktual, penting dan menarik. Dalam berita tidak boleh ada opini jurnalis. Kalaupun ada opini hanyalah opini narasumber yang ditandai dengan kutipan hasil wawancara. Nilai berita yaitu “ KONFLIK”.
*Feature adalah cerita khas kreatif yang berpijak pada jurnalistik sastra tentang suatu situsi, keadaan, atau aspek kehidupan, dengan bertujuan untuk memberi informasi sekaligus menghibur khalayak media massa.
v Views = artikel, kolom, editorial
*Artikel adalah tulisan tentang suatu masalah dan pendapat penulisnya yang dimuat di media massa cetak.
*Kolom yaitu tulisan lepas berisi opini seseorang yang lebih banyak menekankan aspek pengamatan dan pemaknaan terhadap suatu persoalan atau keadaan yang terdapat dalam masyarakat.
*Editorial berupa tajuk rencana; artikel dalam surat kabar atau majalah yang mengungkapkan pendirian editor atau pimpinan surat kabar atau majalah tersebut mengenai beberapa pokok masalah.
**Artikel dakwah = tulisan tentang masalah keislaman baik berupa ajaran maupun pengetahuannya.
· Tujuan artikel dakwah
Tujuan artikel dakwah yaitu mengajak menuntun, memberi petunjuk dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam.
· Format tulisan
{ Deskriptif = menjawab pertanyaan “apa”
{ Eksplanatif = menjawab pertanyaan “mengapa”
{ Prediktif = menjawab pertanyaaan “ apa yag akan terjadi”
{ Preskriptif = menjawab pertanyaan “apa yang harus dilakukan”
· Proses membuat artikel dakwah
| Menemukan ide dan inspirasi
| Membuat outline
| Menulis lead
| Mengedit tulisan
| Mengirimkan tulisan
Ì Media
Dalam media dikenal istilah “citizen jurnalism” yang berarti jurnalisme masyarakat. Media dalam dunia pers Islam memiliki audience yang khusus orang-orang Islam. Bentuk media jurnalistik dakwah yaitu:
Ø Media cetak = buletin masjid, mading mesjid, koran, majalah, tabloid dan lainnya.
* buletin masjid
Ciri-ciri buletin masjid
¯ Buletin masjid diterbitkan oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM).
¯ Buletin masjid diterbitkan secara berkala satu minggu sekali (setiap hari Juma) atau sesuai kebutuhan DKM.
¯ Buletin masjid dibagikan secara gratis.
¯ Bila tidak menerbitkan sendiri, masjid bisa menybarkan buletin dari masjid lain.
¯ Tebal buletin masjid biasanya empat halaman (kertas polio dilipat dua).
· Kelebihan buletin masjid
¬ Media penyebar gagasan dari DKM atau tokoh di masjid tersebut kepada jamaahnya.
¬ Ajang kreativitas DKM dan jamah dalam mengembangkan dakwah bil qalam. Bila dikelola secara profesional bisa menambah kas DKM (ada infak dari jamaah)
¬ Bisa memuat informasi seperti keuangan DKM, berita atau iklan produk yang dikembangkan jamaah.
¬ Bisa menjadi media silatu rahmi jamaah dalam bentuk surat pembaca atau media konsultasi.
· Kekurangan buletin masjid
« Buletin masjid tidak dikelola secara profesional.
« Tampilan, tata letak dan perwajahan tidak menarik, membosankan.
« Isi terkesan “menyerang” kelompok tertentu atau terkesan menggurui.
« Seringkali buletin masjid terbit secara tidak teratur.
« Buletin masjid jarang yang dikoleksi.
· Isi buletin masjid
µ Hal. 1 berisi logo/nama buletin, dan artikel utama.
µ Hal. 2 lanjutan artikel utama.
µ Hal. 3 berita singkat seputar kegiatan masjid atau kolom tanya jawab masalah keislaman.
µ Hal. 4 rubrik humor, kisah-kisah Islami, kutipan hadits dan box identitas pengelola buletin.
· Desain grafis
¶ Format media: Buletin masjid tidak harus ukuran ½ folio dan empat halaman, bisa lebih.
¶ Cover dan perwajahan berisi nama dan llogo buletin dengan tanggal terbit atau nomor edisi. Perlu ada tambahan ilustrasi agar menarik.
¶ Kolom: jangan terlalu sempit atau terlalu lebar.
¶ Penataan halaman: penentuan judul, sub judul, teks dan penunjang seperti angka halaman
¶ Pemakaian huruf: sesuai dengan usia pembaca.
¶ Ilustrasi: gambar kaligrafi, foto kegiatan ditambah keterangan di bawahnya.
*Mading Masjid
Mading adalah salah satu jenis media komunikasi massa tulis yang paling sederhana.disebut majalah dinding karena prinsip dakwah dominan di dalamnya. Selain itu, pennyajian mading biasanya dipampang di dinding atau sejenisnya.mading mesjid berarti mading yang dipampang di masjid.
Manfaat mading masjid
¯ Media komunikasi
¯ Wadah kreativitas
¯ Menanamkan kebiasaan membaca
¯ Pengisi waktu
¯ Melatih kecerdasan berpikir
¯ Melatih berorganisasi
¯ Mendorong latihan menulis
Majemen mading masjid
« Manajemen organisasi: menurut Rachim(2006), manajemen organisasi biasanya dipimpin oleh seorang pimpinan umum, dibantu oleh beberapa seksi seperti seksi administrasi, keuangan, sponsoship, ddl., sesuai kebutuhan mading.
« Manajemen redaksional: manajemen yang bertanggung jawab langsung secara teknis terhadap proses penerbitan mading mulai dari pnyusunan tema, penyusunan materi, pencarian bhan sampai publikasi.
Pembuatan mading masjid
Hal-hal yang perlu diidskusikan dalm pembuatan mading masjid yaitu:
« Waktu terbit
« Tema
« Rubrik
Berita seputar masjid, cerpen, puisi, sahbat madding, surat pembaca, profil, dll.
« Jadwal kerja
pengumpulan materi, pemilihan materi, editing, lay out, dan menghias mading.
« Evaluasi mading
« Keberlanjutan mading masjid
Ø Media elektronik = radio dan televisi
Ø Media virtual = Islam virtual (pesantren virtual, pers Islam virtual,software Islam virtual, referensi Islam virtual, komunitas Islam virtual, dan masjid virtual).
*Islam virtual berarti Islam online (maya). Islam virtual menjadi mimbar virtual dengan jurnalisme online yakni berita yang ada diinternet.
Bentuk jurnalisme online
§ Social networking (facebook, twitter)
Sifat jurnalisme dakwah
§ Brevity (ringkas)
§ Adaptability (adaptasi)
§ Storage and retriefal (tempat penyimpanan)
§ Immarse (mudah dicerna)
§ Community (komunitas online)
*Pesantren virtual
pesantren virtual bisa berarti sebuah situs yang berisi ajaran-ajaran Islam sebagaimana yang dipelajari di pesantren, seperti fiqh,tafsir, hadits,dan sebagainya, walaupun tidak ada bentuk fisisk pesantren tersebut. Contohnya, www.pesantren virtual.com
Adapun penjelasan lain mengenai pesantren virtual yaitu pesantren yang nyata ada bangunan fisiknya dan membuka layanan internet berupa situs resmi pesantren yang mana memuat beberapa info tentang pesantren, kegiatan pesantren serta kajian keagamaan dipesantren. Contohnya, http://www.pstkhzmusthafa.or.id.
Kelebihan pesantren virtual
· Bisa menyebarkan dakwah lebih luas, tidak terbatas oleh ruang.
· Melatih kreativitas menulis santri.
Kekurangan pesantren virtual
· Beberapa situs pesantren hanya memuat kalender Masehi, sedangkan kalender Islam (baca:Hijriah tidak dimuat).
· Kekurangan pesantrenbisa diketahui oleh khalayak ramai, karena dunia maya tidak memiliki batasan ruang.
* software Islam virtual : software berisi ajaran-ajaran Islam seperti zakat, waris, bahasa Arab,dll.
Kelebihan : memudahkan kita mengetahui ajaran Islam seperti berapa besar zakat yang harus kita berikan dan lainnya.
Kekurangan : tidak bisa dipercai sepenuhnya sebab ada kemungkinan penyimpangan ajaran.
*Pers Islam Virtual : pers yang mengemban persaudaraan muslim dengan membawa misi perjuangan penegakan syariat Islam.
Kelebihan Pers Islam Virtual
· Mengetahui berita seputar dunia Islam yang sedang hangat-hangatnya.
· Menggali informasi tentang Islam (sharing).
· Lebih cepat dan mudah diakses.
· Bisa konsultasi secara online.
Kekurangan Pers Islam Virtual : mengundang adanya berita negatif tentang Islam di dunia maya.
*Referensi Islam Virtual : rujukan tentang Islam secara online.
Manfaat Jurnalisme Dakwah Dalam Kajian Ilmu dakwah
Islam adalah agama dakwah, artinya agama yang selalu mendoron g pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah. Maju mundurnya umat Islam sangat bergantung dan berkaitan erat denga kegiatan dakwah yang dilakukannya. Karena itu, dakwah memiliki posisi yang tinggi dan mulia dalam kemajuan agama Islam. Tidak dapat dibayangkan apabila kegiatan dakwah mengalami kelumpuhan yang disebabkan berbagai factor terlebih pada era globalisasi sekarang ini. Dimana berbagai informasi masuk dengan cepat dan instan yang tidak dapat dibendung lagi.
Jurnalisme dakwah memberikan banyak manfaat bagi kajian ilmu dakwah khususnya dalam hal metode dakwah. Metode dakwah yang terdiri dari khitobah (ceramah), kitabah (tulisan), dan i’lam (penyiaran) tidak cukup disampaikan secara manual, tetapi harus disampaikan leawat media massa baik media elektronik, media cetak, maupun media virtual.
Jurnalisme dakwah yang terdiri dari unsur jurnalisme dan dakwah dapat memberikan khasanah ilmu dalam kajian dakwah berupa pemahaman kejurnalistikan dalam dakwah. Amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi inti dari kegiatan dakwah bisa dieksplor lewat media massa.
Dengan adanya jurnalisme dakwah, pesan tidak hanya disampaikan secara lisan lewat mimbar, tetapi juga lewat tulisan yang bisa disebar secara luas. Ini berarti melatih dai untuk dakwah bil qolam. Dakwah bil qolam memberikan keefektifan dalam berdakwah sebab jika melalui mimbar atau ceramah yang menerima pesan hanyalah yang hadir pada acara ceramah itu saja, itupun yang mendengarnya secara seksama, tetapi jika dakwah melelui tulisan yang menerima pesan dakwah bisa siapa pun yang membaca tulisan dakwah tersebut. Selain itu, jika pembaca lupa lagi terhadap isi pesan dakwahnya bisa dibaca kembali kapanpun dan di manapun.
Dakwah Islam, dakwah yang bertujuan untuk memancing dan mengharapkan potensi fitri manusia agar eksistensi mereka punya makna di hadapan Tuhan dan sejarah.
Oleh sebab itu, agar dakwah dapat mencapai sasaran-sasaran strategis jangka panjang, maka tentunya diperlukan suatu system manajerial jjurnalistik, yang dalam banyak hal sangat relevan dan terkait dengan nilai-nilai dakwah. Dengan adanya kondisi seperti itu, maka para da’I harus mempunyai keterampilan yang mendalam, bukan saja menganggap bahwa dakwah dalam frame “amar m’ruf nahi munkar” hanya sekedar menyampaikan saja, melainkan harus memenuhi beberapa syarat, diantaranya mencari materi yang cocok, mengetahui tema dakwah yang up date, menggunakan bahasa yang bijaksana dan sebagainya. Semua itu akan berwaran jika disertai dengan jurnalisme dakwah.
Jurnalisme dakwah pun membuat pesan bisa dikemas secara menarik dalam bentuk news (berita, feature), dan views (artikel, kolom, dan editoria). Dengan membuat berita, Islam bisa di kabarkan sebagai rahmatan lil’alamiin sehingga menjadi penghalau adanya sikap phobia terhadap Islam. Begitu juga dengan penulisan feature, bahasa dakwah diperkaya oleh bahasa sastra. Sehingga mad’u mendapatkan hidangan sastra yang juga bermuatan dakwah dalam bentuk artikel sastra.
Artikel dakwah yang ditulisa da’i pun bisa mengarahkan pemikiran mad’u sesuai apa ditulisa da’i. Karena artikel bersifat mempengaruhi, mendidik, dan juga bisa menghibur mad’u yang membacanya. Dakwah bil qalam memiliki kelebihan berupa bebas berdakwah tanpa adanya kata “sebentar dulu” atau “nanti dilanjutkan” dan lainnya. Da’i dapt terus menerus menyampaikan dakwahnya hingga mad’u lelah membaca.
Peranan Jurnalisme Dakwah Terhadap Jurnalis Muslim
Memberikan pembekalan pada jurnalis muslim untuk memiliki kemampuan melek media yang dikenal dengan istilah media literacy. Sehingga mampu memfilter mana berita yang benar dan mana berita yang tidak benar seputar Islam yang akan disampaikan kepada masyarakat.
Jurnalis muslim juga disadarkan untuk membangun peradaban berawal dari masjid.sehingga tidak ada cerita banyak masjid berdiri dengan megahnya tetapi tidak ada pengisinya. Jurnalis muslim ditunutun untuk memakmurkan masjid lewat tulisannya di buletin masjid dan majalah dinding (mading) masjid. Sebab siapa yang akan mengisi produk jurnalistik masjid itu kalau bukan jurnalis muslim.
Jurnalis muslim akan berhadapan dengan beragam pendapt dan warna di masyarakat. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Namun dari semua perbedaan itu sebenarnya ada titik temu diantara mereka. Kepiawaian jurnalis muslim mencari titik temu dalam heterogenitas perbedaan adalah bagian daripada hikmah.
Jurnalis muslim juga akan berhadapan dengan realitas perbedaan agama dalam masyarakat yang heterogen. Kemampuan jurnalis muslim untuk bersifat objektif pada umat lain, berbuat baik, dan bekerja sama dengan hal-hal yang dibenarkan agama tanpa mengorbankan keyakinan yang ada pada dirinya adalah bagian dari hikmah dalam dakwah.
Jurnalis yang sukses biasanya juga berangkat dari kepiawaiannya dalam memilih kata, mengolah kalimat dan menyajikannya dalam kemasan yang menarik.
Dengan jurnalisme dakwah, para jurnalis yang beagama Islam dibimbing untuk aktif menulis berita seputar dunia Islam, memajukan dakwah Islamiyah di era globalisasi ini.
Karena merupakan suatau kebenaran, maka Islam harus tersebar luas dan penyampaian kebenaran tersebut merupakan tabnggung jawaab umat Islam secara keseluruhan.sesuai dengan misinya sebagai “Rahmatan Lil Alami”, Islam harus ditampilkan dengan wajah yang menarik supaya umat lain beranggapan dan mempunyai pandangan bahwa kehadiran Islam bukan sebagai ancaman bagi eksistensi mereka melainkan pembawa kedamaian dan ketentraman dalam kehidupan mereka sekaligus sebagai pengantar menuju kebhagiaan kehidupan dunia dan akhirat.
Implikasi dari pernyataan Islam sebagai agama dakwah menutut umatnya agar selalu menyampaikan dakwah, karena kegiatan iini merupakan aktivitas yang tidak pernah usai selama kehidupan dunia masih berlangsung dan akan terus melekat dalam situasi dan kondisi apapun bentuk dan coraknya.
Jurnalis muslim pun menjadi bagian dari umat Islam sebagimana telah dijelaskan sebelumnya. Mereka menjadi duta Islam yang harus menjadikan mad’unya sebagai mitra dalam berdakwah. Ia menulis, meliput, dan memberitakan Islam, sementara mad’unya mengamalkan ajaran Islam yang disampaikann
Peranan jurnalisme dakwah terhadap media massa
A. Peranan jurnalisme dakwah terhadap media cetak
Media cetak memiliki pengaruh yang sangat penting dalam kestabilan sosial. Dengan adanya jurnalisme dakwah, maka media cetak memiliki warna yang lebih variatif. Selain itu, wajah media cetak pun lebbih berparas Islami.
Jurnalisme dakwah dapat menjadi “agent” penghalau adanya hegemoni budaya Barat lewat media cetak. Arus globalisasi yang kian menderas merubah budaya manusia. Banyak media ceetak yang senang mengambil tema sekulerisme meski ada di dunia timur.. sehingga pembaca pun mengikuti pemikiran itu. Khalayak kian jauh dari budaya asli ketimuran.
Contoh lainnya, di saat Kompas, Bali Pos, dan media lainnya mengecam Islam saat terjadi pengeboman Bali, sehingga citra Islam menjadi buruk, maka Republika hadir dengan informasinya seputar Islam yang dapt mencegah perusakan citra Islam itu.
Majalah pun tak lepas dari peranan jurnalisme dakwah. Banyak majalah terbit yang bernuansa Islami, seperti ANIDA, AL-WA’I, UMMI, dan lainnya. Buletin juga mengalami kemujuan yang pesat. Sekarang ini banyak masjid mulai menerbitkan produk jurnalisnya dengan membuat buletin. Perkembangan ini pun pempengaruhi ketertarikan lembaga-lembaga Islam untuk menerbitkan buletin atau majalahnya yang Islami.
Perusahaan yang bergerak dalam media cetak juga banyak yang gila iklan, sehingga nilai komersialisme lebih mendominasi media itu dari pada nilai idealismenya. Karena itu, jurnalisme dakwah dapat membawa media mempertahankan idelisme jurnalistik.
B. Peranan jurnalisme dakwah terhadap media Elektronik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar