Sabtu, 18 Juni 2011

* Resensi dan Analisis Film Sang Pencerah



*      Resensi dan Analisis Film Sang Pencerah
       
Judul resensi: Sang Pembaru dari Kauman                           
 Jenis film: Drama.
Sutradara: Hanung Bramantyo.
Penulis: Hanung Bramantyo.
Pemain: Lukman Sardi, Slamet Rahardjo, Zaskia Adya                                Mecca, Giring, Ihsan Idol, Ikranegara, Yatti                                 Surachman, Joshua Suherman.
Nama kecil Ahmad Dahlan (Lukman Sardi) adalah Muhammad Darwis (Ihsan Taroreh). Ia lahr dari pasangan orang ttua yang dikenal sebagai pemuka agama. ayahnya, Kyai Haji Abu Bakar, adalah serang khatib dan Imama besar di Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta. sedangkan ibunya anaka seorang penghulu bernama Haji Ibrahim. silsilah keturunannya menunjukkan bahwa ia mempunya keturunan priyayi dan kyai sekaligus.
Pada tahun 1890, pada usia yang masihh remaja Muhammad Darwis diminta oleh ayahnya untuk menunaikan ibadah haji sambil memperdalam ilmu agama Islam di tanahh suci. Saat Muhammad Darwis berangkat ke tanah suci sang ayah berkata padanya untuk pulang dengan membawa perubahan.
Kembali di tanah air, Muhammad Darwis mengubah namaya menjadi Ahmad Dahlan, dan demikian bersemangat untuk sebuahh cita-cita melakukan pemikiran dan pemahaman Islam. Ia mengawali cita-citanya itu dengan mengubah arah kiblat pada arah yang sebanarnya.
Namun praktek pembaharuan yang dialkukan Ahmad Dahlan tidak semudah yang diharapkan. Untuk yang pertama ia gagal merealisasikan perubahan arah kiblat di masjid Kesultanan Yogyakarta. Kebanyakan kaum tua menentang langkah Dahlan tersebut. Dalan kemudian berusaha mewujudkan maksud pembaharuannya itu dengan membangun langgar sendiri dan meletakkan kiblat dengan tepat. Usaha ini pun gagal karena lagi-lagi mendapat tantangan dari kaum tua. Seorang pengahulu di daerah itu bakan memerintahkan masyarakat membinasakan langgar yang dibangun Dahlan.
Dahlan tidak mampuu berbuat banyak, ia nyaris patah hati. Hampir saja Dahlan meninggalkan kota kelahiannya itu jika saja seorang anggota keluarga tidak menghalangi dan membangunkan unuknya sebuah langgar yang lain, dengan jaminan bahwa ia dapat mengajarkan pembaruan Islamnya itu sesuai keyakinannyasendiri, tanpa ada gangguan dari orang lain. Dahlan mulai berjalan. Dan ia berhasil. Keberhasilannya itu semakin menunjukkan titik cerah ketika ia mncapai keprcayaan menggantikan ayahnya sebagai khatib di Masjid Sultan.
pada tahun 1909 ahlan memasuki organisasi pergerakan Boedi Oetomo, dengan maksud memberikan pelajaran agama Islam bagi para anggotanya. dengan cara ini, ia berharap dapat mewujudkan tujuan yang lebih luas, yaitu dapat memberikan pelajaran agama di sekolah-sekolah dan kantor-kantor pemerintah.
Santri dari Kauman itu kemudian mempersiapkan diri secara matang untuk melakukan perombakan pada berbagai faham yang dianggapnya telah menimpang dari ajaran Islam. Tekadnya itu ia wujudkan dengan endirikan organisasi Islam yang diberi nama Muhammadiya.
Nama   organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW. sehingga Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Tujuan utama Muhammadiyah adalah mengembalikan seluruh penyimpangan yang terjadi dalam proses dakwah. Penyimpangan ini sering menyebabkan ajaran Islam bercampur-baur dengan kebiasaan di daerah tertentu dengan alasan adaptasi.
                        Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8          Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad         Darwis, kemudian dikenal dengan KH. A. Dahlan . Beliau adalah pegawai kesultanan    Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan          ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-            amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali          kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist. Oleh karena itu      beliau memberikan pengertian keagamaan dirumahnya ditengah kesibukannya   sebagai Khatib dan pedagang. 


Analisis Film
Sang Pencerah mengungkap sisi manusiawi seorang Ahmad Dahlan yang memang memiliki kehidupan multi warna dan kontroversial. Dari seorang kiai, pendidik hingga bermain musik. Pada masanya, dia bahkan dianggap kafir. Tetapi beberapa orang yang berfkiran terbuka dan banyak anak-anak muda yang kritis menyukai caranya.
Sebagaimana yang disinggung sebelumnya, sepulang dari Mekah, Darwis muda (Ihsan Taroreh) mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan. Seorang pemuda usia 21 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah Bid’ah atau sesat. 
Melalui langgar atau surau nya Ahmad Dahlan (Lukman Sardi) mengawali pergerakan dengan mengubah arah kiblat yang salah di Masjid Besar Kauman yang mengakibatkan kemarahan seorang kyai penjaga tradisi, Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) sehingga surau Ahmad Dahlan dirobohkan karena dianggap mengajarkan aliran sesat. Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai Kafir hanya karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda. 
Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo. Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut. Dengan ditemani isteri tercinta, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan lima murid murid setianya : Sudja (Giring Nidji), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adishwara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman. 
Dengan diadakannya film ini, tidak hanya untuk umat Muhammadiyah saja tetapi umat muslim di seluruh Indonesia pun diharapkan agar sadar dan melihat siapa musuh terbesar saat. Bukan orang-orang kafir atau mereka yang lain agama dengan kita. Sedangkan kita, sebagai umat muslim yang masih bodoh dan buta akan arti Islam sesungguhnya. 
Al-muslimu mahjũbun bil muslimin. Sebuah kutipan yang disampaikan Ahmad Dahlan kepada muridnya ketika membahas terpuruknya kondisi umat muslim saat itu. Bahwa yang membuat Islam hancur adalah umat muslim itu sendiri. Maksudnya adalah sikap dan perilaku umat muslim yang tidak sesuai ajaran agama Islam dan Al-Qur’an serta apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. 
Maka dari itu, kita sebagai umat muslim yang utuh, yang masih mempunyai akal yang sehat serta pemikiran yang cemerlang. Sebaiknya tahu bagaimana kondisi umat muslin di jaman penjajahan dahulu. Serta bagaimana Muhammadiyah berupaya keras melawan kondisi masyarakatnya yang kontra. Dari buku dan film inilah semuanya akan didapatkan. Mari sama-sama kita menjadikan bangsa ini yang mempunyai akal yang cerdas dan akhlak yang baik serta pemikiran yang berkembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

*A. Rojabi..."aLways come to discussion" *Abu Nurjihad..."saywhat do you think" *Anas Abdul Razak..."Islamic communication and broadcasting is the best" *Arum Ningsih..."Always SPIRIT" *Asep Wildan Setiawan..."don't be lazy"