SEMARAK DAKWAH LEWAT MIMBAR
from A. Rojabi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejarah perkembangan Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran para wali sebagai ulama penyebar ajaran Islam. Yang cukup menarik untuk disimak adalah cara mereka mengajarkan Islam. Masyarakat semasa itu sebagian besar memeluk agama Hindu. Para wali tak langsung menentang kebiasaan-kebiasaan yang sejak lama menjadi keyakinan masyarakat. Salah satunya adalah wayang.
Sebelum Islam masuk ke tanah Nusantara, khususnya di Jawa, wayang telah menemukan bentuknya. Bentuk wayang pada awalnya menyerupai relief yang bisa kita jumpai di candi-candi seperti di Prambanan maupun Borobudur. Pagelaran wayang sangat digemari masyarakat. Setiap pementasannya selalu dipenuhi penonton.
Para wali melihat wayang bisa menjadi media penyebaran Islam yang sangat bagus. Namun, konon timbul perdebatan di antara para wali mengenai bentuk wayang yang menyerupai manusia. Setelah berembug, akhirnya mereka menemukan kesepakatan untuk menggunakan wayang sebagai media dakwah tetapi bentuknya harus diubah.
Bentuk baru pun tercipta. Wayang dibuat dari kulit kerbau dengan wajah yang digambarkan miring, leher yang panjang, serta tangan yang dibuat memanjang sampai ke kaki. Bentuk bagian-bagian wajah juga dibuat berbeda dengan wajah manusia.
Tak hanya bentuknya saja, ada banyak sisipan dalam cerita dan pemaknaan wayang yang berisi ajaran-ajaran dan pesan moral. Dalam lakon Bima Suci misalnya, Bima sebagai tokoh sentralnya diceritakan menyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Esa itulah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Tak berhenti di situ, dengan keyakinan itu Bima mengajarkan kepada saudaranya, Janaka. Lakon ini juga berisi ajaran-ajaran tentang menuntut ilmu, bersikap sabar, berlaku adil dan bertatakrama dengan sesama manusia.
Cara tabligh yang diterapkan para wali tersebut terbukti efektif. Masyarakat menerima ajaran Islam tanpa ada pertentangan maupun penolakan. Ajaran Islam tersebar hampir di seluruh tanah Jawa. Penganut Islam kian hari kian bertambah, termasuk para penguasanya.
Wayang pun kian sering dipentaskan. Tak hanya pada upacara-upacara resmi kerajaan, masyarakat secara umum pun kerap menggelarnya. Karena banyak ajaran moral dan kebaikan dalam lakon-lakonnya, wayang tak hanya dianggap sebagai tontonan saja, tapi juga menjadi tuntunan. (imam)
Dewasa ini wayang berlahan semakin meredup kiprahnya sebagai media tabligh. Kini era telah modern, banyak media-media massa yang lebih simple, efektif, dan cepat dalam mengkomunikasikan ajaran islam khususnya. Media tabligh pun mengikuti perkembangan zaman itu sendiri dan mengikuti media-media massa itu.
Diantara media itu adalah mimbar. Media tabligh yang sering kali dispesialisasikan sebagai podium yang ada di mesjid saja. Padahal, dewasa kini kata mimbar mengalami generalisasi sebagai tempat tabligh di podium baik di masjid maupun di lapangan atau panggung-panggung untuk dakwah.
Lantas seperti apakah semarak tabligh lewat mimbar? Berikut Kami uraikan penjelasannya.
1.2 Tujuan penyusun makalah
Tujuan menyusun mAkalah ini yaitu:
a. mengetahui fenomena dakwah dalam mimbar
b. mengetahui perkembangan mimbar
c. mengenal para mubalugh yang berhasil dengan dakwah lewat minbar.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Fenomena Mimbar
mimbar (bahasa Arab: منبر) dalam kaidah bahasa Arab berasal dar kalimat nabara-yanbiru-nabran-manbarun-nabirun-manbirun-inbar-la tanbar-minbarun-minbarun. Mimbar adalah podium di masjid di mana imam (pemimpin doa) berdiri untuk memberikan ceramah (khutbah خطبة) atau di Hussainia tempat pembicara duduk di depan jemaah. Kata mimbar adalah turunan dari akar kata nabara berarti 'untuk meningkatkan, meningkatkan'; bentuk jamak Arab manābir (bahasa Arab: منابر).
Sementara mimbar biasanya memiliki fungsi lebih mirip dengan sebuah podium, menekankan kontak dengan penonton. Mimbar biasanya berbentuk seperti sebuah menara kecil dengan atap runcing dan tangga menuju ke sana. Beberapa percaya dekorasi itu adalah bagian dari sunnah, bahkan mimbar Nabi Muhammad hanya memiliki platform dengan 3 langkah. mimbar ini terletak di sebelah kanan mihrab, ceruk yang menunjukkan arah sholat yaitu menuju Mekah (www.wikipedia.org).
Mimbar merupakan media dakwah yang paling populer dimasyarakat, baik masyarakat pinggiran maupun masyarakat perkotaan. Mimbar biasa digunakan pada saat khutbah Jum'at, Idul Fitri, Idul Adha dan pengajian-pengajian hari besar Islam baik di Kampung maupun di masjid-masjid, bahkan di hotel-hotel atau di gedung-gedung.
Tujuan khutbah dengan menggunakan mimbar adalah agar jama'ah dapat lebih terfokus pada satu pandangan. Mimbar biasanya di buat lebih tinggi dari lantai dengan tujuan agar penceramah bisa melihat secara langsung kepada jama'ah. Masjid-masjid besar biasanya menyediakan media elektronik diluar masjid dengan tujuan agar jama'ah yang berada diluar masjid tetap dapat melihat yang khutbah.
Dari segi model mimbar ada dua macam, yaitu: Mimbar bertangga (terbuka) dan mimbar tidak bertangga (tertutup). Mimbar yang memiliki tangga biasanya yang khutbah membawa tongkat sedangkan mimbar yang tidak bertangga yang khutbah tidak membawa tongkat (http://muslimheadscarf.blogspot.com).
2.2 Perkembangan Tabligh Lewat Mimbar
Seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, ragam aktivitas tabligh pun kini semakin meningkat. Jam terbang dan masa tayang para mubalig (atau da’i) juga semakin padat. Selain mimbar-mimbar
masjid dan langgar, dewasa ini rumah, kantor, gedung pertemuan, radio, TV, internet bahkan ponsel pun telah jadi media dakwah populer. Untungnya,
mubalig-mubalig baru pun terus bermunculan mengimbangi pertumbuhan media dakwah dari waktu ke waktu.
masjid dan langgar, dewasa ini rumah, kantor, gedung pertemuan, radio, TV, internet bahkan ponsel pun telah jadi media dakwah populer. Untungnya,
mubalig-mubalig baru pun terus bermunculan mengimbangi pertumbuhan media dakwah dari waktu ke waktu.
Awalnya mimbar menjadi media dakwah tradisional yang hanya ada mike (sound system), mimbar dalam bentuk ukiran kayu.
Kini mimbar secara universal berkembang dengan adanya tabligh di podium yang juga menggunakan teknologi seperti infocus. Saat menyampaikan pesan berupa peringatan akan dosa-dosa, mubaligh dapat menampilakan slide atau film indie yang mendukung penyampaian pesannya.
Mimbar pun dapat dipadukan dengan media modern. Perpaduan di sini di maksudkan dengan pemakaian media tradisional dan media modern dalam satu proses tabligh. Contohnya, khutbah Idul Fitri dari Istiqlal yang ditayangkan televisi dan dipostingkan lewat internet.
Karena itu meskipun dakwah lewat media massa baik cetak maupun elektronik dan media virtual berkembang pesat, tabligh dengan mimbar masih tetap digelar dimana-mana.
2.3 Teknik Tabligh Lewat Mimbar
Tabligh lewat mimbar bisa menggunakan beberapa teknik sebagai berikut.
Tabligh informatif bila ia sekedar“memberitahu” umat tentang, misalnya, rukun-rukun agama, hal-hal yang wajib, sunnat, haram dst dalam
Islam, sifat-sifat dan amalan-amalan Rasul yang perlu diteladani, cara berwudu’ yang benar, dsb. Di sini, keterlibatan komunikator dengan pesannya bukan kemestian. Pesan-pesan mubalig tak mesti telah pula
dia amalkan dengan baik. Peran mubalig sekedar penyampai saja (komunikator, Arab: muballigh). Kebetulan saja sang mubalig lebih paham masalah terkait daripada khalayaknya, misalnya karena berlatar
belakang pendidikan agama. Para mubalig junior minim “pengamalan” keagamaan tampaknya merasa nyaman dan aman dengan dakwah jenis ini.
Islam, sifat-sifat dan amalan-amalan Rasul yang perlu diteladani, cara berwudu’ yang benar, dsb. Di sini, keterlibatan komunikator dengan pesannya bukan kemestian. Pesan-pesan mubalig tak mesti telah pula
dia amalkan dengan baik. Peran mubalig sekedar penyampai saja (komunikator, Arab: muballigh). Kebetulan saja sang mubalig lebih paham masalah terkait daripada khalayaknya, misalnya karena berlatar
belakang pendidikan agama. Para mubalig junior minim “pengamalan” keagamaan tampaknya merasa nyaman dan aman dengan dakwah jenis ini.
Berikutnya, tabligh penyadaran yang biasanya disarati ajakan-ajakan normatif-persuasif. Misalnya, agar umat bertaubat, mengamalkan Islam secara teguh dan utuh, atau kembali ke ajaran Islam “yang benar.” Asumsinya,
umat telah banyak berbuat dosa, lalai dari kewajiban keagamaan, atau tersesat dari jalan lurus. tabligh jenis ini pun kerap diterima di mimbar-mimbar masjid dan biasanya hanya bisa efektif buat mubalig-mubalig senior yang telah memiliki cukup otoritas, kredibilitas, dan integritas di mata umat serta menguasai psikologi mereka.
umat telah banyak berbuat dosa, lalai dari kewajiban keagamaan, atau tersesat dari jalan lurus. tabligh jenis ini pun kerap diterima di mimbar-mimbar masjid dan biasanya hanya bisa efektif buat mubalig-mubalig senior yang telah memiliki cukup otoritas, kredibilitas, dan integritas di mata umat serta menguasai psikologi mereka.
Lalu, ada tabligh rekreatif, orientasinya kebanyakan menghibur. Tentu saja muatan informatifnya tetap ada (semacam infotainment), juga normatifnya. Tapi karena kecenderungan sang mubalig lebih banyak menghibur atau menyenangkan pendengar, unsur ‘entertainment’-nya lebih mencuat lalu nilai informasi dan edukasinya tergeser. Kemampuan berakting, berolah vokal dan berolah humor menggantikan kefasihan melafalkan Al-Qur’an dan Hadis.
Selera pendengar cenderung lebih menentukan tema dan muatan tabligh sang mubalig. Padahal, agar menarik, tabligh tak mesti selalu
disarati guyonan. Apalagi, niat digemari pendengar lewat tabligh jenis ini ada bahayanya juga. Niat mubaligh bisa saja tak lagi ikhlas (ria) karena
mengharap pujian. Terbersit hasrat menarik lebih banyak penggemar atau pengagum. Celakanya, umat pun lebih mempavoritkan mubalig kaya anekdot dan humor (tidak selalu berarti humoris!). Tak jarang, para mubalig pavorit pun lalu berupaya tampil seperti selebriti, lengkap dengan segala aksesorisnya (misalnya, HP keluaran terakhir).
disarati guyonan. Apalagi, niat digemari pendengar lewat tabligh jenis ini ada bahayanya juga. Niat mubaligh bisa saja tak lagi ikhlas (ria) karena
mengharap pujian. Terbersit hasrat menarik lebih banyak penggemar atau pengagum. Celakanya, umat pun lebih mempavoritkan mubalig kaya anekdot dan humor (tidak selalu berarti humoris!). Tak jarang, para mubalig pavorit pun lalu berupaya tampil seperti selebriti, lengkap dengan segala aksesorisnya (misalnya, HP keluaran terakhir).
Lalu, karena lebih tertarik dan terkesan guyonan dan anekdot sang mubalig, khalayak akhirnya lupa jika tidak gagal sama sekali menangkap substansi pesan dakwah. Lebih tragis lagi jika agar tetap disenangi umat, mubalig pun terpaksa banyak melakukan eufimisme (penghalusan bahasa) atau mencarikan dalil agama yang bisa mengecilkan kadar dosa, kelalaian dan kesalahan mereka.
Ada juga tabligh reaktif dan konfrontatif. Intinya, mencela, menghujat atau memancing ketidaksenangan atas pihak tertentu (misalnya, tokoh, mazhab, partai politik, organisasi keagamaan dan kelompok yang berbeda atau tak disenangi). Maka, mimbar masjid tak jarang jadi forum pengadilan dan hujatan teologis terhadap paham keislaman kelompok Muslim yang lain, atau atas kebenaran doktrin-doktrin agama lain. Kalangan Muslim modernis, misalnya, mencela prilaku atau menghujat paham keislaman saudara mereka yang dipandang tradisionalis atau fundamentalis, dan sebaliknya. Padahal, perdebatan mereka kerapkali hanya seputar masalah-masalah furu’iyah (cabang) dalam ibadah, seperti qunut, jumlah azan jumat dan rakaat tarawih, pembacaan barzanji, dll. Bukan tentang masalah-masalah fundamental agama (ushuliyyah, pokok) di mana terdapat banyak titik temu antara beragam paham dan mazhab.
Tidak jarang, tabligh juga disarati ancaman dan hukuman. Peringatan akan siksa pedih neraka bagi para pendosa dan kenikmatan surga bagi pelaku kebaikan, dalam kasus tertentu, memang memiliki pijakan-pijakan Qur’ani. Tapi, dakwah yang melulu dimuati pesan ancaman dan balasan seperti ini cenderung kontraproduktif.
Di mata umat, hidup bisa jadi tampak suram dan agama terasa hanya beban yang membelenggu jiwa. Seakan tujuan akhir hidup duniawi hanyalah, jika bukan surga maka neraka. Sesederhana itu. Maka terbentuklah etos takut hukuman dan pamrih pahala, bukan pengetahuan, cinta kasih dan keikhlasan. Akibatnya, orang berbuat baik bukan karena menyadari kebaikan intrinsiknya bagi hidup duniawinya yang konkret (individual maupun sosial), tapi karena kewajiban dan hasrat menimbun pahala ukhrawi. Padahal bukankah, meminjam ungkapan Dr. Abdul Munir Mulkhan, agama ini diturunkan Tuhan demi memenuhi kebutuhan manusia, tidak sebaliknya, agama demi Tuhan. Dengankata lain, sekalipun seluruh manusia durhaka kepada Tuhan, Dia takkan apa-apa. Karena itu, agama seharusnya diorientasikan (atau dimanfaatkan) untuk sebesar-besar kemaslahatan manusia (http://www.geocities.com).
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
v Awalnya mimbar menjadi media dakwah tradisional yang hanya ada mike (sound system), mimbar dalam bentuk ukiran kayu.
v Kini mimbar secara universal berkembang dengan adanya tabligh di podium yang juga menggunakan teknologi seperti infocus. Saat menyampaikan pesan berupa peringatan akan dosa-dosa, mubaligh dapat menampilakan slide atau film indie yang mendukung penyampaian pesannya.
v Mimbar pun dapat dipadukan dengan media modern. Perpaduan di sini di maksudkan dengan pemakaian media tradisional dan media modern dalam satu proses tabligh. Contohnya, khutbah Idul Fitri dari Istiqlal yang ditayangkan televisi dan dipostingkan lewat internet.
v Tabligh lewat mimbar bisa dilakukan dengan teknik Tabligh informatif, tabligh penyadaran , tabligh rekreatif , tabligh reaktif dan konfrontatif.
DAFTAR PUSTAKA
Aliyudi. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Dakwah. Bandung: UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
An-Nabiry, Fathul Bahri. 2008. Meniti Jalan Dakwah. Jakarta: Amzah.
Safei, Agus Ahmad. 2002. Hijrah Menuju Cahaya . Bandung: Pustaka Setia.
http://muslimheadscarf.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar