ANALISIS DEFINISI ILMU
Oleh Arum Ningsih
Syarif Ali bin Muhammad Al-Jurjani mengemukakan pengertian ilmu sebagai berikut.
Suatu keyakinan yang pasti sesuai dengan kenyataan.
Suatu hal bisa dikatakan ilmu jika merupakan suatu keyakinan yang pasti. Keyakinan yang pasti sesuai dengan kenyataan bukan keyakinan yang berdasar pada kepercayaan (mitos), bukan pula keyakinan yang berdasar pada perasaan (instink).
Definisi ini sudah mengacu pada kebenaran, tetapi kurang tepat untuk menjelaskan pengertian daripada ilmu. Keyakinan yang pasti bisa berarti benar, namun belum tentu ilmiah. Meskipun sesuai dengan kenyataan. Kebenaran ilmiah ditandai dengan syarat-syarat ilmiah, terutama menyangkut adanya teori yang menunjang dan sesuai dengan bukti. Kebenaran ilmiah ditunjang oleh rasio dan kebenarannya rasional berdasarkan teori yang menunjangnya kebenaran ilmiah divalidasi oleh bukt-bukti empiric, yaitu hasil pengukuran objektif di lapangan sifat objektif berlaku umum, dapat diulang melalui eksperimentasi, cenderung amoral sesuai apa adanya, bukan apa yang seharusnya, yang merupakan cirri ilmu pengetahuan sebagaimana yang dijelaskan oleh Sutardjo A Wiramihardja.
Suatu keyakinan sesuai dengan kenyataan belum bisa dikatakan ilmiah karena masih bias seperti apa metode yang digunakan untuk mendapat keyakinan itu.
Perolehan gambaran sesuatu yang terdapat dalam akal.
Maksud dari redaksi ini sudah memiliki key word dalam mengartikan ilmu. Key word yang dimaksud adalah akal. Yang disebut dengan ilmu haruslah rasional. Dan rasionalitas itu adanya pada akal. Tetapi, ilmu tidak cukup dengan rasio saja sesuatu bisa dikatakan ilmu jika terdapat pengalaman yang empiris.ilmu mencakup rasionalisme dan empirisme.
Immanuel Kant memandang rasionalisme dan empirisme senantiasa berat sebelah dalam menilai akal dan pengalaman sebagai sumber pengetahuan ia mengatakan bahwa penganalan manusia merupakan sintesis antara unsure-unsur apriori (bentuk) dan unsure-unsur aposteriori (materi). Kant tidak menentang adanya akal murni. Ia hanya menunjukkan bahwa akal murni itu terbatas. Akal murni hanya menunjukkan pengetahuan tanpa dasar inderawi atau independen dari alat pancaindera. Pengetahuan inderawi tidak dapat menjangkau hakikat objek, tidak sampai pada kebenaran umum. Adapun kebenaran umum harus bebas dari pengalaman, artinya harus jelas dan pasti dengan sendirinya. (Will Durant, The Story of Philosophy, 1959:261-262).1)
Kebenaran apriori diperoleh melalui struktur jiwa kita yang inheren. Secara aktif, jiwa mengordinasi sensasi-sensasi yang masuk dalam ide. Oleh karena itu, pengenalan masuk ke dalam subjek, bukan pada objek ada tiga tahap pengenalan, yaitu: pertama, pengenalan dalam tahap indera. Pengenalan sebagai sintesis antara unsure-unsur apriori (bentuk) dan unsure-unsur aposteriori (materi). Pada tahap indera yang menjadi unsure apriori adalah kesan-kesan atau cerapan-cerapan inderwi yang diterima dari subjek yang tampak, pengenalan taraf indera hanyalah penampakkan cahaya atau fenomenon. Oleh karena itu, apa yang dilihat bukanlah bentuk yang sesungguhnya, melainkan hanyalah salinan dan pembentukan benda yang terlihat dalam daya-daya fisikal dan metafisikal yang disebut dengan “penampakkan” (Niko Syukur, 1992:64-65).
Kedua, pengenalan dalam “taraf akal”. Immanuel Kant membedakan akal (verstand) dari rasio dan budi (vernuft) tugas akal ialah mengatur data-data inderawi, yaitu dengan mengemukakan “putusan-putusan”. Sebagaimana ketika kita melihat sesuatu, suatu itu ditransmisikan ke dalam akal, selanjutnya akal memberi kesan. Hasil indera diserap sedemikian rupa oleh akal, selanjutnya akal bekerja dengan daya fantasi untuk menyusun kesan-kesan itu sehingga menjadi suatu gambar yang dikuasai oleh bentuk ruang dan waktu. Pengenalan pada taraf akal ini merupakan sintesis antara bentuk dan materi materi adalah data-data inderawi, sedangkan bentuk adalah pengertian-pengertian apriori yang terdapat pada akal.
Ketiga, pengenalan pada taraf rasio tugas rasio adalah memberikan argument bagi putusan-putusan yang telah dibuat oleh akal. Akal menggabungkan data-data inderawi dengan mengadakan putusan-putusan.
Demikian gagasan Immanuel Kant dalam memandang rasionalisme dan empirisme.
Ilmu tidak cukup diartikan Perolehan gambaran sesuatu yang terdapat dalam akal. Justru pengartian ini dapat mengarah pada definisi filsfat. Sebab filsafatlah yang mempelajari sesuatu yang terdapat dalam akal tepatnya usaha memperoleh jawaban dari pertanyaan terakhir.
Hasil pemahaman sesuatu sesuai dengan apa adanya (secara objektif).
Ilmu haruslah sesuai dengan apa adanya (objektif). Jika ilmu didefinisikan sebagai hasil pemahaman sesuatu dengan apa adanya (objektif), maka sama dengan pengetahuan. Diamana pengetahuan pun merupakan pemahaman sesuatu. Padahal ilmu berbeda dengan pengetahuan. Ilmu meliputi pengetahuan. Tetapi pengetahuan tidak meliputi ilmu. Sudah semestinya ilmu itu pemahaman sesuatu sesuai penelitian empiris
Hilangnya kesamaran/ keraguan dalam menjelaskan objek yang sedang dijelaskan.
Redaksi ini dapat mewakili definisi daripada ilmu. Hilangnya keraguan merupakan suatu keyakinan. Tetapi, dengan apa hilangnya keraguan itu? Inilah yang perlu ditambahkan dalam definisi ilmu. Sebab bisa saja keraguan itu hilang karena perasaan-perasaan yang berarti hanyalah instink. Padahal, ilmu tidak bisa berdasarkan instink tetapi harus berdsar pada teori, metode dan penelitian yang empiris
Sifat yang mengikat pada jiwa yang dapat mengetahui sesuatu secara global dan parsial.
Pengertian ilmu pada poin kelima ini lebih condong pada gagasan dalam diri manusia.
Merujuk pada penjelasan Benni Ahmad Saebani mengenai gagasan dalam pikiran manusia yang membentuk penalaran, merupakan alat mencari solusi bagi masalah yang dihadapi setiap hari atau mungkin setiap detak jantung manusia. Sebagai suatu kegiatan berpikir, penalaran mempunyai cirri-ciri tertentu. Ciri yang pertama ialah adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika dengan demikian setiap penalaran dapat disebut logika. Dengan demikian, setiap penalaran memiliki logika masing-masing, atau dalam bahasa Jujun Suriasumantri, kegiatan penalaran merupakan suatu proses berpikir logis, yakni berpikir dengan mengikuti hukum logika tertentu.
Ciri kedua dari penalaran adalah sifat analitik dari proses analitik. Gagasan pun bisa terlahir dari perasaan yang peka yang disebut dengan intuisi.intuisi merupakan suatu kegiatan berpikir yang non analitik yang tidak mendasarkan diri kepada suatu pola berpikir tertentu.
Karena itulah,sifat yang mengikat pada jiwa yang dapat mengetahui sesuatu secara global dan parsial bisa menjadi definisi ilmu jika berupa gagasan yang logis, analitik serta empiric.
Sampainya jiwa pada makna sesuatu.
Pengertian ilmu sebagai sampainya jiwa pada makna sesuatu masih bias maknanya. Bisa saja makna yang dimaksud berupa intuisi yang berdasar pada perasaan bukan pada logika, analisis, dan penelitian empiris.
Keterangan mengenai penyandaran yang khusus antara yang memahami dan yang dipahami.
Definisi ini sapat dipahami sesungguhnya ilmu bergantung pada cara kerja indera-indera masing-masing individu dalam menyerap pengetahuan dan juga cara berpikir setiap individu dalam memroses pengetahuan yang diperolehnya. Selain itu juga, ilmu bisa berlandaskan aktivitas yang dilakukan ilmu itu sendiri. Kita dapat melihat hal itu melalui metode yang digunakannya. Metode inilah yang menjadi penyandaran yang khusus antara yang memahami dan yang dipahami.
Keterangan mengenai sifat yang mempunyai sifat.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sifat berarti 1) rupa dan keadaan yang tampak pada suatu benda, tanda lahirian; 2) peri keadaan yang menurut kodratnya ada pada sesuatu (benda, orang, dsb.); 3) ciri khas yang ada pada sesuatu (untuk membedakan dari yang lain); dasar watak (dibawa sejak lahir, tabiat.
Secara redaksi definisi ilmu sebagai Keterangan mengenai sifat yang mempunyai sifat.dapt dijelaskan ilmu merupakan keterangan mengenai rupa dan keadaan yang tampak pada suatu benda yang mempunyai peri keadaan yang menurut kodratnya ada pada sesuatu (benda, orang, dsb). Jika seperti itu, maka timbul pertanyaan, bagaimana dengan hal gaib? Bagaimana dengan Ilmu pellet, ilmu sihir dan lainnya? Apakah hal yang gaib itu bisa disebut ilmu?
Sebenarnya sifat yang seperti apakah yang mengartikan ilmu? Di sinilah perlunya dijelaskan sifat yang dimaksud dalam redaksi keterangan mengenai sifat yang mempunyai sifat.
Pencapaian objek tahu yang belum diketahui dengan cara meyakini atau menduga yang keadaannya bisa cocok dengan kenyataan atau sebaliknya.
Ilmu berawal dari ragu-ragu untuk mencapai kepastian dengan cara penelitian. Definisi inilah yang dinilai tepat untuk memberikan pengertian mengenai ilmu. Redaksi tersebut mencakup unsure ilmu, yaitu metode, teori dan research yang empiris.
1.Berdiri secara satu kesatuan,
2. Tersusun secara sistematis,
3. Ada dasar pembenarannya (ada penjelasan yang dapat dipertanggung jawabkan disertai sebab-sebabnya yang meliputi fakta dan data),
4. Mendapat legalitas bahwa ilmu tersebut hasil pengkajian atau riset.
5. Communicable, ilmu dapat ditransfer kepada orang lain sehingga dapat dimengerti dan dipahami maknanya.
6. Universal, ilmu tidak terbatas ruang dan waktu sehingga dapat berlaku di mana saja dan kapan saja di seluruh alam semesta ini.
7. Berkembang, ilmu sebaiknya mampu mendorong pengetahuan-pengatahuan dan penemuan-penemuan baru. Sehingga, manusia mampu menciptakan pemikiran-pemikiran yang lebih berkembang dari sebelumnya.
Dari penjelasan di atas, kita dapat melihat bahwa tidak semua pengetahuan dikategorikan ilmu. Sebab, definisi pengetahuan itu sendiri sebagai berikut: Segala sesuatu yang datang sebagai hasil dari aktivitas panca indera untuk mengetahui, yaitu terungkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadapnya, sedangkan ilmu menghendaki lebih jauh, luas, dan dalam dari pengetahuan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar