PRINSIP-PRINSIP BAHASA TABLIGH MENURUT AL-QURAN
DALAM BENTUK PERKATAAN
(A.Rojabi)
A. Qoulan Baligha (Perkataan yang Membekas pada Jiwa)
Ungkapan qoulan baligha terdapat dalam surat An-nisa ayat 63 dengan firman- Nya:
y7Í´¯»s9'ré& úïÉ©9$# ãNn=÷èt ª!$# $tB Îû óOÎhÎqè=è% óÚÌôãr'sù öNåk÷]tã öNßgôàÏãur @è%ur öNçl°; þ_Îû öNÎhÅ¡àÿRr& Kwöqs% $ZóÎ=t
“ Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.”
Yang dimaksud ayat diatas adalah perilaku orang munafik. Ketika diajak untuk memahami hukum Allah, mereka menghalangi orang lain untuk patuh (ayat 61). Kalau mereka mendapat musibah atau keccelakaan karena perbuatan mereka sendiri, mereka dating memohon perlindungan atau bantuan. Mereka inilah yang perlu dihindari, diberi pelajaran, atau diberi penjelasan dengan cara yang berbekas atau ungkapan yang mengesankan. Karena itu, qoulan baligo dapat diterjemahkan ke dalam komunikasi yang efektif. Merujuk kepada asal katanya, baligo artinya sampai atau pasih. Jadi untuk orang munafik tersebut diperlukan komunikasi efektif yang bisa menggugah jiwanya. Bahasa yang dipakai adalah bahasa yang akan mengesankan atau membekas ppada hatinya. Sebab dihatinya banyak dusta, khianat, dan ingkar janji. Kalau hatinya tidak tersentuh sulit menundukannya.
Jalaludin Rahmat memerinci pengertian qoulan baligo menjadi dua, yang pertama qoulan baligo terjadi bila da’I menyesuaikan pembicaraan dengan sikap khalayak yang dihadapinya sesuai dengan Frame of reference and field of experience. Kedua qoulan baligo terjadi bila komunikator menyentuh khalayaknya pada hati dan otaknya sekaligus.
B. Qoulan Layinan (perkataan yang lembut)
Kata Qoulan Layinan terdapat dalam surat Thaha ayat 43-44 secara harfiah berarti komunikasi yang lemah lembut (Layyin).
$!$t6ydø$# 4n<Î) tböqtãöÏù ¼çm¯RÎ) 4ÓxösÛ ÇÍÌÈ wqà)sù ¼çms9 Zwöqs% $YYÍh©9 ¼ã&©#yè©9 ã©.xtFt ÷rr& 4Óy´øs ÇÍÍÈ
“43. Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, Sesungguhnya dia Telah melampaui batas;
44. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".
Berkata lembut tersebut adalah perintah Allah kepada nabi Musa dan Harun supaya menyampaikan tabsir dan Inzar pada firaun dengan qoulan layinan karena ia telah menjalani kekuasaan melampaui batas, musa dan harun sedikit khawatir menemui firmaun yang kejam. Tetapi Allah tahu dan member jaminann .
tA$s% w !$sù$srB ( ÓÍ_¯RÎ) !$yJà6yètB ßìyJór& 2ur&ur
“Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat".
Berhadapan dengan penguasa yang tiran, al-Qur’an mengajarkan bahwa dakwah kepada mereka haruslah bersifat sejuk dan lemah lembut, tidak kasar dan lantang perkataaan yang lantang kepada penguasa tiran dapat memancing respon yang lebih keras dalam waktu sepontan, sehingga menghilangkkan peluang untuk berdialog atau berkomunikasi anatar kedua belah pihak, da’I dan penguasa sebagai mad’u.
C. Qoulan Ma’rufan (perkataan yang baik)
Qoulan Ma’rufan dapat diterjemahkan dengan ungkapan yang pantas. Salah satu pengertian Ma’rufan secara etimologis adalah al-khair atau ihsan, yang berarti yang baik-baik. Jadi qoulan ma’rufan mengandung pengertian perkataan atau ungkapan yang pantas dan baik. Di dalam al- Qur’an ungkapan ini ditemukan pada tiga surat dan empat ayat. Yakni pada surat Al-baqoroh ayat 235, pada surat an-nisa ayat 5 dan 8, serta 1 ayat lagi terdapat dalam surat al-ahzab ayat 32. Semua ayat ini turun pada pperiode madinah seperti diketahui komunitas madinah lebih heterogen ketimbang mekah. Dalam ayat 235 surat al-baqoroh ini qoulan ma’rufan mengandung beberapa pengertian antara lain : rayuan halus terhadap seorang wanita yang ingin dipinang untuk istri. Jadi, merupakan komunikasi etis dalam menimbang perasaan wanita, apalagi wanita yang diceraikan oleh suaminya. Dalam ayat 5 surat an-nisa qoulan ma’rufan berkonotasi kepada pembicara yang pantas bagi seseorang yang belum dewasa atau cukup akalnya atau orang dewasa tetapi tergolong bodoh. Kedua orang ini tentu tidak siap mendengar perkataan bukan ma’ruf kepada otaknya tidak cukup siap menerima terhadap apa yang disampaikan. Justru yang menonjol adalah emosinya.
Sedangkan pada ayat 8 surat yang sama lebih mengandung arti bagaimana menetralisir perasaan family anak yatim, orang miskin yang hadir pada pembagiaan warisan. Mmeskipun mereka tidak tercantum sebagai yang berhak menerima warisan. Namun, islam mengajarkan agar mereka diberi sekedarnya dan diberi dengan perkataan yang pantas. Artinya, jika diberi tetapi tidak diiringi dengan perkataan yang tidak pantas,tentu perasaan mereka tersinggung atau teriba hati, apalagi tidak diberi apa-apa selain ucapan yang kasar.
D. Qoulan Maisura (perkataan yang ringan)
Istilah qoulan maisura tersebut dalam Al-Isra. Kalimat maisura berasal dari kata yasr, yang artinya mudah. Qoulan maisura adalah lawan akta dari ma’sura, perkataan yang sulit. Sebagai bahasa komunikasi, qoulan maisura artinya perkataan yang mudah diterima, dan ringan yang pantas, yang tidak berliku-liku
Dakwah dengan qoulan maisura harus menjadi pertimbangan mitra tabligh yang dihadapi itu terdiri dari:
v Orang tua atau kelompok orang tua yang merasa dituakan, yang sedang mengalami kesedihan karena kurang bijaknya perlakuan anak terhadap orang tuanya atau oleh kelompok yang lebih muda.
v Orang yang tergolong didzalimi haknya oleh orang-orang yang lebih kuat.a
v Masyarakat yang secara social berada di bawah garis kemiskinan, lapisan masyarakat tersebut sangat peka dengan nasihat yang pangjang, karena mubaligh harus memberikan solusi dengan membantu mereka dalam dakwah bil hal.
E. Qoulan karima (perkataan yang mulia)
Tabligh dengan qoulan karima sasarannya adalah orang yang telah lanjut, pendekatan yang digunakan adalah dengan perkataan yang mulia, santun, penuh penghormatan dan penghargaan tidak menggurui tidak perlu retorika yang meledak-ledak. Term qaulan karima terdapat dalam surat al-isra ayat 23.
Dalam presfektif dakwah maka term pergaulan qaulan karima diperlukan jika dakwah itu ditunjukan kepada kelompok orang yang sudah masuk kategori usia lanjut. Seorang da’I dalam perhubungan dengan lapisan mad’u yang sudah masuk kategori lanjut, yakni hormat dan tidak berkasar kepadanya. Karena manusia meskipun sudah mencapai usia lanjut, bisa saja berbuat salah, atau melakukan hal-hal yang sesat menurut ukuran agama. Sementara itu kondisi fisik mereka mullai melemah, membuat mereka mudah tersinggung dan pendekatan dakwah terrhadap orang tersebut telah dilansi dalam al-qur’an dengan kata qoulan karima.
Adapun prinsip-prinsip bahasa tabligh menurut Al-Quran (qoulan ) yang dijelaskan oleh Isep Zainal Arifin, M.Ag. Dalam buku Bimbingan Penyuluhan Islam adalah sebagai berikut.
1. Terkait dengan diri sendiri:
Qoulan tsaqila (yang berbobot): QS. Al-Muzammil (73): 5
$¯RÎ) Å+ù=ãZy øn=tã Zwöqs% ¸xÉ)rO ÇÎÈ
"Sesungguhnya kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat."
2. Terkait dengan orang lain: Q.S An-Nisa:
(#qè?#uäur uä!$|¡ÏiY9$# £`ÍkÉJ»s%ß|¹ \'s#øtÏU 4 bÎ*sù tû÷ùÏÛ öNä3s9 `tã &äóÓx« çm÷ZÏiB $T¡øÿtR çnqè=ä3sù $\«ÿÏZyd $\«ÿÍ£D ÇÍÈ wur (#qè?÷sè? uä!$ygxÿ¡9$# ãNä3s9ºuqøBr& ÓÉL©9$# @yèy_ ª!$# öä3s9 $VJ»uÏ% öNèdqè%ãö$#ur $pkÏù öNèdqÝ¡ø.$#ur (#qä9qè%ur öNçlm; Zwöqs% $]ùrâ÷ê¨B ÇÎÈ (#qè=tGö$#ur 4yJ»tGuø9$# #Ó¨Lym #sÎ) (#qäón=t yy%s3ÏiZ9$# ÷bÎ*sù Läêó¡nS#uä öNåk÷]ÏiB #Yô©â (#þqãèsù÷$$sù öNÍkös9Î) öNçlm;ºuqøBr& ( wur !$ydqè=ä.ù's? $]ù#uó Î) #·#yÎur br& (#rçy9õ3t 4 `tBur tb%x. $|ÏYxî ô#Ïÿ÷ètGó¡uù=sù ( `tBur tb%x. #ZÉ)sù ö@ä.ù'uù=sù Å$rá÷èyJø9$$Î 4 #sÎ*sù öNçF÷èsùy öNÍkös9Î) öNçlm;ºuqøBr& (#rßÍkôr'sù öNÍkön=tæ 4 4xÿx.ur «!$$Î $Y7Å¡ym ÇÏÈ ÉA%y`Ìh=Ïj9 Ò=ÅÁtR $£JÏiB x8ts? Èb#t$Î!ºuqø9$# tbqçtø%F{$#ur Ïä!$|¡ÏiY=Ï9ur Ò=ÅÁtR $£JÏiB x8ts? Èb#t$Î!ºuqø9$# cqçtø%F{$#ur $£JÏB ¨@s% çm÷ZÏB ÷rr& uèYx. 4 $Y7ÅÁtR $ZÊrãøÿ¨B ÇÐÈ #sÎ)ur u|Øym spyJó¡É)ø9$# (#qä9'ré& 4n1öà)ø9$# 4yJ»tGuø9$#ur ßûüÅ6»|¡yJø9$#ur Nèdqè%ãö$$sù çm÷YÏiB (#qä9qè%ur óOçlm; Zwöqs% $]ùrã÷è¨B ÇÑÈ
“4. Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.
5. Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum Sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan Pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.
6. Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka Telah cerdas (pandai memelihara harta), Maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, Maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, Maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, Maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).
7. Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang Telah ditetapkan.
8. Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, Maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.”
Sasaran tabligh dalam ayat di atas yaitu:
a. Wanita yatim, belum baligh.
b. Yang sulit diatur
c. Yang ingin harta warisan.
|·÷uø9ur úïÏ%©!$# öqs9 (#qä.ts? ô`ÏB óOÎgÏÿù=yz ZpÍhè $¸ÿ»yèÅÊ (#qèù%s{ öNÎgøn=tæ (#qà)Guù=sù ©!$# (#qä9qà)uø9ur Zwöqs% #´Ïy ÇÒÈ
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
Sasaran tabligh pada ayat ini adalah yang bertakwa, takut kepada Allah.
y7Í´¯»s9'ré& úïÉ©9$# ãNn=÷èt ª!$# $tB Îû óOÎhÎqè=è% óÚÌôãr'sù öNåk÷]tã öNßgôàÏãur @è%ur öNçl°; þ_Îû öNÎhÅ¡àÿRr& Kwöqs% $ZóÎ=t
“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.”
Sasaran tabligh :
a. Polisi
b. Pemerintah
c. Birokrat
d. Thagut
* 4Ó|Ós%ur y7u wr& (#ÿrßç7÷ès? HwÎ) çn$Î) Èûøït$Î!ºuqø9$$Îur $·Z»|¡ômÎ) 4 $¨BÎ) £`tóè=ö7t x8yYÏã uy9Å6ø9$# !$yJèdßtnr& ÷rr& $yJèdxÏ. xsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é& wur $yJèdöpk÷]s? @è%ur $yJßg©9 Zwöqs% $VJÌ2
“Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”
Sasaran tabligh:
Orang tua.
$¨BÎ)ur £`|ÊÌ÷èè? ãNåk÷]tã uä!$tóÏGö$# 7puH÷qu `ÏiB y7Îi¢ $ydqã_ös? @à)sù öNçl°; Zwöqs% #YqÝ¡ø¨B
“Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, Maka Katakanlah kepada mereka Ucapan yang pantas.”
Sasaran tabligh:
a. Kaum pemboros/konsumtif
öä38xÿô¹r'sùr& Nà6u tûüÏYt7ø9$$Î xsªB$#ur z`ÏB Ïps3Í´¯»n=yJø9$# $·W»tRÎ) 4 öä3¯RÎ) tbqä9qà)tGs9 »wöqs% $VJÏàtã
“Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).”
Sasaran tabligh:
Yang menghina Allah.
wqà)sù ¼çms9 Zwöqs% $YYÍh©9 ¼ã&©#yè©9 ã©.xtFt ÷rr& 4Óy´øs
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut.”
Sasaran tabligh :
a. Bawahan kepada atasan.
b. Kasus Musa dan Harun kepada Firaun.
c. Untuk memberi rasa takut dan mengingatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar