Pengertian Filsafat Islam dan Pendekatannya
Oleh Asep Wildan
Islam dipandang secara teologis menjadi agama samawi yang sakral dan transendental. Akan tetapi, dipandang secara sosiologis Islam adalah sebuah peradaban dan meliputi segala segi kehidupan moral, material, pemikiran dan perasaan. Itulah sebabnya, penggunaan istilah filsafat Islam lebih tepat daripada filsafat Arab, filsafat umat muslim ataupun filsafat dunia Islam.
Filsafat Islam sebagai suatu ilmu yang dicelup ajaran Islam dalam membahas hakikat kebenaran segala sesuatu bersumber Al-Quran dan Al-Hadits.
Para ahli memang berbeda pendapat dalam menggunakan istilah filsafat Islam. Sebagian menggunakan istilah filsafat Arab untuk menamakannya. Carlo Nallino yang dikutip A. Hanafi mengguraikan istilah yang lebih tepat antara filsafat Islam atau Arab, sebagai berikut:
“kalau ada orang yang berkeberatan terhadap istilah tersebut dan mengatakan bahwa kata-kata “kaum muslimin” lebih tepat dan lebih baik daripada “Arab”, saya akan mengatakan bahwa istilah terakhir ini tidak tepat karena dua sebab. Pertaama, kata-kata “kaum muslimin” akan mengeluarkan orang-orang Masehi, Yahudi, pengnut agama Sabi’ah dan agama-agama lain, yang mempunyai bagian yang tidak sedikit dalam perkembangan ilmu dan karya-karya Arab, terutama dalam lapangan matematika, astronomi, kedokteran, dan filsafat. Kedua, dengan kata-kata “kaum muslimin’, kita harus membahas pula karya-karya yang ditulis bukan dalam bahasa Arab, seperti bahasa Persia, Turki ...maka yang lebih tepaat ialah menyetujui apa yang lebih banyak dipakai di kalangan penulis modern, dan memakai kata-kata “Arab” dalam istilah tersebut, yakni dipertalikan kepada bahasa karya-karya tersebut, bukan kepada umatnya...Jadi, apa yang dimaksudkan kedalam filsafat Arab menurut Carlo Nallino ialah filsafat yang ditulis dalam bahasa Arab.” (Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam: 2009: 25).
Berbeda dengan Carlo Nahallino, Couraban yang dikkutip Fuad Al-Ahwani, mempertahankan istilah filsafat Islam. Ia mengatakan,
“jika kita berpegang pada penamaan filsafat Arab, pemikiran itu menjadi sempit, bahkan keliru. Bagaimana kita bisa menempatkan pemikiran Nashir Kashru, misalnya atau pemikiran Afdhul Kasyani dan para ahli pikir Persia (Islam) lainnya yang hidup pada abad ke-11 hingga abad ke-13, mereka tidak menuliskan pemikirannya, kecuali dalam bahasa Persia.jika sebutan ‘Arab’ dalam zaman kita dewasa ini mencakup pengertian politik dan kebangsaan dapat dibenarkan, pengertian itu tidak bisa membawa kita ke pangkalan ilmu atau sastra. Lagi pula saya sendiri menolak mengaitkan pengertian keagamaan dengan tanah air atau kebangsaan tertentu. Karena itu, istilah yang paling tepat dan benar ialah Filsafat dalam Islam, atau Filsafat Islam atau Filsafat di negeri-negeri Islam, kalau penamaan terakhir disebutkan terasa terlampau panjang dan dianggap kurang baik untuk dijadikan istilah, saya tetap menolak memberikan predikat ‘muslimah’ (musulman) pada filsafat tersebut. Sebab, penamaan itu masih tetap mencakup keyakinan pribadi filsuf yang bersangkutan, sedangkan filsafat Islam mencakup segala hal akhwal.” (Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam: 2009: 26-27).
Pada kesimpulannya, Islam dalam konteks filsafat menjadi jiwa yang mewarnai suatu pemikiran. Filsafat disebut Islami bukan karena yang melakukan aktivitas kefilsafatan itu orang yang beragama Islam ,atau orang yang berkebangsaan Arab atau dari segi obyeknya yang membahas pokok-pokok keislaman. Islam di sini adalah roh sebagai nilai spiritual sebuah filsafat Islam.
Beberapa Pendekatan Untuk Memahami Filsafat
1. Filsafat Islam sebagai produk pemikiran
Produk-produk pemikiran meliputi:
a. Biografi tokoh.
b. Pokok-pokok pemikiran tokoh.
c. Cara pemikiran tokoh.
d. Respon masyarakat terhadap pemikiran tokoh.
e. Implikasi pemikiran tokoh.
Contoh pendekatan filsafat sebagai produk pemikiran adalah filsafat Ibnu Sina.
Sosok Ibnu Sina (370/980-428/1037), sebagai filsuf Muslim, tidak hanya unik, tetapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern.
Pemikiran filsafat Ibnu Sina misalnya dalam Asy-Syifa menyimpulkan bahwa bentuk dan materi itu bergantung kepada Tuhan (atau akal aktif) dan lebih jauh lagi bahwa eksistensi yang tersusun juga tidak hanya disebabkan oleh bentuk dan materi saja, tetapi harus mendapat “sesuatu yang lain”. Yang dikembangkan oleh Ibnu Sina adalah doktrin Aristoteles.
Pemikiran Ibnu Sina mendapat respon dan komentar seperti dari Fakhruddin Ar-Razi, Al—Ghazali, Asy-Syahrastani dan lainnya.
Pengaruh dari pemikiran Ibnnu Sina yang tertuang dalam kitab Asy-Syifa masih terasa hingga kini. Bahkan, tahun 1951, pemerintah Mesir dan Liga Arab membentuk sebuah panitia di Kairo untuk menyunting eksiklopedi, Kitab Asy-Syifa dan sebagian eksiklopedi tersebut telah diterbitkan. (Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam: 2009: 143).
2. Filsafat Islam sebagai proses pemikiran
Sebagai proses pemikiran, filsafat Islam merupakan sebuah aktivitas pemikiran yang terus hidup dari zaman ke zaman hingga sampai sekarang.
Drs. Sidi Gazalba menggambarkan bahwa Tuhan memberikan akal kepada manusia itu menurunkan nakal (wahyu/sunnah) untuk dia. Dengan akal itu ia membentuk pengetahuan. Apabiala pengetahuan manusia itu digerakkan oleh nakal, menjadilah dia filsafat Islam. Wahyu dan Sunnah (terutama mengenai yang ghaib) yang tidak mungkin dibuktikan kebenarannya dengan riset, filsafat Islamlah yang memberikan keterangan, ulasan dan tafsiran sehingga kebenarannya terbuktikan dengan pemikiran budi yang bersistem, radikal dan umum. (Drs. Sidi Gazalba, hal.31).
Referensi:
Supriyadi, Dedi, 2009. Pengantar Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar