ANALISIS KOMUNIKASI INTRAPERSONAL,
KOMUNIKASI INTERPERSONAL,
KOMUNIKASI KELOMPOK DAN KOMUNIKASI MASSA
DALAM DUNIA KAMPUS
Oleh Arum Ningsih
Pendahuluan
Viru Sahasrabuddhe, “Jadilah pemain bola atau jadilah apa kata hatimu.” All izz well. Seorang pimpinan universitas nomor satu di India dalam film 3 Idiot ini menjadi saksi kepribadian mahasiswanya di bangku kuliah. Bagaimana mereka berhadapan dengan dosen, bagaimana mereka berhadapan dengan nilai serta orang tuanya. Dan bagaimana mereka berkomunikasi.
Diantara mahasiswanya itu ada seorang Catur, mahasiswa akademisi menganggap tampil di muka bentuk usaha untuk mendapatkan nilai bagus. Seorang Raju, mahasiswa hedonis yang tidak belajar dengnan sungguh-sungguh karena kuliah dipaksa orang tuanya sehingga tidak sesuai hobi dia yang senang memotret hingga tak pernah antusias menerima kuliah. Dan seorang Ranchu yang aktifis, meski tidak digambarkan ikut organisasi kemhasiswaan, tapi yang dimilikinya adalah sifat mahasiswa yang aktif, peduli akan social, kuliah untuk mendapatkan ilmu bukan untuk meraih ijazah. Kuliah untuk mengubah kehidupan social daerahnya.
Gambaran itu tidak hanya terjadi di dunia fiksi Bollywood saja, tetapi juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Karena itu, dalam tulisan ini penulis bermaksud menjelaskan bagaimana ketiga tipologi mahasiswa itu (baca: akademisi, hedonis dan aktifis) melakukan komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok dan komunikasi massa dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan sengaja analisa ini dispesifikasikan pada kehidupan sehari-hari mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Berikut pemaparan analisisnya.
KOMUNIKASI INTRAPERSONAL
µ Mahasiswa Akademisi
Tak perlu membayangkan tipe mahasiswa ini kutubuku, berkacamata, dan culun.tidak semua seperti itu. Di zaman serba maju ini, mahasiswa akademisi juga pandai memoles citra, mulai dari cara berbicara yang elegan, ilmiah dan cerdik, mereka juga cukup rapi. Ya, seperti ungkapan Rosalie Maggio “anda takkan bisa membuat kesan pertama untuk kedua kalinya,” jadi, kaum akademisi cenderung hati-hati dalam menciptakan tradisi, kesan terpelajar sudah tentu menjadi backgound mereka.
Sensasi dalam hidupnya berupa proses penerimaan pesan yang ilmiah. Dan dalam memberikan persepsi, kesamaan dan kedekatan sering dipakai untuk meningkatkan kredibilitasnya.ia menghubungkan dirinya atau mengakrabkan dirinya dengan orang-orang yang mempunyai prestise tinggi.
Dalam komunikasi intrapersonal, mahawsiswa akademisi cenderung berpikir evaluative. Khusunya untuk menghadapi persaingan akademis. Dia berpikir kritis, menilai baik-buruknya, tepat-tidaknya suatu gagasan. Dia tidak akan membiarkan dirinya menampilkan gagasan yang “setengah matang” di hadapan rekan sekelasnya apalagi di hadapan dosen, karena hal itu akan menyebabkan berkurangnya repotasi dia. Dan ini berarti nilai menjadi taruhannya.
Banyak pendapat ilmuan yang diingatnya dan menjadi modalnya saat berwacana. Hal tersebut menjadi sebuah nilai positif dari mahasiswa akademisi dalam menghadapi diskusi. Tetapi ada kekurangannya, dia sering takut mengemukakan pendapatnya sendiri, sehingga pandangannya terkesan “mengekor” tidak mempelopori.
`factor motivasi sangat mempengaruhi proses pemecahan masalahnya. Motivasi yang tinggi untuk meraih hasil akademis terbaik membuat mahasiswa akademisi lebih sering ke perpustakaan daripada ke mall, sering menggonta-ganti buku daripada ganti handphone, dll. Soal akademik, itu wilayah mereka, membaca buku dan mengelaborasi berbagai ilmu untuk suatu penemuan sudah menjadi ruh. Bergabung dalam kelompok diskusi ilmiah adalah wadah kegiatan mereka dimana pelbagai persoalan akademik akan tumpah-ruah disitu, diulas dengan tepat, dikritik secara tajam, dibincangkan, sampai diperdebatkan pun menjadi fenomena yang lazim.
Selalu ada target dari matakuliah yang dipelajari pada setiap semester, idealnya mereka ingin mendapat nilai baik. Hitam di atas putih adalah keniscayaan, artinya; gemilang di forum harus dibuktikan dengan nilai ijazah yang baik. Intinya, khazanah kampus kental terasa dilingkungan mahasiswa akademisi.
µ Mahasiswa Hedonis
Salah satu tipe paling unik adalah tipe mahasiswa hedonis. Jangan salah kaprah, mahasiswa hedonis tak semuanya orang kaya, yang pas-pasan kekuatan ekonominya pun ada yang ikut dalam golongan ini. “Orang Kaya sombong, wajar. kalau orang miskin?” begitulah kira-kira banyak orang mengomentari mahasiswa tipologi ini. Selain itu, istilah lain dalam tren tipe hedonis adalah kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang), kunang-kunang (kuliah nagkring-kuliah nangkring), juga tak sedikit dari mereka yang menjadi shopaholic, hampir setiap mall sudah di jambangi, beli ini, beli itu.
Dia senang menangkap stimuli berupa fashion.tak jarang persepsinya pun dipengaruhi oleh kebudayaan yang sedang berkembang di dunia fashion. Rambut gondrong, kaos tanpa kerah, bersandal dan beraksesoris nyentrik menjadi pilihannya dalam menata penampilan dirinya. Keputsan berpikir yang dia ambil berdasar pada mode teman nongkrongnya. Ia tidak peduli dengan aturan kampus dan norma kesopanan yang ada di kampus.
Memang tipe hedonis terlanjur dianggap jauh dari tradisi kampus, tapi inilah realitanya. Kebanyakan mahasiswa hedonis, kuliah hanya sekedar singgahan, tak peduli berapa banyak matakuliah yang mereka tinggalkan demi ke mall dan nongkrong. Namun sekilas pengamatan saya, rata-rata mahasiswa hedonis berkperibadian terbuka dan ekstrofet.
Mereka cukup kreatif dalam hal tertentu, hobi otomotif, stylish, dan melek teknologi. Saat ada tugas membuat blog, ternyata yang hedonis sudah lam menjadi blogger sebelum tugas itu diberikan. Ketika ada computer rusak, atau motor sudah ketinggalan jaman, dengan kekreatifannya mereka mampu memodifikasi motor itu. Sekalipun vespa, setelah ditangani oleh mereka akan Nampak mempunyai nilai seni yang tinggi lewat keunikannya.
Saat saya membuat tugas Mata Kuliah Jurnalisme Dakwah untuk menerbitkan sebuah buletin, ternyata saya mendapatkan ilmu baru dari mereka mengenai desain grafis dalam pembuatan buletin itu.
Selalu ada kelebihan dibalik kekurangan. Secara prestasi akademik, tipe satu ini jauh dibawah mahasiswa aktifis dan akademisi tapi tingkat kreatifitas mereka boleh diadu, mungkin bisa satu level diatas kedua tipe lainnya.
µ Mahasiswa Aktifis
“Gak aktif gak asiyik,” naluri mahasiswa adalah kritis terhadap lingkungan sosial, politik, budaya, dan ekonomi disekitar mereka, peka terhadap gejala-gejala yang timbul di lingkungan masyarakat dan negara. Tak dipungkiri, mahasiswa dengan tipologi ini rela bermandikan keringat hanya untuk berdemonstrasi menolak kebijakan pemerintah yang tak pro rakyat, melayangkan berbagai tulisan dan kritik lainnya, melakukan bakti sosial di masyarakat dan bejubel kegiatan lainnya. Sekilas, ini tipe ideal. Tapi mahasiswa aktifis, harus pintar membagi waktu dan mengatur jadwal kegiatannya supaya tak bergeser dari pesan Mama “Nak kuliah yang benar, cepat selesai dan baktilah pada masyarakat” alias aktif bisa, belajar harus.
Mahasiswa aktifis gemar menangkap stimuli bermuatan social dan politik. Pemaknaan stimuli itu tidak lepas dari frame of reference sebagai factor fungsional. Bagi mahasiswa akademisi atau mahasiswa hedonis, siapa pun yang menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ)-nya tidak perlu dipermasalahkan. Tetapi, bagi mahasiswa aktifis hal ini sangat penting dipikirkan.
Factor struktural yang mempengaruhi persepsi mahasiswa aktifis adalah sifat-sifat structural secara keseluruhan. Sifat individu dirinya dipengaruhi oleh sifat organisasi yang diikutinya. Sehingga terjadi efek berupa asimilasi dan kontras.
Misalnya, jika yang berbuat baik itu aktifis HMI kepada kepada aktifis PMII, maka orang PMII itu akan berpikir aktifis HMI itu cari muka atau kebaikannya hanya sebuah strategi begitupun sebaliknya jika orang PMII berbuat baik pada orang HMI. Sementara itu, jika aktifis PMII yang berbuat baiknya kepada orang PMII atau HMI kepada HMI, maka dia berpikir orang itu baik hati dan penuh solidaritas.
Dalam berpikir pun mahasiswa aktifis bisa berubah-ubah.berpikir deduktif sering dilakukan saat melihat dua keadaan. Contohnya cara berpikir deduktif mahasiswa yang aktif di LDM (Lembaga Dakwah Mahasiswa),
| Semua perempuan memakai gamis
| Mita perempuan
Jadi, Mita harus memakai gamis.
Oleh mereka yang aktif di organisasi itu akan menarik kesimpulan apapun kondisinya maka semua perempuan harus mengenakan gamis.
Mahasiswa aktifis juga berpikir induktif dalam beberapa kondisi. Misalnya, Dia mengikuti Oraganisasi Daerah (ORDA) Sumedang, ketua ORDA itu pandai berdebat. Dia juga bertemu dengan Nia, Prima, dan Risma yang juga pandai berdebat. Maka dia menyimpulkan anggota ORDA Sumedang itu pandai berdebat.
Berpikir evaluative dilakukan oleh mahasiswa aktifis terutama saat mengkritisi kebijakan rector, menilai baik buruknya kebijakan itu,atau tepat-tidaknya solusi yang dia ajukan atas kebijakan tersebut.
KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Dalam pembahasan komunikasi interpersonal ini saya fokuskan penganalisaan pada konsep diri dan hubungan interpersonal mahasiswa akademisi, mahasiswa hedonis dan mahasiswa aktifis di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut William D. Brooks konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat sikologis, social dan fisis. Factor-faktor yang mempengaruhi konsep diri adalah penilaian orang lain terhadap diri kita dan kelompok rujukan (reference group).
Mahasiswa akademisi menilai dirinya pandai berbicara, bernilai bagus saat ujian, selalu datang tepat waktu, tidak pernah ketinggalan tugas, dekat dengan dosen dan rajin membaca, menulis dan lainnya. Rekan-rekan sekelasnya yang memberikan penilaian dirinya orang yang rajin membuat dia semakin semangat mengerjakan tugas. Meski kadang pujian itu menjatuhkan dia karena terlena akan pujian sehingga kemampuannya menurun.
Pengaruh dari konsep dirinya ini membuat dia percaya diri, tetapi selektif dalam berteman atau menjalin komunikasi dengan orang lain. Ia sering takut berhubungan dengan orang hedonis karena ada ketakutan berlebih akan terbawa-bawa oleh mahasiswa tersebut. Dia juga menghindar dari mahasiswa aktifis jika merasa keaktifan mahasiswa itu menyita waktunya hingga tertinggal kuliahnya.
Mahasiswa hedonis memiliki konsep diri seperti modis, gaul, santai bebas dan lainnya. Penilaian orang yang menganggap dia tidak disiplin sering tak diacuhkannya. Konsep dirinya sangat dipengaruhi oleh kelompok rujukannya seperti teman-temannya saat nongkrong.
Mahasiswa hedonis memiliki kepercayaan diri yang tinggi serta membuka diri dalam komunikasi interpersonal. Ia tidak alergi berkomunikasi dengan kademisi ataupun dengan aktifis.
Mahasiswa aktifis konsep dirinya kritis, peduli social, berani, aktif bergerak, dan lainnya. Konsep dirinya sangat dipengaruhi oleh kelompok rujukannya, yakni organisasi yang mewadahinya.
Pengaruh konsep diri dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa aktifis menjadikan dia mempunyai percaya diri yang tinggi, membuka diri terhadap lingkungan social, dan juga selektif terhadap orang yang berbeda organisasi dengannya.
Ada sejumlah model untuk menganalisa hubungan interpersonal, tetapi—dengan menggikuti ikhtisar dari Coleman dan Hammen (1974: 224-231)—kita akan menyebutkan empat buah model: (1) model pertukaran social (social exchange model); (2) model peranan (role model); (3) model permainan (the games people play” model); dan model interaksional (interactional model). (Jalaluddin Rahmat, Psikologi Komunikasi: 2001:120)
Dari ketiga tipologi mahasiswa di kampus, baik mahasiswa akademisi, mahasiswa hedonis, maupun mahasiswa aktifis, semuanya lebih sering menjalin hubungan interpersonal berupa model pertukaran social dan model peranan.
Model pertukaran social memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuuhi kebutuhannya. Ganjaran, biaya, laba, dan tingkat perbandingan merupakan empat konsep pokok dalam teori ini.
¬ ganjaran
ganjaran ialah setiap akibat yang dinilani positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran berupa uang, penerimaan social, atau dukungan terhadap nilai yang dipeganya.
Mahasiswa akademisi menilai ganjaran yang paling penting itu adalah nilai akademis terbaik. Sementara itu bagi mahasiswa hedonis kata ”gaul” merupakan ganjaran yang diharapkannya. Lain halnya dengan mahasiswa aktifis, ganjaran yang diterimanya berupa posisi di organisasi, tanggapan dari “teras kampus” ataupun birokrasi pemerintah.
¬ Biaya
Biaya adalah akibat yang dinilai negative yangterjadi dalam suatu hubungan. Biaya itu dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri dan kondisi-kondisi lain yang dapat menghabiskan sumber kekayaan individu atau dapat menimbulkan efek-efek yang tidak menyenangkan.
Mahasiswa akademisi menghabiskan waktunya untuk mengerjakan tugas kuliah. Dia sering begadang menyiapkan makalah untuk presentasi. Dia juga menyisihkan sebagian besar uang sakunya untuk pengerjaan tugas itu. Dia jarang pergi jalan-jalan karrena harus pergi ke perpustakaan.
Mahasiswa hedonis mengeluarkan biaya berupa materi untuk nongkrong dan jalan-jalan. Dia juga menghabiskan waktunya untuk nongkrong bersama.
Mahasiswa aktifis mengeluarkan keringat untuk aksi dalam demonstrasi mempengaruhi keputusan birokrasi. Banyak waktu yang dikorbankannya. Kadang dia bertengakar dengan pacarnya gara-gara waktunya habis untuk organisasi.
¬ hasil
Hasil adalah ganjaran dikurangi biaya. Mahasiswa yang akademisi akan menerima hasil dari pihak kampus berupa beasiswa. Sedangkan mahsiswa hedonis sebenarnya mereka tidak menerima hasil yang baik selain persahabatan dengan teman nongkrongnya. Mahasiswa aktifis menerima hasil berupa beasiswa dari organisasi, dan kebijakan birokrasi sesuai tuntutannya.
¬ Tingkat perbandingan
Tingkat perbandingan menunjukkan ukuran baku (standar) yang dipakai sebagai criteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang. Mahasiswa akademisi tingkat perbandingan yang digunakannya berupa IP pada semester yang sebelumnya. Mahasiswa hedonis tingkat perbandingannya seperti keeratan pertemanan sepenongkrongannya. Dan mahasiswa aktifis tingkat perbandingannya adalah kesejahteraan dan kemasifan organisasi saat dipimpin oleh si A dan saat sekarang oleh si B.
Model peranan memandang hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Mahasiswa akademisi dituntut berperan sebagai orang yang terdidik yang bermoral dan menjadi contoh yang baik bagi teman-temannya. Mahasiswa hedonis berperan sebagai mahasiswa yang santai, tidak terbebani dan tidak pula terkekang. Sedangkan mahasiswa aktifis dituntut berperan sebagai agent of change yang harus tanggap terhadap dinamika social dan juga progress dalam kehidupannya di dunia perkuliahan juga di organisasi. Pemutusan hubungan interpersonal bias dipengaruhi oleh provokasi. Saya pernah mendapat perlakuan istimewa dari seorang teman. Diajak berdiskusi bersama, menyapa saat bertemu, dan dikirim kata-kata mutiara lewat sms. Ternyata kebaikan orang itu tidak selamanya. Dia memberikan kebaikannya hanya saat pelaksanaan Msyawarah Komisariat Mahasiswa (MUSKOM) HMJ KPI saja. Setelah acara itu selesai, jangankan menyapa, tersenyumpun seolah terpaksa. Dari sana saya mengerti, ada saatnya seorang aktifis berperan sebagai teman, sahabat atau kawan kita. Dekat, hangat dan perhatian. Tapi, ada saatnya pula dia jauh dari kita, tak acuh dan bersikap dingin.
KOMUNIKASI KELOMPOK
Mahasiswa adalah makhluk social (zoon politicon) sebagaimana yang diungkapkan Aristo Telles. Meskipun mahasiswa akademis sangat selektif dalam menjalin hubungan komunikasi, tetapi dia tetap butuh teman untuk berbagi. Baik itu pengerjaan tugas, melepaskan perasaan juga melakukan pencarahan intelektual.
Sifat kelompok yang dibangun oleh mahsiswa akademisi adalah kelompok kelompok deskriptif dan kelompok prespektif. Dia lebih sering menjadi ketua kelompok dalam kerja kelompoknya. Ada kalanya dia berkelompok dengan mahasiswa hedonis dan ada saatnya juga ia berkelompok dengan mahasiswa aktifis. Saat teman selompoknya tidak mengerjakan tugas, maka ia dituntut mengerjakan tugas kelompoknya sendiri. Pengerjaan tugas kelompok secara sendiri pun lahir dari sifatnya yang kurang terbuka untuk memberikan kepercayaan pada rekannya.
Mahasiswa akademisi juga masih bisa dibagi dua: Aliran substansialis dan ritualis. Aliran substansialis adalah akademisi yang yang menggeluti aktifitas perkuliahan dengan serius. Mereka mengerti, memahami, dan menguasai materi perkuliahan. Kecuali itu, mereka juga mempunyai visi misi, dalam arti target ending dari kompetensi keilmuan mereka tidak hanya dunia pragmatis (dunia kerja). Tapi mereka tahu dimana dan bagaiamana harus mengabdikan dan mentransformasikan keilmuan mereka. Sebut saja mereka sebagai akademisi visioner. Sedang akademisi aliran ritualis adalah mereka yang menjalani kuliah sebagai ritual harian saja. Bangun, berangkat kuliah, mengerjakan tugas, ikut UTS (Ujian Tengah Semester) dan UAS (Ujian Akhir Semester), dapat nilai, wisuda, dan cari kerja. Mereka tak punya kecintaan sama sekali dengan konsentrasi kelimuannya. Apalagi punya visi.
Mahasiswa hedonis dalam komunikasi kelompoknya lebih kepada kelompok pertemuan yang menyebabkan adanya kerusakan psikis akibat kepemimpinan kelompok yang merusak.
Mahasiswa aktifis memiliki ktifitas utama: kuliah dan berorganisasi. Kelebihan mahasiswa aktifis dalam komunikasi kelompok yaitu mereka relatif terlatih dalam hal kepemimpinan (leadership), pandai mengorganisir sesuatu (skill managerial), pandai menyusun planning (perencanaan), mempunyai kepekaan sosial, tanggap realitas, dan lebih peduli terhadap sesama. Hal ini disebabkan oleh aktifitas keseharian mereka yang hampir seluruhnya dihadapkan dengan dunia praksis. Tugas-tugas kepengurusan dan kepanitiaan serta beberapa tugas organisasi yang dibebankan membuat mereka terlatih untuk menghadapi berbagai problematika hidup. Intensitas pertemuan mereka dengan orang lain membuat mereka mawas diri dan belajar banyak hal dari berbagai watak manusia yang berbeda-beda sekaligus dapat menipiskan sifat egoisme mereka. Mahasiswa aktifis juga biasanya lebih kaya jaringan/relasi yang membuat mereka banyak mendapatkan berbagai informasi yang dibutuhkan. Target utama aktifis adalah kematangan pribadi.
Dalam komunikasi kelompok, mahasiswa aktifis kadang bersifat kelompok “kekitaan” (we-ness). Semangat ini yang lazim disebut kohesi kelompok. Mereka menganggap orang yang bukan seorganisasi dengannya adalah orang “luar”. Organisasi pun menjadi kelompok rujukan bagi mahasiswa aktifis.
Mahasiswa aktifis juga dapat disertakan dalam kelompok dekriptif khususnya kelompok penyadar, kelompok belajar, kelompok pencerahan, dan kelompok tugas. Kelompok penyadar karena organisasi yang diikutinya menciptakan identitas social politik yang baru.
KOMUNIKASI MASSA
Komunikasi massa merupakan komunikasi yang menggunakan media massa. Dewasa ini komunikasi massa tidak hanya lewat media cetak, tetapi juga lewat media virtual (internet).
Mahasiswa akademisi sangat suka membaca rubric mengenai pengetahuan umum, berita terkini, artikel dan lainnya yang dapat meningkatkan wawasan dirinya. Ia pun aktif mengikuti perkembangan media virtual untuk menjaga eksistensinya dalam berbagi pengetahuan baik melalui facebook, twitter ataupun blog yang dimilikinya.
Teyangan di televise dapat dijadikannya hibburan di waktu senggangnya.
Mahasiswa hedonis memiliki jiwa melek teknologi lebih dari akdemisi dan aktifis. Tapi, ia menggunakan fasilitas itu terbatas pada hobinya. Di blognya menampilkan informasi yang disukainya sebagai hobi. Ia pun lebih suka mengupdate status facebookny sesuka hati tanpa memikirkan itu semua bias dilihat oleh semua orang. Saat membaca media cetak, lebih suka membaca majalah seputar fashion, atau otomitif, dan lainnya, jarang menyukai membaca essay maupaun artikel. Televise menjadi teman baiknya untuk mendapat inspirasi.
Mahasiswa aktifis pun banyak yang eksis di dunia maya melakukan komunikasi massa dalam menjalin hungan dengan organisasi lain yang berada di luar kota. Media virtual ini pun dimanfaatkan untuk menuntun teman seorganisasinya menjaga silaturahmi lewat internet melalui facebook dan lainnya.
Mereka juga senang membca media cetak baik berita, feature, artikel ataupun essay. Dan yang lebih dari mereka adalah kemampuannya mengirim surat pembaca yang menjadi bukti dia tanggap terhadap lingkungan social.
Penelitian David P. Phillips juga mengenai proses imitasi sebagai penularan cultural yang ia analogikan sebagai penularan penyakit terbukti dalam komunikasi massa dalam kehidupan sehari-hari di kampus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar