MITRA DAKWAH PERSPEKTIF SOSIOLOGIS
(Anas Abdul Razak)
Moh. Ali Aziz dalam buku Ilmu Dakwah menyebut penerima dakwah dengan “mitra dakwah”, bukan objek dakwah atau sasaran dakwah, dengan maksud agar pendakwah menjadi kawan berpikir dan bertindak bersama dengan mitra dakwah. Hubungan ideal pendakwah dan penerima dakwah bukan hubungan subjek dan objek. Mereka bukan pula sebagai sasaran yang member kesan pasif dan hanya pendakwah yang aktif. Pendakwah bukanlah orang yang paling suci dan paling tahu di antara manusia. Oleh sebab itu, dengan kemitraan, kesejajaran antara pendakwah dan mitra dakwah akan mendorong mereka untuk berbagi, (sharing) pengetahuan, pengalaman, dan pemikiran tentang pesan dakwah. Mereka bersama-sama memikirkan bagaimana bias menjalankan perintah Allah SWT. dan bagaimana pula cara menjalankan larangan-Nya.
Mitra dakwah sebagai kelompok sosial juga dibedakan menjadi kelompok yang teratur dan tidak teratur. Dalam kelompok teratur, ada hubungan yang sangat erat antar anggotanya (kelompok primer, struktur mekanis, homogeny, paguyuban, pedesaan) dan ada pula hubungan yang kurang akrab (kelompok sekunder, struktur organis, heterogen, patembayan, perkotaan). Sedangkan dalam kelompok yang tidak teratur terdapat tiga bentuk, yaitu kerumunan, public, dan massa.
Kerumunan (krowd) adalah kelompok yang sedang berkumpul pada suatu tempat atau ruangan tertentu yang sedang terlibat pada suatu persoalan atau kepentingan bersama swecara tatap muka (direct communication). Menurut Soerjono Soekanto (1998:158), “ ukuran utama adanya kerumunan adalah kehadiran orang-orang secara pisik. Sedikit banjyaknya kerumunan adalah sejauh mata dapat melihat dan selama telinga dapat mendengarkannya.kerumunan tersebut segera mati setelah orang-orangnya bubar”. Contoh kelompok ini, orang-orang yang hadir dalam pengajian umum,. Dalam pengajian ini focus orang-orang hadir hanya focus pada penceramah. Mereka tidak terorganisasi serta tidak mengenal system pembagian kerja dan pelapisan sosial. Dalam pengajian umum, buruh tani dapat duduk sejajar dengan tuan tanah. Ketika penceramah menyelipkan humor dan sebagian audiensi tertawa, orang-orang y7ang di dekatnya juga tertawa. Ketika doa penutup sudah selesai dibaca, audiensi bubar dengan sendirinya.
Berbeda dengan kerumunan, public (public) adalah kelompok yang abstrak dari orang-orang yang menaruh perhatian dan minat pada suatu persoalan atau kepentingan yang sama./ mereka terlibat dalam suatu pertukaran pikiran dalam komunikasi tidak langsung untuk mencari penyelesaian atau kepuasan atas persoalan atau kepentingan yang sama. Public tidak memiliki tradisi, disiplin, dan peraturan tertentu yang mengikat. Keanggotaannya pun tidak tetap, tetapi berubah-ubah menurut persoalan atau kepentingannya. Jumalah publ8ik tergantung pada persoalannya. Perlu ditambahkan bahwa tingkah laku public berdasarkan pada kepentinganm individu-individu. Spanduk yang terpampang di beberapa sudut kota tentang Doa Istighatsah Bersama untuk Keselamatan Bangsa yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi Islam pada kampanye Presiden akan menarik perhatian public. Mereka akan membicarakan apakah ia doa murni ataukah doa politik.
Jika public tegantung dari persoalan yang menjadi perhatian, massa tergantung dari media massa yang dimanfaatkan. Semakin luas jangkauan media yang digunakan, semakin luas pula massanya. Sifat massa sangat heterogen, tidak terikat oleh suatu tempat, dan interaksinya juga menjadi kurang. Persoalan yang dihadapi massa juga sangat bervariatif. Selain itu, hubungan massa lebih longgar dan belum ada kesatuan persoalan atau stimulus yang nyata dan sama. Perhatian massa masih samar dan individual, karena belum terjadi komunikasi. Kita tidak mengenal penanya saat ada dialog interaktif keagamaan saat diselenggarakan oleh stasiun televise. Jawaban yang kita memuaskan bagi massa tertentu, tetapi tidak memuaskan bagi massa yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar