Sabtu, 18 Juni 2011

RUU Intelejen: Konspirasi Anti-Islam

RUU Intelejen: Konspirasi Anti-Islam 

Oleh Arum Ningsih

Pendorong yang menyebabkan akar fundamentalisme selain ketakutan dan kecemasan akan perubahan tradisi agama adalah perasaan terhina dan putus asa di benak umat Islam secara keseluruhan. Di Barat Nabi Muhammad ditampilkan sebagai panglima perang yang mendesakkan Islam kepada dunia yang enggan menerimanya dengan kekuatan militer (Amstrong, 2003: 216). Nabi Muhammd dan agamanya dicitrakan sebagai agama fatalis yang secara kronis menentang kemajuan (amstrong, 2003: 463). Barat menjadikan sasaran baru untuk memperoleh keuntungan pascaperang dingin, yang ditujukan untuk menjamin  aliran dana dengan menanamkan ketakutan akan wacana Islam di hati orang-orang Barat (Azhar dkk, 2002: 77). Wajah seram sebagai manusia yang tidak berperasaan dan tidak berperadaban tinggi, menyebabkan umat Islam diperlakukan sebagai umat pesakitan (Sutianto, 2005: 306).

Gerakan fundamentalisme yang esensinya mengembalikan ajaran Islam pada ajaran dasarnya (baca: Al-Quran dan hadits), kini dispesialisasikan sebagai gerakan radikalisme. Gerakan radikalise inilah yang diamalkan oleh teroris.

Radikalisme tampaknya masih menjadi sumbu erupsi tindakan perlawanan teroris. Radikalisme tidak berhenti pada  upaya penolakan, tetapi terus berupaya mengganti suatau tatanan dengan bentuk tatanan lain. Ciri ini menunjukkan bahwa di dalam radikalisme terkandung suatu program atau pandangan dunia tersendiri.

Prof. H. Said Aqiel Siradj (Republika, 2011: 2) menjelaskan di dalam tubuh  radikalisme, Islam memang telah terfragmentasi dalam ragam bentuk, misalnya, dalam rupa radikal puritan yang berjihad untuk menghilangkan amalan-amalan yang bercampur dengan tradisi lokal. Mereka sangat mililtan karena digelorakan oleh jihad mengembalikan Islam murni sesuai Al-Quran dan Sunnah. Ada pula radikalis dalam wujud berjihad mengislamkan segala sistem sekuler seperti demokrasi dan nasionalisme dengan cara menggantinya menjadi model yang dipandang Islami.

Membenarkan kekerasan atas nama Islam. Inilah yang saya pahami dari gerakan terorisme di Indonesia. Indonesia bukanlah negara perang. Lantas, mengapa mereka bertindak melawan kekufuran sebagaimana dalam kondisi negara perang? Adapun jihad fi sabilillah tidaklah dengan aksi teror seperti bom bunuh diri.

Ayat-ayat Al-Quran tidak mempresentasikan jihad sebagai kekerasan yang sembrono. Pesan Al-Quran untuk menjadikan risalah Rasulullah  sebagai rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil alamiin), mengharuskan kemampuan umat Islam untuk menjadi pendamai, penyejuk, dan pemberi jalan keluar bagi kemelut dan kesulitan yang dialami manusia (Sutianto, 2005: 308).

Islam sendiri berasal dari kata aslama atau keselamatan dan kedamaian (Nasr, 2003: 262). Setiap ucapan salam yang diberikan seorang muslim kepada muslim lainnya “assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh”  adalah usaha untuk memberikan perlindungan, kedamaian bagi siapa saja yang disapanya. Al-Quran dalam menjelaskan kata kedamaian ini melambangkannya sebagai seseorang yang menjadi penduduk surga...”dan mereka menyeru penduduk surga, “kebahagiaan atas kamu semuanya” (Q.S.al-A’raf: 46).

Kalimat  “kebahagiaan atas kamu” adalah salam umat muslim yang dikatakan Nabi, merupakan salam penghuni surga (Nasr, 2003: 263). Bagi umat Islam agamalah yang mampu membawa manusia kembali kepada “alam kedaian” (Nasr, 2003: 263), yaitu realitas surgawi teringgi dan keadilan Islam (Sutianto, 2005: 309).

Kita perlu memperlakukan ayat Al-Quran dengan adil, karena ketidakadilan dalam memahami ini dapat berakibat fatal kepada umat Islam itu sendiri. Perang adalah pilihan terakhir dan paling darurat untuk melindungi umat Islam itu sendiri dari kepunahan, atau dari pemaksaan terhadap keyakinan. Pemahaman jihad kepada jalan Allah dengan jiwa dan harta berarti usaha yang paling serius untuk mengejawantahkan pesan-pesan Allah bagi umat manusia. Fazlur Rahman (1983, 13) menandaskan bahwa jihad “dengan harta dan jiwa kalian” adalah untuk tercapainya tujuan Allah” (Q.S.al-Taubah: 41). Pesan Allah yang paling penting adalah pesan kedamaian (Sutianto, 2005: 309).

Perang yang diberlakukan dalam dalam keadaan terpaksa, hanya dapat dilakukan dengan cara yang baik. Keterpaksaan untuk memilih perang manakala cara damai (musyawarah dan diplomasi) tidak dapat dilakukan. Ketika perang berlangsung, umat Islam pun tidak boleh melakukannya secara berlebihan (wala ta’tadu) (Q.S. a-Baqarah: 190). Umat Islam juga dilarang melakukan perusakan tanaman-tanaman, penduduk sipil dan tawna. Pelarangan ini dilakukan untuk menjamin penghidupan setelah perang berlangsung. Menurut Ghulam Farid Malik (dalam Azhar dkk, 2002: 93), yang terpenting adalah tujuannya bukan yang lain, jangan berkhianat, membantai secara masal, jangan membunuh orang yang lanjut usia, wanita dan anak-anak.

Pada kenyataannya, aksi bom bunuh diri yang diberlakukan oleh sebagian umat Islam bukanlah  hal yang dibenarkan dalam Islam.bunuh diri untuk memperjuangkan sesuatu tidak sesuai dengan falsafah berjihad dalam Islam (Sutianto, 2005: 310). Motif dan sasaran bom bunuh diri tidak sesuai dengan motif dan sasaran jihad menurut Islam. Motif perang dalam Islam hanya dapat dilakukan jika pihak musuh terlebih dahulu memulai. Sasaran perang dalam Islam tidak menyebabkan pengrusakan masal dan penghilangan sumber kehidupan manusia.

Akibat dari kesalahan motif dan sasaran jihad yang dilakukan teroris menyebabkan lahirnya Islam phobia. Ketakutan akan Islam dan segala hal yang berbau Islam.

RUU Intelejen
Ketakutan pada Islam berakibat pada segala unsur agama, termasuk lembaga pendidikan Islam. Saat terjadi Bom Bali 1 santer terdengar terorisme dikaitkan dengan pesantren akibat tuduhan pemerintah terhadap keterlibatan Abu Bakar Ba’asyir. Hingga banyak orang takut menitipkan putra putrinya di pesantren. Padahal pesantren adalah tempat pendidikan non formal yang mengajarkan para santri risalah keislaman. Risalah-risalah yang erat akan pesat kedamaian.

Tidak cukup dengan pesantren. Citra negative pun ditujukan pada perguruan tinggi Islam. Tuduhan pada salah seorang mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah akan keterlibatannya dalam aksi terror di Rich Calton dan J.W. Marriot menjadi kesempatan emas untuk menjatuhkan Islam. Hal serupa pun terjadi di Cibiru, saat ditemukannya persembunyian teroris di daerah Cibiru yang dekat dengan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Kota wali pun tengah disibukkan dengan aksi teror. Bom bunuh diri di Cirebon cukup menyita perhatian khalayak.
Kasus terorisme ini dimanfaatkan pemerintah untuk mengadakan undang-undang intelejensi dimana intelejen bertindak sebagai lembaga sensor dakwah Islamiyah.  Majalah Time edisi 30 September 2002 menurunkan satu tulisan berjudul, ”Taking The Hard Road” di mana dibuka oleh tulisan “Indonesia menghadapi pilihan sulit menggulung kaum ekstrimis dan risikonya mendapatkan reaksi keras dari umat Islam”.
Hampir 10 tahun kemudian setelah tulisan itu, tahun 2010-2011, Kata-kata ekstrimis, terror bom, Gerakan radikal, mulai terdengar di masyarakat. Kata-kata yang dahulu baik, semakin kemari semakin bermakna negarif seperti jihad, Negara Islam, Syariat Islam, dan lainnya.
Namun, mungkin saat ini umat Islam yang semakin terdesak, seolah–olah tidak  ada bedanya antara Islam dengan ekstrimis, teroris atau bahkan seperti yang diungkapkan para orientalis, bahwa Islam itu teroris, ekstrimis, dan lainnya.
Media memulai peranan penting dalam pembentukan opini. Saat ini, isu yang digencarkan adalah tentang NII KW9, yang pada mulanya diduga ada orang yang dicuci otaknya. Namun mengapa tiba-tiba bisa menyambung kepada NII ini, di saat sebelumnya, media gencar memberitakan bom terhadap Ulil, Bom di Mesjid, Bom yang diliput, juga perampokan CIMB Niaga yang dalam diskusi-diskusi terbuka, ada saja yang mengaitkan dengan Umat Islam yang ‘ekstrimis, teroris, dll’.
Saat ini isu tentang NII KW9 mulai dimunculkan kembali, padahal kasus ini sudah bergulir puluhan tahun, dimana terjadi desas-desus bahwa NII KW9 sengaja ‘dipelihara’ Intel. RUU Intelejen pun mulai jadi wacana.
Jadi, apa yang sebenarnya dituju oleh isu yang bergulir saat ini (NII)? Ditambah dengan adanya RUU Intelejen, pembahasan agama dan kekerasan yang marak di media?
Sejarah yang Kembali Terulang
Orang-orang Komando Jihad ditangkap, Undang-undang Subversif PNPS No. 11 Tahun 1963 .Sejak saat itulah UU Subversif ini digunakan sebagai senjata utama untuk menangani semua kasus yang bernuansa makar dari kalangan Islam. Kenneth E. Ward menyatakan, rezim Orde baru (yang dimotori oleh Jendal Ali Moertopo, Kepala Opsis/Aspri Presiden) sedari awal sudah menempatkan Umat Islam melalui Identitas dengan “Darul Islam” (NII), sehingga cenderung hendak menghancurkan Islam, sejak kasus Komando Jihad (Komji), stigma bahwa Islam merupakan agama kaum ekstrim kanan terus didengungkan oleh kelompok Ali Moerrtopo.
M. Sembodo dalam bukunya Pater Beek, Fremason, dan CIA pada hal 142 menjelaskan bahwa ada kesan yang ingin ditimbulkan dari penangkapan-penangkapan aktivis Islam.
Penangkapan ini memberikan adanya pembenaran pada Ali Moertopo bahwa telah muncul bahaya makar yang dilakukan oleh ekstrimis Islam guna memecah belah NKRI. Dengan cara ini ada dua keuntungan yang didapatkan, yaitu memberikan kesan bahwa umat Islam adalah umat yang tidak setia pada NKRI. Kedua memberikan tekanan kepada umat Islam agar tidak macam-macam dengan pemerintah.
Agar tidak dicap macam-macam, umat Islam mungkin saja harus sekuler, harus berpikir liberal, agar tidak dimusuhi oleh Pemerintah. Suatu penggiringan opini yang sangat cerdas sekali, yang akhirnya umat Islam mungkin menjadi malu dengan identitas keislamannya.
Jika kita melihat sejarah, terlihat pola sejarah masa lalu berulang kemasa kini. Jangan heran, mungkin suatu saat akan ada orang tua yang melarang anaknya mengaji, mungkin jika ada orang yang mengajak kepada Islam, orang akan curiga, ketika ada orang berdiskusi tentang Islam, akan menjauh, ketika membahas tentang Negara yang berasaskan Islam akan malu, ketika ada halaqah-halaqah beberapa orang dicurigai, ketika ada sebuah dauroh, dituduh memberontak, ketika membahas tentang politik Islam, dikaitkan dengan menggulingkan NKRI, Rohis dituduh awal mula perekrutan teroris. Rekrutmen da’i dicurigai. Akhirnya orde baru kembali terjadi. Rancangan Undang-undang Intelejen sedang dibahas di DPR. Pengawasan terhadap gerakan dakwah, penyusupan intelijen, dan sejarah berulang kembali.
Para dai tidak mempunyai wibawa lagi karena setiap pergerakannya sebagai duta agam penuhh kedamaian (baca:Islam) harus diawasi oleh Intelejen. aBIN dapat melakukan penangkapan dan pemeriksaan intensif (interogasi) paling lama 7X24 jam. Usulan itu seperti halnya masa lalu, dapat membuat mereka ditangkap, tanpa surat penangkapan, tanpa pemberitahuan, dll. Sehingga Gerakan Islam semakin terbatas geraknya. Lagi-lagi kita harus belajar dari sejarah.
RUU Intelejen: Konspirasi Anti-Islam
Dari romansa sejarah tentang Undang-Undang Intelejensi tersebut hadirlah teori konspirasi. Konspirasi merupakan persekongkolan rahasia dalam suatu tindakan kejahatan. “bagi kalangan “teori konspirasi”, ia dianggap teori yang sudah usang dan harus dibuang jauh-jauh. Namun bagi kalangan lain, teori konspirasi masih dipandang relevan. Tentu keduanya mempunyai dalih dan argumen masing-masing.
Siapa pun yang masih mempunyai hati nurani pasti mengutuk tindakan biadab di Bali yang memakan korban ratusan jiwa warga sipil.begitu pn dengan pemaksaan yang dilakukan oleh NII.

Bagi mereka yang antiteori konspirasi, persoalan bom Bali sudah ditemukan jawabannya, bahkan sebelum tragedi itu terjadi. Dalam hal ini tentu dapat disepakati, terutama jika terorisme didefinisikan secara sederhana sebagai aksi kekerasan bermotif politis yang menjadikan warga sipil sebagai sasarannya.

Bagi para “penganut” teori konspirasi, kasus terorisme dan NII merupakan bagian dari skenario besar perang melawan radikalisme yang dalam realitasnya semakin mengarah kepada kebijakan anti Islam yang tengah dijalankan Barat.
Kaum muslimin di Indonesia diprovokasi untuk berpikir sekuler-liberal, sebagian dari budaya global. Bahkan kaum muslimin didorong untuk meninggalkan cara berpikir tauhid, yang mengakui Al-Quran sebagai kitab suci yang valid dan mukjizat, dan hanya mengakui Islam sebgai satu-satunya agama yang benar.
Umat Islam semakin malu dengan identitas keislaman. Semakin malu dengan syariat, anti terhadap penegakan hukum Islam, mulai bangga dengan liberalisme, hermeneutika, dan humanisme. Dan memang itulah yang dituju mereka. Pertanyaannya apakah kita, kawan-kawan kita, saudara kita akan terjebak dengan makar mereka? Disinilah para dai berperan besar.
1)      


Dafatar Pustaka
1.      Karen Amstrong. 2003. Sejarah Tuhan. Bandung: Mizan.
2.      Said Aqiel Siradj. 2011. Mencari Akar dan Solusi Terorisme. Jakarta: Republika.
3.      Sayyed Hosen Nasr.2003. The Heart of Islam, Pesan-Pesan Universal Islam untuk Kemanusiaan. Bandung: Mizan.
4.      Sutianto dkk. 2005. Al-Quran Kitab Kesalehan Sosial. Bandung: LPTQ Jawa Barat.

Resensi dan Analisis Film Perempuan Berkalung Sorban


*      Resensi dan Analisis Film Perempuan Berkalung Sorban

Judul Resensi: Islam Ramah Perempuan
Jenis Film : Drama
Produser : Hanung Bramantyo
Produksi : Starvision
Pemain : Revalina S. Temat
Joshua Pandelaki
Widyawati
Oka Antara
Reza Rahadian
Ida Leman
Sutradara : Hanung Bramantyo
Penulis : Hanung Bramantyo
Ginatri S. Noor


Kodrat Perempuan yang selalu di anggap lebih rendah dan selalu di bayang-bayangi oleh lelaki tidaklah benar dalam Islam —Islam tidak menghalalkan seorang suami bertindak kasar terhadap istrinya dengan alasan yang tidak masuk akal, kan?!—
-–kenyataan hidup seorang wanita yang paling pahit adalah saat diduakan, di satu sisi si wanita sudah berusaha untuk melayani suami dengan baik, tapi satu sisi lain, suami tetap melakukan KDRT yang membuat si wanita takut dan merasa terancam untuk mengiyakan keinginan suami,,,lalu? Kalau tidak diiyakan, suami malah menduakannya? Lantas, apa yang harus dilakukan si wanita?—
            Film ini menjadi salah satu gambaran tentang kehidupan seorang wanita.
Wanita nantinya akan menjadi seorang istri yang seharusnya patuh pada suam
i.
Tapi, jika dihadapkan pada permasalahan serumit seperti yang digambarkan dalam film ini, apa yang musti wanita lakukan? Itu adalah pemikiran selanjutnya bagi para wanita.
            Tentunya, Allah ga akan memberi cobaan di luar batas kemampuan manusia…
Permasalahan adalah batu loncatan manusia untuk menjadi ‘cum laude’ di mata Nya. Terlebih lagi wanita.Wanita akan melayani suami, akan mengingatkan suami untuk berbuat benar, akan mengajari sang buah hati untuk berlaku baik, akan bertanggung jawab terhadap keutuhan keluarganya. Kerumitan menjadi seorang wanita adalah sebuah keindahan di matanya. Dan kesabaran, ketegasan, serta air mata telah Allah berikan spesial untuk wanita dalam menyikapi kehidupannya.
Perempuan Berkalung Sorban  adalah sebuah kisah pengorbanan seorang perempuan, Seorang anak kyai Salafiah sekaligus seorang ibu dan isteri. Annisa (23th), seorang perempuan dengan pendirian kuat. Cantik dan cerdas. Annisa hidup dalam lingkungan keluarga kyai di pesantren Salafiah putri Al Huda Jombang, Jawa Timur. Pesantren Salafiah putri Al Huda adalah pesantren kolot dan kaku. Baginya ilmu sejati dan benar hanyalah Quran, Hadist dan Sunnah. Ilmu lain yang diperoleh dari buku-buku apalagi buku modern dianggap menyimpang. Karena itu para santri, termasuk Annisa, dilarang membaca buku-buku tersebut.
Dalam pesantren Salafiah putri Al Huda diajarkan bagaimana menjadi seorang perempuan muslim. Seorang muslimah yang baik menurut Islam adalah, tidak diperbolehkan membantah suami; Haram meminta cerai suami; selalu ikhlas menerima kekurangan dan kelebihan suami, termasuk jika suami berkehendak melakukan poligami; Tidak boleh berkata lebih keras dari suaminya, sekalipun dalam menyatakan ketidaksetujuan; Tidak boleh mengulur-ulur waktu bahkan menolak ketika suami mengajak berjimak; Ikhlas menerima pembagian waris sekalipun hanya ¼ bagian. (lebih kecil daripada bagian laki-laki).
Pelajaran itu membuat Annisa beranggapan bahwa Islam sangat membela laki-laki. Islam meletakkan perempuan sangat lemah dan tidak seimbang. Sejak kecil Annisa selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari Kyai. Dua orang kakaknya boleh belajar berkuda, sementara Annisa tidak boleh hanya karena dirinya perempuan.
‘Bagaimana dengan Hindun Binti Athaba?’ Tanya Annisa kepada ayahnya. ‘Beliau perempuan, seorang panglima. Lalu Fatima Azahra, putri Rosul, malah memimpin perang.’ Tapi protes Annisa selalu dianggap rengekan anak kecil. Annisa juga sering memprotes, ketika Ustadz Ali mengajarkan kitab Ahlkaqul Nisaa, Bulughul Maram dan Bidayatul Mujtahid, yang membahas hak dan kewajiban perempuan dihadapan suami yang dirasa tidak adil bagi Annisa. ‘Apa hukuman buat suami yang minta cerai,. Padahal sang isteri kekeuh mempertahankan rumah tangga?’ Tanya Annisa kepada Ustadz Ali. ‘Lalu bagaimana jika suami yang mengulur-ulur waktu atau menolak ketika sang isteri mengajak berjimak? Apa hukuman buat suami?’
Lagi-lagi protes Annisa hanya dianggap sambil lalu. Annisa selalu merasa dirinya berada dalam situasi yang salah. Hanya Khudori, paman dari pihak Ibu, yang selalu menemani Annisa. Menghiburnya sekaligus menyajikan ‘dunia’ yang lain bagi Annisa.  Khudori selalu menjadi tambatan, curahan perasaan Annisa ketika dirinya diperlakukan tidak adil oleh keluarganya. Diam-diam Annisa menaruh hati kepada Khudori. Tapi cinta itu tidak terbalas karena Khudori menyadari dirinya masih ada hubungan dekat dengan keluarga Kyai Hanan, sekalipun bukan sedarah. Khudori juga menyadari selisih umur yang terpaut jauh dengan Annisa. Hal itu membuat Khudori selalu membunuh cintanya demi menjaga stabilitas pesantren. Sampai akhirnya Khudori melanjutkan sekolah ke Kairo.
Khudori selalu menekankan ke Annisa untuk belajar. Kalau perlu sampai ke luar negeri. Khudori yang membawa apemikiran Annisa kearah keterbukaan wawasan, hingga secara diam-diam Annisa mencoba mendaftarkan kuliah ke jogja dan keterima. Tapi kenyataan berkata lain. Kyai Hanan tidak mengijinkan Annisa melanjutkan kuliah ke Jogja, dengan alasan bisa menimbulkan fitnah, ketika seorang perempuan belum menikah berada sendirian jauh orang tua. Annisa merengek dan protes dengan alasan ayahnya.
Akhirnya Annisa malah dinikahkan dengan Samsudin, seorang anak Kyai dari pesantren Salaf terbesar di Jombang. Pernikahan itu dimaksudnya juga sebagai pernikahan dua pesantren Salafiah yang mana nantinya akan menjadi pesantren besar di kota Jombang seperti Tebu Ireng. Sekalipun hati Annisa berontak, tapi pernikahan itu dilangsungkan juga demi kelangsungan keluarga dan pesantren Al Huda.
Dalam mengarungi rumah tangga bersama Samsudin. Annisa selalu menadapatkan perlakuan kasar dari samsudin. Samsudin adalah tipe seorang laki-laki pengidap kelainan psikologis. Seorang lelaki possesif, kasar. Tapi ketika Annisa berniat meninggalkannya, Samsudin akan berubah menjadi lelaki rapuh yang merengek-rengek sambil bersujud meminta ampun kepada Annisa. Biduk keluarga Annisa berlangsung bagai neraka. Tubuh Annisa yang semula segar bercahaya, menjadi suram. Apalagi dalam 2 tahun pernikahan, Annisa tidak dikaruniai anak. Keluarga Samsudin semakin memandang buruk Annisa dan samsudin. Sampai kemudian Annisa harus menhadapi kenyataan Samsudin menikah lagi dengan seorang janda bernama Kalsum. Seorang perempuan lebih tua, cantik dan bisa mempunyai anak. Harapan untuk menjadi perempuan muslimah yang mandiri bagi Annisa seketika runtuh. Annisa berada dalam pusaran gelombang panas yang tidak memiliki harapan untuk keluar.
Dalam keputusasaaan itu, Khudori pulang dari Kairo. Annisa seperti mendapatkan harapan. Tapi Khudori bukan seorang anak Kyai seperti Samsudin. Apalah arti seorang Khudori bagi keselamatan Annisa. Tapi Annisa tidak peduli. Dia tumpahkan keluh kesah ke Khudori. Annisa meminta Khudori membawanya pergi. Annisa rela dianggap anak durhaka asal dirinya bisa keluar dari kemelut keluarganya. Tapi Khudori bukan lelaki gegabah. Khudori mencoba meredam ‘bara’ Annisa. Dalam kegusarannya itu, Khudori memeluk Annisa. Sebuah pelukan hangat seorang paman kepada keponakannya yang sedang resah. Tapi tiba-tiba, Samsudin datang dan memergoki kedunya. Samsudin berteriak ‘Zinah! Rajam! Rajam!’ yang kemudian membawa Annisa dan Khudori kedalam kemelut fitnah. Annisa tidak bisa berbuat apa-apa karena orang-orang sudah terlanjur terbakar emosi fitnah. Kejadian itu membuat Kyai Hanan malu dan sakit hingga kemudian meninggal. Khudori diusir dari kelangan keluarga pesantren Al Huda, sementara Annisa pergi ke jogja untuk melanjutkan niatannya sekolah. Pesantren Al Huda diserahkan kepada Reza, kakak Annisa untuk dikelola. Akibat peristiwa itu, hubungan keluarga Samsudin dan Annisa menjadi buruk. Tapi Reza mencoba memperbaiki hubungan silaturahmi dengan keluarga Samsudin demi kepentingan pesantren. Hal itu membuat hubungan Reza dan Annisa renggang. Dimata Reza, Annisa seorang perusak stabilitas keluarga. Perilaku Annisa buka cerminan anak kyai yang baik.         Sementara itu Annisa berkembang sebagai muslimah dengan wawasan dan pergaulan yang luas. Lewat studinya sebagai penulis, Annisa banyak menyerap ilmu tentang filsafat modern dan pandangan orang barat terhadap Islam. Banyak buku sudah dihasilkan dari Annisa yang memotret hak perempuan dalam Islam.
Dalam kiprahnya itu, Annisa dipertemukan lagi dengan Khudori. Keduanya masih sama-sama mencintai. Namun Annisa masih dalam trauma pernikahan. Tapi Khudori adalah lelaki dewasa yang bisa mengerti kondisi Annisa. Akhirnya keduanya menikah meski sebetulnya pernikahan itu membuat hubungan Annisa dan keluarganya semakin jauh. Oleh Khudori Annisa disarankan untuk pulang. Annisa tidak mau karena dirinya sudah merasa diusir dari rumah itu.
 ‘Sebenarnya tidak ada yang mengusir kamu. Kamu yang selalu merasa terusir oleh kami.’ Begitu Ibunya selalu bilang kepada Annisa. Bagi Annisa Ibu adalah figure yang lemah. Tidak berdaya dihadapan ayahnya. Ibu bukan seorang yang bisa dijadikan teladan bagi Annisa. Tapi kemudian Annisa sadar bahwa untuk menciptakan lingkungan nyaman, seseorangan harus mengubah dirinya menjadi nyaman. Dan itu yang dilakukan oleh Ibu, yang biasa dipanggil Nyai. Rasa diam ibu, yang dianggap Annisa sikap lemah dan tak berdaya, sebenarnya adalah sikap toleran dan pengertian demi lingkungan stabil yang dia perjuangkan.
Akhirnya Annisa pulang dan sujud dihadapan ibunya. Kata maaf dari Annisa bukan ditujukan untuk suatu kesalahan. Tapi sebuah sujud rasa bakti kepada orang tua. Dalam kata maaf itu, Annisa berjanji untuk terus berjuang menjadi yang terbaik. Menjadi muslimah sebagaimana yang Ayah dan Ibunya inginkan.
air mata Annisa tak cukup mengalir dalam sujud baktinya pada sang ibu. air matanya kembali tumpah saat sang suami pergi meninggalkan dirinya dan anak yang sedang dikandungnya. tapi Annisa tetap tegar menghadapinya.


Analisis Film
Indahnya wanita.
Film ini sangat dalam untuk kehidupan dan untuk agama. Seorang Perempuan Yang berjuang keras untuk kesetaraan hak antara Perempuan dan Lelaki, khususnya bagi Agama Islam.
Film ini mengajarkan bahwa kita harus pintar dalam mengartikan suatu ayat, ayat itu bermakna luas dan jangan berpikiran sempit menanggapinya.
Di ceritakan juga bahwa dalam beragama kita juga harus mengikuti alur zaman, jangan mau kita terkungkung dalam masa lalu, kita harus membuka mata pada kehidupan jaman sekarang untuk menanggulangi permasalahan.
Karena sekeras apapun kita tidak akan bisa memenangkan hati manusia dengan cara mengekangnya, justru biarkan ia “bebas” melihat dan mencari jalan yang terbaik bagi dirinya sendiri dengan tetap memegang teguh agama sebagai jalan utamanya.
Diceritakan juga dalam film ini bahwa “kebebasan” adalah hal yang mutlak dan membahagiakan. Namun jangan juga mengartikan “kebebasan” dengan cara yang berbeda atau negatif, yang malah akhirnya akan menjerumuskan diri kita sendiri.

* Resensi dan Analisis Film Sang Pencerah



*      Resensi dan Analisis Film Sang Pencerah
       
Judul resensi: Sang Pembaru dari Kauman                           
 Jenis film: Drama.
Sutradara: Hanung Bramantyo.
Penulis: Hanung Bramantyo.
Pemain: Lukman Sardi, Slamet Rahardjo, Zaskia Adya                                Mecca, Giring, Ihsan Idol, Ikranegara, Yatti                                 Surachman, Joshua Suherman.
Nama kecil Ahmad Dahlan (Lukman Sardi) adalah Muhammad Darwis (Ihsan Taroreh). Ia lahr dari pasangan orang ttua yang dikenal sebagai pemuka agama. ayahnya, Kyai Haji Abu Bakar, adalah serang khatib dan Imama besar di Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta. sedangkan ibunya anaka seorang penghulu bernama Haji Ibrahim. silsilah keturunannya menunjukkan bahwa ia mempunya keturunan priyayi dan kyai sekaligus.
Pada tahun 1890, pada usia yang masihh remaja Muhammad Darwis diminta oleh ayahnya untuk menunaikan ibadah haji sambil memperdalam ilmu agama Islam di tanahh suci. Saat Muhammad Darwis berangkat ke tanah suci sang ayah berkata padanya untuk pulang dengan membawa perubahan.
Kembali di tanah air, Muhammad Darwis mengubah namaya menjadi Ahmad Dahlan, dan demikian bersemangat untuk sebuahh cita-cita melakukan pemikiran dan pemahaman Islam. Ia mengawali cita-citanya itu dengan mengubah arah kiblat pada arah yang sebanarnya.
Namun praktek pembaharuan yang dialkukan Ahmad Dahlan tidak semudah yang diharapkan. Untuk yang pertama ia gagal merealisasikan perubahan arah kiblat di masjid Kesultanan Yogyakarta. Kebanyakan kaum tua menentang langkah Dahlan tersebut. Dalan kemudian berusaha mewujudkan maksud pembaharuannya itu dengan membangun langgar sendiri dan meletakkan kiblat dengan tepat. Usaha ini pun gagal karena lagi-lagi mendapat tantangan dari kaum tua. Seorang pengahulu di daerah itu bakan memerintahkan masyarakat membinasakan langgar yang dibangun Dahlan.
Dahlan tidak mampuu berbuat banyak, ia nyaris patah hati. Hampir saja Dahlan meninggalkan kota kelahiannya itu jika saja seorang anggota keluarga tidak menghalangi dan membangunkan unuknya sebuah langgar yang lain, dengan jaminan bahwa ia dapat mengajarkan pembaruan Islamnya itu sesuai keyakinannyasendiri, tanpa ada gangguan dari orang lain. Dahlan mulai berjalan. Dan ia berhasil. Keberhasilannya itu semakin menunjukkan titik cerah ketika ia mncapai keprcayaan menggantikan ayahnya sebagai khatib di Masjid Sultan.
pada tahun 1909 ahlan memasuki organisasi pergerakan Boedi Oetomo, dengan maksud memberikan pelajaran agama Islam bagi para anggotanya. dengan cara ini, ia berharap dapat mewujudkan tujuan yang lebih luas, yaitu dapat memberikan pelajaran agama di sekolah-sekolah dan kantor-kantor pemerintah.
Santri dari Kauman itu kemudian mempersiapkan diri secara matang untuk melakukan perombakan pada berbagai faham yang dianggapnya telah menimpang dari ajaran Islam. Tekadnya itu ia wujudkan dengan endirikan organisasi Islam yang diberi nama Muhammadiya.
Nama   organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW. sehingga Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Tujuan utama Muhammadiyah adalah mengembalikan seluruh penyimpangan yang terjadi dalam proses dakwah. Penyimpangan ini sering menyebabkan ajaran Islam bercampur-baur dengan kebiasaan di daerah tertentu dengan alasan adaptasi.
                        Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8          Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad         Darwis, kemudian dikenal dengan KH. A. Dahlan . Beliau adalah pegawai kesultanan    Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan          ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-            amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali          kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist. Oleh karena itu      beliau memberikan pengertian keagamaan dirumahnya ditengah kesibukannya   sebagai Khatib dan pedagang. 


Analisis Film
Sang Pencerah mengungkap sisi manusiawi seorang Ahmad Dahlan yang memang memiliki kehidupan multi warna dan kontroversial. Dari seorang kiai, pendidik hingga bermain musik. Pada masanya, dia bahkan dianggap kafir. Tetapi beberapa orang yang berfkiran terbuka dan banyak anak-anak muda yang kritis menyukai caranya.
Sebagaimana yang disinggung sebelumnya, sepulang dari Mekah, Darwis muda (Ihsan Taroreh) mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan. Seorang pemuda usia 21 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah Bid’ah atau sesat. 
Melalui langgar atau surau nya Ahmad Dahlan (Lukman Sardi) mengawali pergerakan dengan mengubah arah kiblat yang salah di Masjid Besar Kauman yang mengakibatkan kemarahan seorang kyai penjaga tradisi, Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) sehingga surau Ahmad Dahlan dirobohkan karena dianggap mengajarkan aliran sesat. Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai Kafir hanya karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda. 
Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo. Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut. Dengan ditemani isteri tercinta, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan lima murid murid setianya : Sudja (Giring Nidji), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adishwara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman. 
Dengan diadakannya film ini, tidak hanya untuk umat Muhammadiyah saja tetapi umat muslim di seluruh Indonesia pun diharapkan agar sadar dan melihat siapa musuh terbesar saat. Bukan orang-orang kafir atau mereka yang lain agama dengan kita. Sedangkan kita, sebagai umat muslim yang masih bodoh dan buta akan arti Islam sesungguhnya. 
Al-muslimu mahjũbun bil muslimin. Sebuah kutipan yang disampaikan Ahmad Dahlan kepada muridnya ketika membahas terpuruknya kondisi umat muslim saat itu. Bahwa yang membuat Islam hancur adalah umat muslim itu sendiri. Maksudnya adalah sikap dan perilaku umat muslim yang tidak sesuai ajaran agama Islam dan Al-Qur’an serta apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. 
Maka dari itu, kita sebagai umat muslim yang utuh, yang masih mempunyai akal yang sehat serta pemikiran yang cemerlang. Sebaiknya tahu bagaimana kondisi umat muslin di jaman penjajahan dahulu. Serta bagaimana Muhammadiyah berupaya keras melawan kondisi masyarakatnya yang kontra. Dari buku dan film inilah semuanya akan didapatkan. Mari sama-sama kita menjadikan bangsa ini yang mempunyai akal yang cerdas dan akhlak yang baik serta pemikiran yang berkembang.

Fungsi-Fungsi Tabligh dari Media Cetak


1.      Fungsi-Fungsi Tabligh dari Media Cetak

Dari beberapa defenisi mengenai tabligh dapat ditarik kesimpulan, pertama tabligh merupakan suatu proses usaha yang dilakukan secara sadar dan sengaja, sehingga diperlukan organisasi, manajemen, sistem, metode dan media yang tepat. Kedua, usaha yang diselenggarakan itu berupa ajakan kepada manusia untuk beriman dan mematuhi ketentuan-ketentuan Allah, amar ma’ruf dalam arti perbaikan dan pembangunan masyarakat, dan nahi munkar. Ketiga, proses usaha yang diselenggarakan tersebut berdasarkan suatu tujuan tertentu, yaitu kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang diridhai Allah. Sedangkan surat kabar adalah salah satu bentuk jurnalistik. Djafar H. Assegaf (1983) mengatakan jurnalistik merupakan kegiatan untuk menyampaikan pesan/berita kepada khalayak ramai (massa), melalui saluran media, baik media cetak maupun media elektronik (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 16).
Bahri Gazali mengatakan bahwa surat kabar adalah salah satu media komunikasimasyarakat pembaca yang sangat besar pengaruhnya terhadap pembacanya (Bahri Gazali, 1997: 42)  Oleh karena itu surat kabar lebih menekankan nada informatif, namun terdapat juga nada persuasif.
Media pers seperti surat kabar dan majalah tidak hanya sarat dengan informasi-informasi berwujud berita, tetapi juga diwarnai dengan bentuk-bentuk tulisan lainnya yang bersifat ganda, memberi infomasi sekaligus menghibur (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 34). Dengan demikian pers memiliki empat fungsi utama yaitu sebagai pemberi informasi, pemberi hiburan, melakukan kontrol sosial dan mendidik masyarakat secara luas (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 4).
Fungsi informasi bagi pers mmberikan ruang bagi para pemikir, muballigh, ulama dan pemuka Islam lainnya, untuk memanfaatkan serta mempergunakan peluang maupun pengaruh yang dimiliki oleh pers tersebut guna meningkatkan dakwah. Harapan tersebut seirama dengan apa yang dinyatakan oleh Hasan Basri Tanjung bahwa beranjaknya kehidupan masyarakat pada tahap informasi telah mengajak kita untuk melangkah lebih jauh atau paling tidak sama dengan perubahan sosial yang ada. Untuk mengantisipasi hal tersebut kata beliau, dakwah billisan tidak memadai lagi, tetapi harus mendapat dukungan dengan suatu media yang refresentatif dan relevan dengan cakrawala pikiran manusia yang semakin maju (Hasan Basri Tanjung, 1993). Dengan demikian pers dapat dipandang sebagai bagian dari strategi dakwah, sekaligus sebagai instrumen perubahan yang bersifat hikmah, yang menurut Harun Nasution memiliki dimensi intelektual, etikal, estetikal, dan prakmatikal.
fungsi menghibur bagi pers, bukan dalam arti menyajikan tulisan-tulisan atau informasi-informasi mengenai jenis-jenis hiburan yang disenangi oleh masyarakat. Akan tetapi menghibur dalam arti menarik pembaca dengan menyuguhkan hal-hal yang ringan diantara sekian banyak informasi yang berat dan serius. Sutirman Eka Ardhana, 1995: 35).
Fungsi mempengaruhi dari kehadiran pers terarah pada pers yang menjadi kontrol sosial. Pers memiliki pengaruh yang besar dalamm kehidupan masyarakat. Pers pun dapat mengarahkan frame of reference dari masyarakat. Sehingga media cetak (pers) sangat efektif digunakan untuk bertabligh.
Dengan demikian tampak bahwa ada kesamaan antara fungsi dakwah maupun tabligh dan fungsi pers (surat kabar). Dalam hal ini Hasanuddin mengatakan bahwa persamaan antara dakwah dan publisisti yaitu sama-sama menyampaikan isi pernyataan, sasarannya sama-sama yaitu manusia, sama-sama bertujuan agar manusia lain jadi sependapat, selangkah dan serasi dengan orang yang menyampaikan isi pernyataan (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 45). Kelihatan bahwa antara abligh ataupun dakwah dan media yang disebut surat kabar atau Koran mempunyai hubungan yang erat, terutama dakwah masa kini yaitu surat kabar sebagai alat penyampaian dakwah kepada khalayak.

2.      Pengaruh Televisi Terhadap Tingkat Pemahaman Dan Pengamalan Ajaran Islam Pemirsanya

            Maraknya tabligh melalui media televisi baik lewat siaran acara tabligh di pagi hari maupun sinetron religi di malam hari memberikan dampak positif bagi pemirsanya. Acara-acara tabligh di pagi hari menjadi siaran yang tepat untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia. Dalam ranah pemahaman acaara-acara tabligh seperti Mama dan Aa, Ummi dan lainnya, mampu menambah pemahaman pemirsa seputar Islam. Contohnya, dalam acara Mama dan Aa dengan mubalighah Mama Dedeh memberikan kesempatan pada pemirsa untuk mencurahkan permasalahannya guna mencari solusi yang Islami dalam menyelesaikannya. Dengan demikian si pemirsa disuguhkan hal yang ia sangat perlukan dalam hidupnya, yakni soluusi dari malahnya itu. Jawaban mubalighah tidak hanya memberi pemahaman pada penanya saja, tetapi juga bagi pemirsa yang lain yang menyaksikan acara tersebut. Sehingga, orang yang memiliki permasalahan yang sama bisa mendapat solusinya.
            Sinetron religi pun tak kalah berpengaruhnya  dalam memberikan pemahaman agama terhadap pemirsa. Seperti pemahaman kewajiban berkerudung bagi seorang muslimah. Tak sedikit orang tertari berkerudung seperti trendnya tokoh sinetron religi yang sedang “in”. Namun, karena notabene aktris yang berperannya tidak berkerudung, pemirsa pun banyak yang beranggapan kerudung sebagai ternd yang dipakai dan dilepas semaunya.
            Sayang, pemahaman yang bertambah tidak berbanding lurus dengan pengamalan pesan tabligh. Tabligh lewat televisi siaran tabligh pagi hari maupun sinetron religi, menurut saya baru dapat dianggap sebagai Tabligh informatif  karena  sekedar“memberitahu” umat tentang, misalnya, rukun-rukun agama, hal-hal yang wajib, sunnat, haram dst dalam Islam, sifat-sifat dan amalan-amalan Rasul yang perlu diteladani, cara berwudu’ yang benar, dsb. Tetapi belum bisa dijadikan tabligh penyadaran dimana pesan-pesan tabligh tersebut diamalkan oleh pemirsanya.
            Fakta sosial yang terjadi di tengah masyarakat menjadi alasan saya menyebut tabligh lewat televisi belum menjadi penyadar terhadap pemirsanya. dimana semakin marak pemirsa siaran tabligh di pagi hari semakin banyak pula pemirsa yang menonton siaran gosip. Semakin sering diangkat tema tentang bahaya korupsi semakin sering pula kegiatan korupsi dilaksanakan. Semakin banyak mubaligh menjelaskan masalah zinah semakin banyak pula PSK yang “mangkal”. Begitu banyak pembahasan mengenai kewajiban menghormati orang tua, begitu banayak pula anak yang terus durhaka pada orang tua.  Semakin vokal para mubaligh menyerukan anti forngrafi dan fornoaksi semakin berani pula masyarakat melakukan fornografi dan fornoaksi. Ironisnya, mereka melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu bukan karena tidak tahu syari’at, justru mereka tahu syari’at yang tak lain salah satunya dari siaran tabligh dan sinetron Islami  itu.

Mengenai Saya

*A. Rojabi..."aLways come to discussion" *Abu Nurjihad..."saywhat do you think" *Anas Abdul Razak..."Islamic communication and broadcasting is the best" *Arum Ningsih..."Always SPIRIT" *Asep Wildan Setiawan..."don't be lazy"