Urgensi Mempelajari Filsafat Islam
Oleh Asep Wildan
Mengarahkan manusia (mahasiswa/ red) untuk mengakui secara arif sesungguhnya pemikiran itu kebenarannya relative, sehingga setiap pemikiran memiliki nilai kebenarannya masing-masing. Itulah urgensi mempelajari filsafat Islam selain mematangkan dan mendewasakan pemikiran, mengoptimalkan potensi spiritual dan intelektual, serta melawan pemikiran Barat.
Filsafat merupakan jawaban dari pertanyaan terakhir atas apa yang tidak bisa dijawab oleh ilmu.
Soetardjo A. Wiramihardja menjelaskan, sesungguhnya belajar filsafat tidak peernah puas jika cara belajarnya penuh rasa seni. Sejarah filsafat telah menciptakan ideology di negera majudan Negara berkembang. Demikian pula, berapa banyak agama di muka bumi diyakini memberikan petunjuk bagi para pemeluknya, yang sesungguhnya produksi filsafat.
Berpikir mendalam dan radikal, kontemplatif hingga ke akar-akarnya merupakan cirri khas filsafat. Pertanyaan demi pertanyaan yang tidak pernah final, demikian pula jawaban atas pertanyaan akan dipertanyakan kembali.
Sutardjo memberikan ilustrasi bagaimana orang Islam mengamalkan ajaran agama bersumber dari hasil pemikiran para ulama. Para ulama dalam membuat kesimpulan-kesimpulan hukum bersumber dari Al-Quran. Al-Quran adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai mukjizat terbesar di sepanjang kenabian dan kerasulan. Dengan demikian, mengapa orang Islam “tidak langsung” merujuk kepada wahyu dalam mengamalkan Al-Quran. Itu artinya pelaksanaan agama tidak didasarkan kepada ajaran yang orisinal. Sementara para ulama dipengaruhi oleh situasi sosial dan politik ketika ia hidup, guru-guru yang pernah mengajarkan ilmunya, madzhab yang dianut, dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan tertentu, yang dirujuknya, dan berbagai pengaruh lainnya. Al hasil, mengamalkan ajaran agama penuh dengan keterpengaruhan, demikian seterusnya, pertanyaan demi pertanyaan tidak akan pernah habis.
Inilah kegunaan filsafat dalam konteks epistemology. Bahwa kebenaran tidak berujung. Setiap jawaban mengandung kebenaran, tetapi bersifat logis spekulatif. Secar epistemologis tidak memisahkan antara satu dan lainnya . inilah sebabnya kajian filsafat berguna pula dalam rangka melatih cara berpikir yang integralistik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar