Budaya Lokal Sebagai Problema Dakwah
Oleh Anas Abdul Razak
Atas nama melestarikan budaya lokal perempuan Jawa Barat rela menari melenggak lenggokkan badan di hadapan kahalayak. Tari jaipongan.itulah sebutan tarian orang Sunda. Nyai ronggeng menjadi panggilan akrab untuk penari jaipongan. Wajah cantik, tubuh luwes dan menarik menjadi modal mereka dalam menari. Mereka tidak malu menghibur para lelaki dengan menari bersama dengan pakaian yang tidak sopan. Kebebasan berekspresi pun menjadi senjata ampuh dalam mempertahankan seni tari karya seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Ironisnya, kebebasan berlebel seni ini dilakukan oleh para muslimah Jawa Barat.
Muslimah yang seharusnya menjaga diri dari memamerkan tubuhnya justru senang melakukannya. Bahkan saat ada wacana pelarangan tari jaipongan oleh gubernur Jawa Barat para muslimah ini menolak keras pelarangan itu. sebagaimana yang dilakukan oleh Aliansi Bhineka Tunggal Ika.
Tari jaipong hanyalah salah satu contoh budaya lokal yang menjadi problematika dakwah. Budaya lokal dalam pandangan Deni Andriana pada tulisannya bejudul “Radio Komunitas dalam Pelestarian Budaya Lokal” - studi kasus terhadap upaya pelestarian budaya lokal yang dilakukan oleh radio Komunitas Pass FM, Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung-menuturkan,
“Dalam wacana kebudayaan dan sosial, sulit untuk mendefinisikan dan memberikan batasan terhadap budaya lokal atau kearifan lokal, mengingat ini akan terkait teks dan konteks, namun secara etimologi dan keilmuan, tampaknya para pakar sudah berupaya merumuskan sebuah definisi terhadap local culture atau local wisdom ini. Sebagai sebuah kajian, kemudian saya pun mempelajari dan mencoba mengaitkannya pada konteks yang ada. Definisi budaya lokal yang pertama saya ambil adalah berdasarkan visualisasi kebudayaan ditinjau dari sudut stuktur dan tingkatannya. Berikut adalah penjelasannya :
1. Superculture, adalah kebudayaan yang berlaku bagi seluruh masyarakat. Contoh: kebudayaan nasional;
2. Culture, lebih khusus, misalnya berdasarkan golongan etnik, profesi, wilayah atau daerah. Contoh : Budaya Sunda;
3. Subculture, merupakan kebudyaan khusus dalam sebuah culture, namun kebudyaan ini tidaklah bertentangan dengan kebudayaan induknya. Contoh : budaya gotong royong
4. Counter-culture, tingkatannya sama dengan sub-culture yaitu merupakan bagian turunan dari culture, namun counter-culture ini bertentangan dengan kebudayaan induknya. Contoh : budaya individualisme
Dilihat dari stuktur dan tingkatannya budaya lokal berada pada tingat culture. Hal ini berdasarkan sebuah skema sosial budaya yang ada di Indonesia dimana terdiri dari masyarakat yang bersifat manajemuk dalam stuktur sosial, budaya (multikultural) maupun ekonomi.”3)
Budaya lokal menjadi problematika dakwah saat budaya ini menyimpang dari nilai-nilai Islam dan tidak ada maslahat yang didapatkan dari budaya tersebut.
Islam mengajarkan perempuan menutup auratnya. tapi justru sebaliknya, budaya lokal bernama jaipongan justru memfasilitasi perempuan untuk membuka auratnya. inilah ketimpangan nilai-nilai budaya dengan nilai-nilai Islam. Padahal sudah jelas Islamlah yang mengangkat kehormatan seorang perempuan.
Disinilah dakwah menghadapi problema ketika berhadapan dengan budaya lokal yang sudah mengakar di masyarakat. Masyarakat enggan meninggalkan budaya itu dan menggap positif hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. Dengan mudah masyarakat menganggap jaipongan sebagai kekayaan orang Sunda yang patut dibanggakan dan dilestarikan.
Demikianlah, budaya bak dahan mawar yang mana jika sudah bengkok dan tidak diluruskan dari kecil akan terus bengkok hingga dahan itu tua. Dan setelah tua dahan yang bengkok itu akan semakin sulit diluruskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar