TINJAUAN EMPIRIK TENTANG EFEKTIFITAS KULIAH DI SEKOLAH PERSPEKTIF PSIKOLOGI KOMUNIKASI
oleh Arum Ningsih
A. Gambaran Umum Kuliah Di Sekolah
Dua puluh tujuh mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) angkatan 2009 kelas A harus menerima keadaan untuk kuliah di SMA Karya Budi Cinunuk. Mereka yang terlanjur membayar kostan pun merasa rugi karena harus merogok saku lebih dalam lagi untuk tambahan transpor menuju sekolah.
Informasi simpang siur akan lokasi perpindahan tempat kuliah membuat mahasiswa terjebak dalam kontrak kostan. Otomatis pengeluaran mereka menjadi double, antara bayar kost dan ongkos angkutan umum.
“Universitas termurah sedunia”. Itulah lebel UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dengan bayaran Rp 600.000,00 dan praktek sebesar Rp 200.000,00 - Rp 500.000,00 per semester, lulusan SMA/ MA sudah bisa mengenyam bangku kuliah di UIN. Meski demikian, dengan berbagai dana sumbangan dari donatur, UIN mulai merealisasikan rencana pembangunan kampus.
Pembangunan fisik kampus termasuk fakultas Dakwah dan Komunikasi menuntut adanya tumbal pembangunan. Mahasiswalah yang menjadi tumbalnya. Selama pelaksanaan pembangunan mahasiswa harus kuliah di bangku sekolah. Ruangan sempit tanpa keramik. Sebangku berdua. Kolong bangku bersampah dan kotor. Jauh dari kebersihan. Kondisi ini pun menjadi objek keluhan mahasiswa. Mahasiswa UIN yang kini hijrah ke Karya Budi (Karbud).
Tempat kuliah baru memang tidak senyaman kampus. Maklumlah, mereka dipindahkan bukan ke kampus lagi, tetapi ke sekolah. Sebelum liburan semester memang tersebar kabar kuliah akan dipindahkan ke IKOPIN untuk mahasiswa fakultas Dakwah dan Komunikasi, ke UNWIM untuk mahasiswa fakultas Tarbiyah dan keguruan, serta ke UNINUS untuk fakultas Syariah dan Hukum. Kabar yang sempat diberitakan di harian Pikiran Rakyat pun hanyalah isapan jempol belaka. Nyatanya seluruh mahasiswa UIN selama pembangunan kampus dilaksanakan tidak ada yang dipindahkan ke kampus lagi selain mahsiswa fakultas Psikologi. Semuanya dipindahkan ke sekolah.
Selain dua puluh tujuh mahasiswa KPI tadi, masih ada ribuan mahasiswa UIN yang kuliah di sekolah.
Mahasiswa fakultas Tarbiyah dan Keguruan harus pindah ke SMA Bakti Nusantara Cinunuk. Mahasiswa fakultas Syariah dan Hukum pindah ke SMA Tadika Puri. Mahasiswa fakultas Ushuludin pindah ke Tata Boga Ponyo. Mahasiswa fakultas Adab dan Humaniora pindah ke SMK Kifayatul Achyar. Begitu juga mahasiswa fakultas Sains dan Teknologi pindah ke MTS Al-Jawami.
B. Efektifitas Kuliah Di Sekolah
Data yang tercatat di Fakultas Dakwah dari kedua puluh tujuh mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) angkatan 2009 kelas A menunjukkan adanya penurunan hasil kuliah secara kognitif. Hasil ini dilihat dari Indeks Prestasi (IP). Dari kedua puluh tujuh mahasiswa itu, dua puluh empat orang mengalami penurunan IP, dan hanya tiga orang yang mengalami penaikan IP. Perbandingan hasil satu banding delapan itu merupakan bukti nyata pengaruh negatif dari pemindahan kuliah ke sekolah.
Annisa, pemilik nonor handphone 087823683xx ini mengirimkan pesan singkat pada redaksi SUAKA tentang keluahannya kuliah di Bakti Nusantara.
Kuliah d Bakti Nusantara udah kaya hidup d hutan.hukum rimba berlaku.siapa yang kuat dia yang menang.buat dapet kelas aja harus adu pendpat n majang muka sangar.ckckckc...(kutipan dari SUAKA no.6/ tahun XXIV/edisi Maret 2011 hlm.6)
Inilah indikasi ketidakefektifan kuliah di sekolah. Adapun penyebab ketidakefektifannya selain dari ruangan yang tidak memadai untuk kuliah, adalah adanya pengurangan waktu.
Saat kuliah di kampus setiap pertemuan kuliah berdurasi seratus menit. Tetapi setelah pindah ke sekolah jam kuliah disesuaikan dengan jam sekolah, sehingga menjadi enam puluh menit per mata kuliah. Setiap mahasiswa kehilangan empat puluh menit masa kuliahnya. Jika dihitung seminggu perkuliahan dengan jumlah rata-rata sebelas mata kuliah, maka setiap mahasiswa kehilangan empat ratus empat puluh menit. Dan jika dikalikan dengan dua belas pertemuan selama satu semester, maka lima ribu dua ratus delapan puluh menit hilang dari seorang mahasiswa. Lalu, kalikanlah waktu yang hilang itu dengan jumlah mahasiswa satu kelas, satu angkatan, satu jurusan hingga satu fakultas. Betapa banyak waktu para pelajar muslim yang seharusnya digunakan untuk menutut ilmu, memperluas wawasan, dan memperdalam pengetahuan hilang akibat pemotongan jam kuliah.
Akibatnya, diskusi dipercepat, tidak semua orang dapat presentasi, penjelasan dibatasi, waktu bertanya pun tak mencukupi. Padahal insan intelektual itu membayar SPP tanpa pengurangan. Tetap sebesar yang biasanya. Parahnya, semester genap pun masih ada pemotongan waktu sepuluh menit per mata kuliah.
Betapa besar kerugian mahasiswa atas pemotongan waktu ini. Sebagaimana yang dipahami, waktu lebih berharga daripada uang. Secara tegas Ali Ibn Thalib berkata, “Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan perolehannya lebih banyak di hari esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini, tidak mungkin kembali esok.”
Lebih lanjut Quraish Shihab dalam buku Wawasan Al-Quran berkata, ”Masa adalah modal utama manusia. Apabila tidak diisi dengan kegiatan, waktu akan berlalu begitu. Ketika waktu berlalu begitu saja, jangankan keberuntungan diperoleh, modal pun akan hilang.” Inilah penurunan pendapatan mahasiswa saat kehilangan waktunya.
Ruangan sempit dan lainnya akan terganti dengan bangunan megah saat pembangunan selesai. Tetapi, waktu yang hilang tidak akan bisa diganti lagi.
Padahal, Seperti yang dinyatakan Syaikh Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim sesunggahnya salah satu keberhasilan menuntut ilmu dilihat dari lamanya waktu menuntut ilmu. Lebih lama lebih baik.
Demikianlah penurunan pendapatan (ilmu) mahasiswa di tengah naiknya pengeluaran untuk kuliah.
C. Efektifitas Kuliah Di Sekolah Perspektif Psikologi Komunikasi
Tempatkanlah seseorang pada tempatnya. Itulah teori keadilan yang seyogyanya harus diamalkan oleh UIN.
Mahasiswa sebagaimana yang Kartono ungkapkan (Rahmawati, 2006) merupakan anggota masyarakat yang mempunyai ciri-ciri tertentu antara lain:
1) Mempunyai kemampuan dan kesempatan untuk belajar di perguruan tinggi sehingga dapat digolongkan sebagai kaum intelegensia.
2) Mahasiswa diharapkan nantinya dapat bertindak sebagai pemimpin masyarakat ataupun dalam dunia kerja.
3) Mahasiswa diharapkan dapat menjadi daya penggerak yang dinamis bagi proses modernisasi.
4) Mahasiswa diharapkan dapat memasuki dunia kerja sebagai tenaga yang berkualitas dan profesional.
Ditinjau dari psikologi komunikasi tentu kuliah di sekolah tidak efektif untuk mahasiswa. Karena mahasiswa memiliki psikologi yang berbeda dengan siwa. Mahasiswa adalah insan yang diharapkan untuk menjadi pemimpin bangsa di masa akan datang, tenaga kerja yang berkualitas dan propesional. Bagaimana para pelajar muslim ini bisa bersaing dengan mahasiswa universitas lain jika tempat kuliahnya saja disamakan dengan tempat anak MTS atau anak SMA belajar yang mana serba minim fasilitasnya.
Kuliah di sekolah pun menyebabkan terjadinya gangguan komunikasi (noise) secara ekologis. Lingkungan sekolah yang digunakan kuliah setiap harinya adalah bekas pakai siswa sekolah. Oleh karena itu ruangannya menjadi kotor dan acak-acakan. Suasana sekolah yang masih digunakan untuk kegiatan ekstrakulikuler sekolah pun acap kali menyebabkan kegaduhan saat pelaksanaan kuliah.
Inilah noise yang menyebabkan penyampaian pesan tidak efektif saat berdiskusi, presentasi dan penyampaian materi dari dosen.
Alhasil, rumus komunikasi efektif yakni pesan yang disampaikan =1
Respon penerima pesan
Akibat noise yang terjadi tidak menghasilkan satu, tetapi menghasilkan nol karena respon tidak sesuai dengan pesan yang disampaikan. Akhirnya komunikasi pun tidak efektif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar