Minggu, 05 Juni 2011

cerpen

Mama dalam Muhasabahku
Ayah sejati mewariskan sikap ksatria, kejujuran, keadilan , kesunggguhan, kecintaan dan pengorbanan tanpa tawar menawar, bulat, dan utuh.”
Itulah penafsiran ayah menurut mentri pemuda pada kabinet Indonesia Bersatu jilid 1.
                      Apa yang dikatakannya sangat tepat. Ayah adalah orang yang keras.     Tapi, dibalik wajahnya yang keras itu tersimpan nata dan hati yang selalu basah merajut doa untuk putrinnya. 
                    Aku memanggilnya Mama. Beliaulah kapten di keluargaku. Lelaki luar biasa yang penuh tanggung jawab. Dirinya menjadi rujukan keluarga saat mengambil keputusan, menentukan pilihan dan lainnya. Bahkan tak sedikit orang meminta pendapatnya untuk menghadapi permasalahan yang terjadi pada keluarganya.
      Kalau di hari Ibu orang buat puisi untuk ibunya, dan aku melukis pantai untuk Umi, maka di hari ini aku ingin menjadikan sebagai hari ayah. Karena beliaulah Sang ayah bintang yang mampu menjadikan Fatimah Az-Zahra sebagai wanita yang cerdas dan mandiri. Jauh dari kemalasan serta kemanjaan. Aku ingin menuliskan perjalanan Mama membesarkanku.
Aku menjadi anak perempuan satu-satunya bagi Mama. Karena itu, tak heran kalau Mama menganak emaskan aku. Akupun sadar akan hal itu. Karenanya, aku tak pernah ragu meminta ini-itu pda Mama. Melawan dan melanggar menjadi kebiasanku. Saat Mama meminta aku mondok di sebuah pesantren di Sumedang, dengan tegas aku menolaknya dengan alasan nggak akan kuat tinggal di penjara itu. Mama tak pernah marah padaku.
Meski sering keras berbicaranya tapi itu karena turunan darah Sumatera yang mengalir pada diri Mama. Terlebih dirinya putra seorang kapten TNI. Untungnya, Mama tak mengikuti jejak kakek yang menjadi perwira TNI. Justru lebih memilih dunia pendidikan sebagi lahannya untuk mengabdi pada negara. Setelah meminang Ibu yang berdarah Sumedang Mama hijrah ke kota tahu. Di sini pula Mama dipercaya menjadi kepala SMP Tunas Bangsa. Sekolah swasta favorit di Sumedang. Almamaterku saat berseragam putih biru.
Posisi Mama sebagai  kepala sekolah idak culup memotivasiku untuk mengukir prestasi. Puncaknya, di saat  malam sebelum pengumuman ujian nasional, wakasek datang ke rumahku. Ketika itu beliau menemui Mama dan memberikan sebuah surat berisikan hasil UN.       
Aku gagal menghadapi ujian itu. Hasil terburuk yang diperoleh anak Mama.  Akulah anak Mama yang berhasil mencoreng wibawanya di hadapan guru, yayasan, dan murid Mama. Di sekolahku ketidaklulusan seorang murid saat ujian menjadi aib besar sekolah. Apalagi yang tidak lulus putri kepala sekolahnya. Tenntu akan disorot media setempat. Posisi Mama pun sebagai pimpinan sekolah sangat terancam.  Padahal Kakak pertamaku, A Hakim selalu menjadi murid teladan di sekolah. Ia pun sering dipuji-puji kyai pesantrennya saat mama menengoknya ke Sumedang. Begitu juga kakak keduaku, selain menjadi juara olimpiade tingkat provinsi, ia juga dinobatkan sebagai santri berprestasi dengan multi tallent. Dari ketiga anaknya, akulah yang termiskin akan prestasi.
     Mama sudah tahu jawabanku saat ditegur. Ya, menyalahkannya karena selalu memanjaku. Termasuk malam itu.
      Tapi, malam itu Mama tersenyum padaku, “ Mama percaya pada putri mama. Di saat orang lain sibuk menggunakan segala cara membohongi dirinya dengan menyontek jawawan ujian. Putri Mama bekerja keras mengasah pikirannya mengerjakan itu. Jangan khawatir, kamu putri Mama, tetaplah semangat.”
Ma…Aku...”
***
Hari masih pagi. Dalam kegalauan aku merasa Sang fajar terlalu giat bertasbih pada-Nya. Pagi yang suram. Surat hasil UN segera dibagikan.
Setelah kedatangan wakasek ke rumahku, aku tidak ingin lagi menginjakkan kaki ke sekolah itu. Terlebih bersua dengan teman-teman. Alhasil, mau tidak mau aku pasang wajah ramah pada Mama untuk mengambilkan surat itu.
Dalam keadaan seperti itu aku mulai sadar untuk memasang paras penuh senyum dan keramahan padanya. Sebelum berangkat ke sekolah aku membuatkan teh manis untuk Mama.
“Mama menangis?”
“Tidak, Nak! Mama tersenyum.”
“Ma, maaf.”
 Dengan terisak aku memohon maaf pada Mama atas kegagalanku menjadi putri kebanggaan Mama. Memang sudah telat, tapi entahlah, sungguh aku sangat menyesalinya. Andai bisa, aku ingin kembali UN dan belajar dengan sungguh-sungguh.
“Kamu tidak salah. Seharusnya Mama yang meminta maaf karena tidak bisa membimbing Nisa. Apa yang Nisa katakana selama ini benar, Mama terlalu memanjakanmu. Tapi, secangkir the hangat ini menjadi saksi untuk Mama.”
“Maksudnya?”
“Mama tak perlu menyesal karena telah memanjakan Nisa. Justru Mama bahagia karena sekarang Nisa sudah besar, tak lama lagi kita akan berpisah. Dan Mama senang melihat Nisa yang baik pada Mama. Menyambut Mama dengan senyum.”
“Aku akan mengikuti paket C, Ma. Dan setelah itu aku mau mondok di pesantren. Aku siap berpisah sama Mama selama di pesantern.”
“Subhanallah. Nisa, kamu memang putri kesayangan Mama, Nak!”
“Mama harus pergi. Waktunya sudah tiba. Assalamu’alaikum”
“wa’alaikum salam wa rahmatullah.”
Air mataku semakin tumpah saat ku cium tangan halus lelaki yang semalam menangis mendoakan kebaikan untukku. Hati kecilku terus berteriak ketakutan tak seperti biasa. Entahlah. Aku merasa takut sekali tak dapat mencium tangan itu dikemudian hari. Mama…
***
    Bumi selalu berputar. Begitu juga dengan kehidupan. Sosok itu,,,
Tepat setelah Mama mengambil surat hasil UN, sebuah bus menabrak mobil yang dikendarai oleh Mama. Rupanya sopir bus itu berada dalam kondisi mabuk berat hingga tak bisa mengemudi dengan baik.
      “ kalau sudah tiada, baru merasa bahwa kehadirannya sungguh berharga...”
       Itulah petikan lagu kehilangan ciptaan sang raja danmgdut. Semua orang akan pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Tak ada yang kekal... Tak ada yang abadi...
    Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun...
Sesungguhnya segala sesuatu berasal dari Allah dan hanya kepada Allahlah akan kembali.
       Tepatnya malam Jumat, malam ketiga Ramadhan 1431 H. Di rumah sakit Sumedang, mama menghembuskan nafas terakhirnya.
      Seluruh badanku terasa lemas saat dokter berkata,” tos teu ayaan”.  Orang yang selama ini mendidik aku, berkorban demi aku, dan berjuang menafkahi keluargaku telah kembali pada-Nya.
       Butiran bening itu tak kan menghiasi wajahnya, karena sang pemilik telah menutup mata tuk selamanya.
Sayangnya, penyebab kepergiannya itu adalah aku.  Andai aku lulus ujian. Berani mengambil hasil UN sendiri. Mungkin Masih bisa menatap dunia ini. Andai aku lulus ujian, Mama pasti tersenyum bangga padaku. Andaikan selama ini aku jadi anak baik, tak kan ada tangis Ummi dan kakakku. Keluargaku pasti masih utuh.
       “Dear...
       Sejak malam itu aku ingin menulis semua ini. Mencurahkan apa yang ada di hatiku. Tapi entah mengapa sulit rasanya.
       Dalam diri aku merasa ada yang hilang hingga aku sulit tuk berlari, sulit tuk teriak, dan sulit tuk tertawa.
              Sosok yang teguh,  pekerja keras, dan penyayang itu telah beristirahat tuk selamanya. Sepi memang rumahku tanpa mama. Tak ada lagi Pa Kasim yang datang menanyakan cara membagi warisan, taka ada lagi  Pa Ohan yang menanyakan sistem meronda di kota, ta ada lagi Pa Ali yang bertanya mengenai keuntungan menyekolahkan anak perempuan.  Sedih rasanya ditinggal yang tercinta. Dan yang mencintai kita. Tapi itulajh suratan, semua yang hidup pasti meninggal.
      Aku coba kembali ke sekolah. Tapi, tanpa kusadari, semangatku telah berkurang Ya Allah jadikanlah aku hamba-Mu yang kuat dengan kesabaran... Amien.
Aku memang anak kesayangan almarhum. Dibanding yang lain, akulah yang selalu dilebihkan. Sayang waktu Mama meninggal aku belum kerja, belum punya penghasilan. Jadi, ketika  Mama sakit, aku ngga bisa bantuin biaya rumah sakit. Saat pakaian Mama dibagikan ke sanak saudara, tak ada satupun yang menjadi pemberianku.
Apa yang kulakukan selama Mama hidup tak ada yang bisa dibanggakan.
            Saat aku dikucilkan teman-teman, tetangga, saudara gara-gara tidak lulus, Mama datang menyemangatiku. Tapi aku tak pernah berubah.  Kini aku sadari, yang telah tiada tak mungkin kembali lagi. Penyesalan memang selalu datang kemudian. Aku tak kuasa memutar kembali waktu. Mengubah diri menjadi pribadi yang penuh keramahan dan kemanisan dengan senyaum. Aku hanya bisa berbagi denganmu, Ari...
    Sekarang saat tak bisa berbagi dengan teman aku akan berbagi denganmu yang tak pernah marahin aku, tak pernah menuntutku berbahasa sesuai keinanmua dan siap menjadi teman berbagiku baik suka maupun duka, kapanpun dan dimanapun. 
     Diaryku,,, kangeen bangeet sama Mama...semoga keslahanku yang telah durhaka pada Mama diampuni oleh-Nya. Saat Sang Kapten perggi segalanya jadi sepi...semoga kesepian itu menjadi penyadar diri ini...
“ Ya Illahi Rabbi, semoga Engkau memaafkan dosa bapakku dan  mengasihinya...
Amien.
     Satu pijakan yang ingin ku pegang, Jangan berharap bisa melakukan kebaikan di hari esok, karena belum tentu usia kita sampai padanya.
Kini aku sudah berada di sebuah pondok di Sumedang. Jalanm ini menjadi pilihan terbaikku. Ku mulai mencicipi lezatnya ilmu agama itu. Ku sadari tali ini rahmat bagiku. Ya, Islam rahmat bagi seluruh umat.
Oleh Arum Ningsih
MahasiswaUIN Sunan Gunung Djati Bandung
    Fakultas Dakwah dan Komunikasi
                           Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Semester IV

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

*A. Rojabi..."aLways come to discussion" *Abu Nurjihad..."saywhat do you think" *Anas Abdul Razak..."Islamic communication and broadcasting is the best" *Arum Ningsih..."Always SPIRIT" *Asep Wildan Setiawan..."don't be lazy"