Hubungan Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani1)
Oleh
Asep Wildan
Hubungangan filsafat Islam dengan filsafat Yunani dapat dikaji dari dua asfek kajian, yaitu kajian historis dann kajian doktrin keagamaan.
Dalam kajian historis, hubungan filsafat Islam dengan filsafat Yunani dilihat dari latar belekang perkembangan tradisi berpikir filsuf muslim. Dimana terjadi akulturasi budaya dalam makna adanya interaksi intelektual antara tradisi filsafat Yunani dengan tradisi filsafat orang-orang Arab khususnya Babilonia, Mesir maupun Persia.
Kawasan jazirah Arab yang mengalami hellenisasi selama 300 tahun dan kristenisasi selama 200 tahun tentu memberikan pengaruh yang kuat terhadap pola berpikir orang-orang Arab.
Islam datang setelah sekian lama jazirah Arab dikuasai oleh Yunani. Di sinilah awalnya terjadi interaksi pemikirann Yunani dengan pemikiran Islam. Adanya usaha penerjemahan naskah-naskah ilmu filsafat ke dalam Bahasa Arab yang telah dilakukan sejek masa klasik Islam melahirkan sejumlah filsuf Islam.
Adapun sifat-sifat terpuji yang dimilikinya, yakni toleran, simpati dan akulturatif; terbuka pada kebebasan; kepercayaan diri yang tinggi; sedikit curiga/ husnudzan; cinta pada ilmu; dan hormat pada yang memiliki ilmu.
Dengan sifat-sifat tersebut para filsuf Islam serta bantuan pengusa dinasti yang mengadakan hubungan kenegaraan dengan raja-raja Romawi Bizantium yang beribu kota di Konstantinopel, yang juga dikenal sebagai “al-hikamah” pusat ilmu filsafat, ilmu filsafat berkembang dengan pesat.
Transfer ilmu ini bukan berarti filsuf mengekor pada filsuf Yunani sepert Aristoteles dan lainnya. Para filsuf muslim bersentuhan dengan penafsiran Al-Quran. Karena itu, Nurcholis Madjid menyatakan bahwa sumber dan pangkal tolak filsafat dalam Islam adalah ajaran Islam sendiri sebagaimana terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah. Meskipun memiliki dasar yang kokoh dalam ajaran Islam itu sendiri, filsafat banyak mengandung unsure-unsur dari luar, terutama hellenisme atau dunia pemikiran Yunani.
Uraian tersebut memperjelas sisi filsafat Islam yang berkembang setelah memiliki interaksi dengan dunia Yunani. Namun, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nurcholis Madjid, orang-orang Islam berkenalan dengan ajaran Aristoteles dalam bentuknya yang telah ditafsirkan dan diolah oleh orang-orang Syria. Dan itu berarti masuknya unsure-unsur neoplatonisme.
Tetapi sangat salah memandang filsafat Islam sebagai foto copy dari filsafat Yunani. Semua pemikir berpandangan wahyu menjadi sumber pengetahuan dan ilmu. Karena itu mereka membangun berbagai teori ketuhanan, kenabian, wahyu dan akal. Mereka juga mencurahkan banyak tenaga untuk membahas kehidupan sesudah mati, suatu hal yang tidak terdapat padanya dalam hellenisme. Para filsuf muslim juga membahas masalah baik dan buruk, pahala dan dosa, tanggung jawab pribadi di hadapan Allah, kebebasan dan keterpaksaan (determinisme), asal-usul penciptaan, dan seterusnya yang semua itu merupakan bagian integral dari ajaran Islam, dan sedikit sekali terdapat hal serupa dalam hellenisme.
Dengan demikian, tampak jelas adanya hubungan yang bersifat akomodatif bahwa filsafat Yunani member modal dasar dalam pelusuran berpikir yang ditopang sejatinya oleh Al-Quran sejak dulu. Secara teologis, dapat dikatakan sumber Al-Quran secara azalli telah ada maka filsafat Yunani hanya sebagai pemuka, ssementara bahan-bahannya sudah ada di dalam Al-Quran sebagai desain besar Allah SWT. tetapi persoalan yang muncul adalah original.itas filsafat Islam apakah ia pengekor atau pelopor.
Nurcholis Madjid yang juga mengutip pendapat Bertran Russel, menyatakan bahwa memang di satu pihak filsafat Islam merupakan “barang baru” di dunia Islam, namun di pihak lain dalam pengembangan ilmu ini terdapat yang original yang bukan milik Barat.3)
Secara historis dapat dinyatakan bahwa hubungan filsafat Islam dengan filsafat Yunani adalah sebagai pengembang dan penerus sekalligus pelopor filsafat yang bercorak Islam yang disebarkan ke berbagai dunia Barat.
Dalam kajian doktrin hubungan filsafat Islam dengan filsafat Yunani, secara doctrinal memilki hubungan bahwa Islam memiliki ajaran untuk mencari pengetahuan dan alatnya adalah akal untuk menggali pemikiran yang benar. Begitu pula dalam filsafat Yunani akal menjadi pusat pemikiran yang begitu bebas, sedangkan dalam filsafat Islam diberi kelonggaran meskipun terdapat ketaatan dalam penggunaan rasio. (Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam: 2009: 46).
Dalam bukunya Pengantar Filsafat Islam, Dedi Supriyadi mengutip pemikiran Fazlur Rahman sebagai berikut.
“kaum muslim tidak mempunyai alas an eksternal untuk menerjemahkan karya-karya luar ke dalam bahasa Arab. Bukan karena alasan politik, ekonomi, atau militer. Bukan juga karena tekanan religious eksternal apapun yang mendorong mereka menerjemahkan berbagai karya itu. Alasannya justru bermula dari struktur agama Islam itu sendiri, yaitu Islam sangat mementingkan pengetahuan dan kenyataan bahwa Islam menyebutkan dirinya sebagai agama umat manusia yang terkhir, dan mewariskan setiap wahyu serta ilmu pengetahuan sesuai dengan prinsip al-tawhid (keesaan Illahi).”
Hubungan yang bersifat doctrinal ini melahirkan hubungan funngsional antara filsafat Islam yang berbasis jadali dalam kerangka berpikirnya menjadi cara berpikir Yunani yang bercorak sintesi, kontinu, dan analogis yang diperlihatkan oleh masing-masing filsuf Islam kemudian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar