Minggu, 05 Juni 2011

metode dakwah

DAKWAH BI AL HIKMAH
Oleh Arum Ningsih

 BAB 1
PEANDAHULUAN

            Pada hakikatnya dkwah adalah segala aktivitas dan kegiatn yang mengajak orang untuk berubah dari situasi yang mengandung nilai kehidupan yang bukan Islami kepada nilai kehidupan yang Islami. Aktivitas dan kegiatan tersebut dilakukan dengan mengajak, mendorong, dan menyeru, tanpa tekanan, paksaan dan provokasi, dan bukan pula dengan bujukan atau rayuan pemberian sembako, dan lainnya.
            Sesuai dengan definisi dakwah tersebut, maka metode yang dilakukan dalam mengajak tersebut haruslah sesuai pula dengan materi dan tujuan kemana ajakan tersebuut ditujukan. Pengggunaan metode yang tepat akan menghasilkan kesuksesan dakwah sesuai yang diharapkan.begitu juga sebaliknya, metode yang salah menyebabkan dakwah jauh dari keberhasilan.
            Referensi metode dakwah selalu merujuk pada Q.S.An-Nahl aayat 125:

äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ  
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
            Dalam ayat di atas disebutkan bahwa salah satu metode dakwah adalah dengan hikmah. Makna hikmah sendiri menurut Moh. Natsir lebih dari semata-mata ilmu. Ia adalah ilmu yang sehat, yang mudah dicernakan, ilmu yang teerpadu dengan rasa perisa, sehingga menjadi daya penggerak untuk melakukan sesuatu yang manfaat. Kalau dibawa ke bidang dakwah, untuk melakukan sesuatu yang berguna dan efektif. Begitu pula dengan Syeikh Muhammad Abduh mengartikah bahwa hikmah adalah i lmu yang shahih (benar dan sehat) yang menggerakkan kemauan untuk melakukan sesuatu perbuatan yang bermanfaat dan berguna.
            Lantas seperti apakah dakwah bi al hikmah itu? Berikut penyusun jelaskan uraiannya.

BAB 2

PEMBAHASAN MASALAH

DAKWAH BI AL  HIKMAH


2.1 Mengenal Strata Mad’u

            Perbedaan dalam kehidupan ini sudah menjadi sunnatullah.  Tidak setiap sesutu yang baik bagi sebuah kelompok tertentu cocok bagi kelompok yang lain. Sebagaimana sesuatu yang baik bagi sebuah lingkungan baik bagi lingkungan yang lain, dan sesuatu yang baik bagi sebuah zaman baik bagi zzaman yang lain.
            Seorang da’i yang baik dan mendapat taufik, yang mengajak pada seseorang atau pada jema’ah, adalah da’i yang memberikan ajakan yang sesuai pada kondisi orang yang diberi ajakan itu, dan sesuai dengan kondisi dan lingkungan dimana dia berada. Karenya, seorang da’i harus mengenal tipologi manusia yang menjadi ‘mitra dakwah’nya (baca: mad’u).

A.    Mengenal Strata Mad’u sebagai Landasan Normatif

      Da’i merupakan duta Islam yang memperkanalkan Islam kepada setiap insan. Da’i yang baik harus mempelajari terlebih dahulu data riil tentang komunitas atau pribadi yang bersangkutan di saat terjun ke sebuah komunitas atau melakukan kontak dengan seorang mad’u. Sebab, salah satu hikmah dalam berdakwah adalah menempatkan manusia sesuai dengan kadar yang telah ditetapkan Allah.
      Adapun landasan normatif tentang pola interaksi dan komunikasi dengan beragam manusia adalah sebagai berikut.
*     Allah SWT. Berfirman,
s-öqsùur Èe@à2 ÏŒ AOù=Ïæ ÒOŠÎ=tæ ÇÐÏÈ

“dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.”
*     Ketika mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, Rasulullah saw. membekali beliau dengan ilmu ndakwah. Rasulullah saw. bersabda,
“Rasulullah berkata kepada Mu’adz bin Jabalsebelum beliau melepaskannya ke Yaman: sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah negeri yang penduduknya ahli kitab. Jika kamu telah sampai ke sana, dakwahilah mereka untuk mengikrarkan dua kalimah syahadat. Jika mereka meres[pon dakwahmu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka menaati perintah ini, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang kaya untuk didistribusikan kepad orang miskinn di antara mereka. Jika mereka mentaati perintah ini, maka berhati-hatilah dengan harta-harta berharga mereka, dan berhati-hatilah dengan doa orang-orang yang terdzalimi, karena doa mereka tidak berhijab untuk sampai kepada Allah.”
Rasulullah membekali Mu’adz dengan informasi mad’u yang akan dihadapi Mu’adz dan apa yang harus disampaikan, dan bagaimana langkah setelah mereka merespon ajakan pertama atau menolak.
*     Dari Aisyah ra, Beliau berkata:
“Rasulullah saw. memerintahkan kepada kami untuk menempatkan manusia sesuai dengan kedudukannya.”
*     Dari Ali Bin Abi Thalib, beliau berkata:
“berbicaralah dengan orang sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka, apakah engkau suka Allah dan Rasul-Nya didustakan?”
Ali sangat memahami karakter manusia, dakwah yang dilakukan tanpa memandang strata mad’u bisa berakibat fatal, ayat Allah dan sabda Rasul bisa jadi bahan olok-olokan orang yang tidak paham.

B.     Mengenal Rumpun Mad’u

Dari berbagai rumpun umat manusia, kita menelusuri karakter mereka sebagai penerima dakwah. Prof. Dr. Moh. Ali Azis, M.Ag dalam bukunya Ilmu Dakwah, menyebut mereka dangan mitra dakwah, bukan objek dakwah ataupun sasaran dakwah, dengan maksud agar pendakwah menjadi teman berpikir dan bertindak bersama dengan mitra dakwah. Adapun pengelompokan rumpun mitra dakwah menurut Prof. Dr. Moh. Ali Azis, M.Ag adalah sebagai berikut.
*      Mitra dakwah perspektif teologis
*      Kelompok yang pernah menerima dakwah. Kelompok ini terdiri dari tiga golongan, yaitu:
a.       Menerima dengan sepenuh hati (mukmin)
b.      Menolak dakwah (kafir)
c.       Pura-pura menerima dakwah  (munafik)
*      Kelompok yang belum pernah menerima dakwah. Kelompok ini terbagi menjadi dua golongan, yaitu:
a.       Orang-orang yang sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw.
b.      Orang-orang yang setelah diutusnya Nabi Muhammad saw.
*      Kelompok yang mengenal Islam dari informasi yang salah dan menyesatkan. Paada masyarakat terasing, bisa jadi ada informasi tentang Islam, akan tetapi bersumber dari nonmuslim yang sengaja mendiskreditkan Islam. Di belahan dunia ini informasi tentang Islam yang salah telah diterima oleh sebagia besar orang nonmuslim. Akibatnya timbul sikap antipasti terhadap Islam hingga tidak memedulikannya (apatis).

*      Mitra dakwah perspektif sosiologis

Max Weber pernah mengadakan penelitian social keagamaan yang memfokuskan pada pengaruh stratifikasi social ekonomi terhadap sifat agama seseorang. Ada lima golongan yang sifat keagamaannya ditelaah Weber (dalam Jalaluddin dan Ramayulis,1993:130-131).
*      Golongan petani. Mereka lebih religious. Hal-hal yang diperhatikan dalam menyampaikan pesan dakwah kepada mereka adalah dengan cara yang sederhana dan menghilangkan hal-hal yang abstrak; menggunakan lambing dan perumpaan yang ada di lingkunga; dan tidak terikat pada waktu dan tenaga.
*      Golongan pengrajin dan pedagang kecil. Sifat agamanya dilandasi pada penghitungan ekonomi dan rasional. Mereka menyukai doa-doa yang memperlancar rezeki serta etika agama tentang bisnis. Mereka akan menolak keagamaan yang tidak rasional.
*      Golongan karyawan. Mereka cenderung mencari untung dan kenyamanan (opportunistic utilitarian). Makin tinggi tingkat kedudukan seseorang, ketaatan bergamanya cenderung berbentuk formalitas.
*      Golongan kaum buruh. Mereka lebih menyuarakan teologi pembebasan. Mereka mengecam segala bentuk penindasan, ketidakadilan,dan semacamnya.
*      Golongan elit dan hartawan kecenderungan agama mereka adalah kea rah santai. Mereka haus akan kehormatan, sehingga menyukai pujian agama atas kekayaan mereka. Mereka setuju dengan doktrin kodariah, karena menghargai tindakan individu, kekayaan mereka adalah hasil kerja keras mereka. Karena masih menikmati kekayaanya, mereka mudah menunda ketaatan beragama untuk hari tua. (Prof. Dr. Moh. Ali Azis, M.Ag, Ilmu Dakwah, 2009:263-282)
Adapun penggolongan rumpun mitra dakwah yang dikemukakan oleh M.Munir, S.Ag., MA. adalah sebagai berikut.
*      Mad’u ditinjau dari segi penerimaan dan penolakan ajaran Islam, terbagi dua, yaitu muslim dan nonmuslim.
*      Mad’u ditinjau dari segi tingkat pengamalan ajaran agamanya, terbagi tiga, dzalimun linafsih, muqtashid, dan sabiqun bilkhairat.
*      Mad’u ditinjau dari tingkat pengetahuan agamanya, dibagi tiga, ulama, pembelajar, dan awam.
*      Mad’u ditinjau dari struktur sosialnya terbagi tiga; pemerintah (al-mala’), masyarakat maju (al-mufrathim), dan terbelakang (al-mustadh’afin).
*      Mad’u ditinjau dari prioritas dakwah, dimulai dari diri sendir, keluarga, masyarakat, dst. (M.Munir, S.Ag., MA., Metode Dakwah, 2009:108-109)

2. Bila Harus Bicara Bila Harus Diam

            Kualitas diri seseorang bisa diukur dari kemampuannya menjaga lidah. Orang-orang beriman tentu akan  berhati-hati dalam menggunakan lidahnya. Dalam artikelnya yang berjudul “Lidah adalah Amanah” K.H. Abdullah Gimnastiar menyebutkan ada empat jenis manusia diukur dari kualitas pembicaraannya, yaitu:
Pertama, orang yang berkualitas tinggi. Kalau dia berbicara, isinya sarat dengan hikmah. Ide, gagasan, solusi, ilmu, dzikir, dan sebagainya. Jika dia diajak berbicara sekalipun ngobrol, ujungnya adalah manfaat.
Kedua., orang yang biasa-biasa saja. Ciri orang yang seperti ini adalah sibuk menceritakan peristiwa. Melihat adda kereta api terguling, dia berkomentar rebut sekali. Seolah dirinya yang kelindes kereta. Ini tipe manusia tukang cerita peristiwa. Prinsip yang dia pegang :”pokoknya  bunyi!” tidaak ada masalah dengan peristiwa. Jika dari itu semua kita bisa memungut hikmah yang sebaik-baiknya, insya Allah peristiwa bermanfaat. Akan tetapi, jika dari peristiwa-peristiwa itu tidak ada yang dituju kecuali menunggu sampai mulut lelah sendiri, ini tentu kesia-siaan. Seperti kata pepatah, tong kosong nyaring bunyinya.
Ketiga, orang rendahan. Cirinya kalau berbicara isinya hanya  mengeluh, mencela, atau menghina. Apa saja bisa jadi bahan keluhan. “ aduuuh ini pinggag mengapa jadi sakit begini. ketika kepadanya disodorkan makanan, jurus keluhannnya menghamburan. “makanan ko dingin begini? Coba kalau ada sambel, tentu lebih nikmat. Aduuuh kerupuk ini kenapa kecil-kecil begini?” terus saja makanan dikeluhkan walaupun pada kenyataannya habis juga.
Keempat, orang yang dangkal, yaitu mereka yang pembicaraannya tidak keluar dari menyebut-nyebut kehebatan dirinya, jasa-jasanya dan kebaikan-kebaikannya. Padahal hidup ini adalah pengabdian kepada Allah. Mengapa kita harus membanggakan apa yang Allah titipkan pada kita. Ad orang pakai cincin segera berkomentar, “Oh, itu sih mirip cincin saya.” Dia selalu menyelipkan kata- kata kesombongan dan membanggakan diri. Menyebut jasa, kebaikan, dan prestasinya. Dia selalu ingin tampak menonjol dan mendominasi. Jika ada orang lain yang yang secara wajar tampak lebih baik, hatinya teriris-iris, tidak rela, dan sangat berharap orang itu segera celaka. Inilah ilmu gelas kosong. Gelas kosong, maunya diisi terus. Orang yang kosong dari harga diri, inginnya minta dihargai terus.
Seorang da’i tentunya harus berhati-hati dalam berbicara. Harus sadar bahwa berbicara itu dibatasi oleh etika-etika. Hendaklah da’i berada di atas rel yang benar.
Pendakwah tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai dengan keinginannya. Akan  tetapi dia bisa memaksa dirinya untuk melakukan yang terbaik menghadapi sikap orang lain. Banyak bicara tidak selalu buruk, yang buruik adalah berbicara kebatilan. Boleh-boleh saja da’i banyak berbicara, tetapi harus proporsional. Pembicaraan sering kali bergeser dari rel kebenaran ketika tidak proporsional. Semua orang harus menjaga lidahnya,. Tidak peduli apakah itu orang yang ahli agama. Orang-orang yang pandai membaca Al-quran dan hadits tidak ptomatis pembicaraannya telah terjaga. Di sini tetap dibutuhkan proses belajar, berlatih, dan terus berjuang agar mutu kata-kata kita semakin meningkat. Alangkah ironi jika orang-orang ahli agama tidak bisa menjaga lisan. Dia banyak menasehati umat dengan perilaku-perilaku yang baik, tetapi saat yang sama dia tidak melakukan hal itu. jika orang-orang preman berkata kasar, jorok, dan tidak mengenal tata karma, orang masih maklum. Akan tetapi, jika orang-orang alim yang melakukannya, tentu ini adalah bencana serius.
Satu langkah konkret untuk mencapai upaya menjaga lisan adalah dengan memulai mengurangi jumlah kata-kata. Makin sedikit berbicara, makin tipis peluang kesalahan. Sebaliknya, makin banyak berbicara,  peluang tergelincir lidah semakin lebar. Jika lidah da’i meluncur tanpa kendali, kehormatan da’i seketika akan runtuh. Berbahagialah bagi siapa yang bisa berkata dengan akhlak tinggi. Selalu berkata baik. Jika tidak, cukup diam saja!
 “keselamatan seorang muslim dalam menjaga lisannya”

 Untuk menjaga lisan itu, maka haruslah kita perhatikan adab berbicara berikut ini.
Adab Berbicara
·         Hendaklah topic pembicaraan berkisar pada hal-hal yang baik dan bermanfaat.
·         Menghindari dari pembicaraan yang jelek dan tidak bermanfaat.
·         Tidak berbohong dalam perkatannya.
·         Tidak membicarakan  ‘aib orang lain atau tidak menyebarkan isu-isu yang tidak baik tentang seseorang.
·         Tidak mencela atau mengejek orang lain.
·         Menghindari perselisihan atau perdebatan, karena Rasulullah tidak menyukai perdebatan meski dalam kebaikan.
·         Tidak menyebarkan berita bohong
·         Tidak menyebarkan gossip tentang orang lain.
·         Tidak bersifat sombong dan angkuh dalam berbicara.
·         Tidak boleh menguasai dan memonopoli pembicaraan dalam suatu forum.
·         Hendaknya memberikan kesempatan pada orang lain untuk berbicara.
·         Tidak boleh mengeraskan suara dalam percakapan, sehingga menimbulkan kegaduhan dan kebisingan.
·         Bila ingi meluruskan suatu kesalahan hendaknya dengan cara yang bijak, tidak menjatuhkan orang lain.
·         Menempatkan pembicaraan sesuai dengan situasi dan kondisi.
·         Berbicara dengan tenang, agar mudah dicerna dan dipahami oleh  pendengar dan tidak mencampuradukkan dengan pembicaraan yang lain.
·         Tidak membanggakan diri dan menonjolkan kepandaian di hadapan lawan bicara.
·         Tidak berbicara tentang sesuatu yang tidak dimengerti.
·         Tidak terlalu banyak berbicara, sehingga membuat bosan pendengar.
Secara garis besar kapan da’i harus bicara dan kapan harus diam dituturkan oleh M.Munir,S.Ag.,MA. Dalam buku Metode Dakwah sebagai berikut.
           
Bila Harus Bicara
Da’i yang mendapat taufik dan sukses adalah mereka yang mampu memberikan kepada mitranya apa yang dibutuhkannya, baik berupa buah pikiran ataupun pengarahan.dia berusaha meyakinkan orang tentang kebenaranapa yang disuguhkannya, kemudian menarik orang supaya mengamalkan apa yang diajarkannya.
Agar tidak tergelincir dalam berbicara, da’i memerlukan empat syarat, yaitu:
·         Memilih kata-kata yang baik saja.
·         Meltakkan pada pembicaraan yang tepat pada tempatnya dan sengaja mencari kesempatan yang benar.
·         Berbicara dengan pembicaraan sekedar keperluan.
·         Memilih kata-kata yang akan dibicarakan.
Untuk menghasilkan ucapan yang berkualitas baik, hendaklah memperhatikan enam hal berikut :
·         Pikirkan terlebih dahulu materi yang akan dibicarakan.
·         Perhatikan kepad siapa materi itu disampaikan.
·         Cari  waktu yang tepat bagi kita atau bagi lawan bicara kita.
·         Usahakan agar tempat yang digunakan sesuai dengan materi yang dibicarakan dan orang yang diajak bicara.
·         Tentukan alas an yang digunakan lebih tepat dengan materi, orang, tempat dan waktu bicara, agar kita dapat menentukan sikap selanjutnya.
·         Gunakan system, pola, etika dan strategi yang lebih baik agar dapat menghasilkan pembicaraan yang baik.

Bila Harus Diam?
Diam diperlukan dalam empat situasi, yakni:
·         Menghindari konfrontasi.
·         Disaat perkataan sudah tidak efektif.
·         Dalam rangka menyusun taktik dan strategi.
·         Diam dalam arti bahasa perbuatan (dakwah bilhal).

Diam yang Berdosa
·         Diam ketika kemungkaran dilakukan terang-terangan di depan kita.
·         Jika berkenaan dengan informasi yang diperlukan masyarakat. Seperti seorang yang tau jalan tapi tidak mau memberikan petunjuk.
·         Tidak mau bicara selama tidak berkaitan dengan keuntungan dirinya.
·         Tidak mengakui kesalahan yang anda lakukan.

3. Mencari Titik Temu
           
A.    Pengertian Titik Temu

Titik temu adalah titik tolak dimana perbedaan-perbedaan dapat dipertemukan dalam satu persamaan. Titik singgung yang mempertemukan antara persamaan dan perbedaanlah yang disebut titik temu.
           
            B  Titik Temu Dalam Perspektif Al Quran dan Sunah
                 ö@è% Ÿ@÷dr'¯»tƒ É=»tGÅ3ø9$# (#öqs9$yès? 4n<Î) 7pyJÎ=Ÿ2 ¥ä!#uqy $uZoY÷t/ ö/ä3uZ÷t/ur žwr& yç7÷ètR žwÎ) ©!$# Ÿwur x8ÎŽô³èS ¾ÏmÎ/ $\«øx© Ÿwur xÏ­Gtƒ $uZàÒ÷èt/ $³Ò÷èt/ $\/$t/ör& `ÏiB Èbrߊ «!$# 4 bÎ*sù (#öq©9uqs? (#qä9qà)sù (#rßygô©$# $¯Rr'Î/ šcqßJÎ=ó¡ãB ÇÏÍÈ
“Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".
            Ayat ini sangat berkaitan erat dengan ayat-ayat sebelumnya yang menjelaskan bagaimana Nabi berdakwah menghadapi kaum Nasrani yang bersikukuh mempertahankan pendapatnya meskipun mereka tahu kebenaran yang disampaikan Nabi Saw. Karena sesungguhnya Nabi mengetahui bahwa ajaran yang disampaikan oleh nabi Isa as. Dan ajaran islam yang disampaikan pada hakiikatnya sama, sama-sama berasal dari Tuhan yang sama, namun mengapa terjadi pertentangan antara apa yang disampaikannya dan apa yang diklaim oleh ahli  kitab maka untuk mengingatkan kembali pada ajaran yang benar yaitu tauhid sehingga allah memberikan petunjuk agar nabi mengatakan kepada mereka untuk kembali kepada kalimatunsawa, yaitu kalimat yuang sama.
            Dalam ayat di atas nabi mengajak ahli kitab untuk kembali kepada kalimatunsawa (kalimat yang  sama). Kalimat yang sama di sini adalah kalimat ajakan-ajakan yang sama yang juga telah dibawakan oleh rasul-rasul terdahulu seperti nabi Isa, Musa, Ibrahim, Nuh, dan semua nabi dan rasul dalam risalahnya menyerukan kalimat yang sama.

C. Fungsi Hikmah Bagi Da’i Dalam Upaya Mencari Titik Temu

            hikmah diterapkan pada urutan pertama karena arti hikmah memang mencakup kecerdasan emosional, intelektual dan spiritual. Bagi da’i yang telah memiliki hikmah maka secara otomatis akan memudahkan da’i dalam menyampaikan mauidzah hasanah dan mujadalh, begitu juga dengan mencari titik temu. Da’i akan tahu dari sisi mana dakwah harus dimulai.

D. Memahami Realitas Perbedaan

            di dunia ini keyakinan umat manusia terhadap suatu agama sangat heterogen. Karena itu agama-agama diyakini sebagian besar umat manusia adalah sebagai jalan hidup. Sebagaimana dikatakan Prof. Harun Nasution bahwa agama itu mengandung ikatan-ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dipertegas oleh murtadho muthahhari, agama itu hakikatnya merupakan kebutuhan fitri manusia yang tidak ada satu pun mampu menggantikannya.
            Dengan demikian memeluk suatu agama merupakan hak yang paling asasi bagi umat manusia. Oleh karena itu, tidak dibenarkan memaksakan kehendak bagi seseorang untuk memeluk suatu agama lain, keyakinan terhadap agamanya merupakan kebuutuhan-kebutuhan fitri manusia dan kebenaran sesuai perjanjian ketika masih dalam rahim. (Q.S.7:73)
            Berdasarkan itu, membuat kesepakatan yang sesuai tentang pelaksana dakwah di kalangan para pemeluk agama melalui dialog merupakan salah satu yang tepat dalam menciptakan kerukunan di antara umat beragama.

E. Titik Temu Dalam Konteks Metodologi Dakwah

            yang dimaksud mencari titikk temu dalam konteks metodologi dakwah adalah usaha mencari titik tolak di mana dakwah menemui jalan masuk untuk diteruskan secara sistematis terhadap mad’u yang menjadi sasaran dakwah.
            Aplikasinya dalam berdakwah adalah menyadari dua hal; pertama, bahwa yang kita bawa ini merupakan pesan-pesan  Illahi yang menjadi kewajiban setiap untuk menyampaikannya pada orang lain dengan batas-batas kemampuan yang ada. Kedua, yang harus disadari adalah yang menjadi objek dakwah adalah manusia yang mempunyai pemikiran yang berbeda-beda yang dilator belakangi oleh perbedaan geografis, budaya dan keyakinan yang  tentu sangat mempengaruhi cara mereka mempersepsi esan-pesan dakwah yang akan disampaikan oleh para da’i.





















BAB III
PENUTUP

·         Da’i merupakan duta Islam yang memperkanalkan Islam kepada setiap insan. Da’i yang baik harus mempelajari terlebih dahulu data riil tentang komunitas atau pribadi yang bersangkutan di saat terjun ke sebuah komunitas atau melakukan kontak dengan seorang mad’u. Sebab, salah satu hikmah dalam berdakwah adalah menempatkan manusia sesuai dengan kadar yang telah ditetapkan Allah.
·         Penggolongan rumpun mitra dakwah yang dikemukakan oleh M.Munir, S.Ag., MA. adalah sebagai berikut.
o   Mad’u ditinjau dari segi penerimaan dan penolakan ajaran Islam, terbagi dua, yaitu muslim dan nonmuslim.
o   Mad’u ditinjau dari segi tingkat pengamalan ajaran agamanya, terbagi tiga, dzalimun linafsih, muqtashid, dan sabiqun bilkhairat.
o   Mad’u ditinjau dari tingkat pengetahuan agamanya, dibagi tiga, ulama, pembelajar, dan awam.
o   Mad’u ditinjau dari struktur sosialnya terbagi tiga; pemerintah (al-mala’), masyarakat maju (al-mufrathim), dan terbelakang (al-mustadh’afin).
o   Mad’u ditinjau dari prioritas dakwah, dimulai dari diri sendir, keluarga, masyarakat, dst. (M.Munir, S.Ag., MA., Metode Dakwah, 2009:108-109)
·         Da’i yang mendapat taufik dan sukses adalah mereka yang mampu memberikan kepada mitranya apa yang dibutuhkannya, baik berupa buah pikiran ataupun pengarahan.dia berusaha meyakinkan orang tentang kebenaranapa yang disuguhkannya, kemudian menarik orang supaya mengamalkan apa yang diajarkannya.
·         Diam diperlukan dalam empat situasi, yakni:
·         Menghindari konfrontasi.
·         Disaat perkataan sudah tidak efektif.
·         Dalam rangka menyusun taktik dan strategi.
·         Diam dalam arti bahasa perbuatan (dakwah bilhal).

·         Diam yang Berdosa
o   Diam ketika kemungkaran dilakukan terang-terangan di depan kita.
o   Jika berkenaan dengan informasi yang diperlukan masyarakat. Seperti seorang yang tau jalan tapi tidak mau memberikan petunjuk.
o   Tidak mau bicara selama tidak berkaitan dengan keuntungan dirinya.
o   Tidak mengakui kesalahan yang anda lakukan.

·         Titik temu adalah titik tolak dimana perbedaan-perbedaan dapat dipertemukan dalam satu persamaan. Titik singgung yang mempertemukan antara persamaan dan perbedaanlah yang disebut titik temu.
                                                                      
DAFTAR PUSTAKA


Aziz, Ali, Ilmu Dakwah,Jakarta: Kencana,2009.
Munir, M, Metode Dakwah, Jakarta: Kencana, 2009.
Malaikah, Musthafa, Manhaj Dakwah Yusuf Al-Qardhawi, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,2001

             







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

*A. Rojabi..."aLways come to discussion" *Abu Nurjihad..."saywhat do you think" *Anas Abdul Razak..."Islamic communication and broadcasting is the best" *Arum Ningsih..."Always SPIRIT" *Asep Wildan Setiawan..."don't be lazy"