Minggu, 05 Juni 2011

naskah ceramah



Lidah adalah Amanah
(Anas Abdul Razak)

Assalamu’alaikum wr.wb
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qç7Ï^tGô_$# #ZŽÏWx. z`ÏiB Çd`©à9$# žcÎ) uÙ÷èt/ Çd`©à9$# ÒOøOÎ) ( Ÿwur (#qÝ¡¡¡pgrB Ÿwur =tGøótƒ Nä3àÒ÷è­/ $³Ò÷èt/ 4 =Ïtär& óOà2ßtnr& br& Ÿ@à2ù'tƒ zNóss9 ÏmŠÅzr& $\GøŠtB çnqßJçF÷d̍s3sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# Ò>#§qs? ×LìÏm§ .
Hadirin rahimah kumullah, pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Illahi Rabbi baahwasan-Nya pada kesempatan ini kita bisa berkumpul bersama di tempat ini. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada Nabi besar Muhammad saw.
Saudaraku, Kualitas diri seseorang bisa diukur dari kemampuannya menjaga lidah. Orang-orang beriman tentu akan  berhati-hati dalam menggunakan lidahnya. Dalam sebuah kitab ada keterangan menarik. Disebutkan ada empat jenis manusia diukur dari kualitas pembicaraannya.
Pertama, orang yang berkualitas tinggi. Kalau dia berbicara, isinya sarat dengan hikmah. Ide, gagasan, solusi, ilmu, dzikir, dan sebagainya. Orang seperti ini pembicaraannya bermanfaat bagi dirinya sendiri, juga bagi orng lain yang mendengarkan. Jika dia diajak berbicara sekalipun ngobrol, ujungnya “krisis adalah peluang bagi kita untuk mengevaluasi kekurangan yang ada. Dengan krisis, siapa tahu kita akan lebih kreatif? Kita bisa mencari celah-celah peluang inovasi. Pokoknya jangan putus asa, semangat terus!”siapa saja yang berbicara tentang solusi, gagasan, hikmah, dan hal-hal serupa itu, insya Allah dia adalah manusia yang berkualitas.
Kedua., orang yang biasa-biasa saja. Cirri orang yang seperti ini adalah sibuk menceritakan peristiwa. Melihat adda kereta api terguling, dia berkomentar rebut sekali. Seolah dirinya yang kelindes kereta. Ketika bertemu dengan artis, terus dicerita-ceritakan tiada henti. Pokoknya apa saja dikomentari. Dia seperti juru bicara yang wajib berkomentaR kapan pun ada peristiwa. Tidak peduli peristiwa layak dia komentari atau tidak. Ini tipe manusia tukang cerita peristiwa. Prinsip yang dia pegang :”pokoknya  bunyi!” tidaak ada masalah dengan peristiwa. Jika dari itu semua kita bisa memungut hikmah yang sebaik-baiknya, insya Allah peristiwa bermanfaat. Akan tetapi, jika dari peristiwa-peristiwa itu tidak ada yang dituju kecuali menunggu sampai mulut lelah sendiri, ini tentu kesia-siaan. Seperti kata pepatah, tong kosong nyaring bunyinya.
Ketiga, orang rendahan. Cirinya kalau berbicara isinya hanya  mengeluh, mencela, atau menghina. Apa saja bisa jadi bahan keluhan. “ aduuuh ini pinggag mengapa jadi sakit begini. Hari ini kayak-nya banyak masalah , nih!” ketika kepadanya disodorkan makanan, jurus keluhannnya menghamburan. “makanan ko dingin begini? Coba kalau ada sambel, tentu lebih nikmat. Aduuuh kerupuk ini kenapa kecil-kecil begini?” terus saja makanan dikeluhkan walaupun pada kenyataannya habis juga. Mengeluh dan mencela, itu hari-hari orang rendahan. Seolah-olah tiada hari berlalu tanpa keluh kesah. Ketika turun hujan, hujan segera dicaci. “ ohh hujan melulu. Dimana-mana becek, jemuran tidak kering-kering.”  Ketika jalanan macet, mengeluh. Ketika ada lampu merah mengeluh. Ketika ada polisi, mengeluh. Ketika ada orang meminta-minta, mengeluh. Seolah-olah tiada hari berlalu tanpa keluh kesah. Alangkah menderita hidup orang yang dipenjara oleh keluh kesah. Dia tidak bisa membedakan mana nikmat dan mana musibah. Semua hidupnya dimaknai sebagai kesusahan hingga layak dikeluhkan.
Keempat, orang yang dangkal, yaitu mereka yang pembicaraannya tidak keluar dari menyebut-nyebut kehebatan dirinya, jasa-jasanya dan kebaikan-kebaikannya. Padahal hidup ini adalah pengabdian kepada Allah. Mengapa kita harus membanggakan apa yang Allah titipkan pada kita. Ad orang pakai cincin segera berkomentar, “Oh, itu sih mirip cincin saya.”  Ada orang membeli mobil baru, “ nah, ini seperti yang di garasi saya itu.”  Berbicara tentang Singapura langsung berkata, “ saya pernah ke Singapura, lho. Hebat sekali Kota Singapura. Hanya orang yang hebat yang bisa ke sana.” Orang-orang dangkal ini terus berbicara tiada henti. Tidak lupa dia selalu menyelipkan kata- kata kesombongan dan membanggakan diri. Menyebut jasa, kebaikan, dan prestasinya. Dia selalu ingin tampak menonjol dan mendominasi. Jika ada orang lain yang yang secara wajar tampak lebih baik, hatinya teriris-iris, tidak rela, dan sangat berharap orang itu segera celaka. Inilah ilmu gelas kosong. Gelas kosong, maunya diisi terus. Orang yang kosong dari harga diri, inginnya minta dihargai terus.
Kita harus berhati-hati dalam berbicara. Kita sadari bahwa berbicara itu dibatasi oleh etika-etika. Hendaklah kita berada di atas rel yang benar. Jangan sampai kita jatuh dalam hal yang Allah larang. Dalam berbicara kita jangan bergunjing (ghibah). Bergunjing adalah perbuatan yang ringan, bahkan bagi sebagian orang dianggap mengasyikkan akan tetapi, jika dilakukan dengan sengaja, apalagi dengan kesadaran penuh dan niat menggebu, bergunjing bisa menjadi dosa besar.
“Dan janganlah kalian ber-ghibah (bergunjing) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain.  Apakah suka salah seorang dari kalian makan daging bangkai saudaranya? Maka tentu kalian akan sangat jijik kepadanya. Dan takutlah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah maha penerima tobat.” (Q.S. Al-Hujurat: 12).
Kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai dengan keinginan kita. Akan  tetapi kita bisa memaksa diri kita untuk melakukan yang terbaik menghadapi sikap orang lain.banyak bicara tidak selalu buruk, yang buruik adalah berbicara kebatilan. Boleh-boleh saja kita banyak berbicara, tetapi harus proporsional. Pembicaraan sering kali bergeser dari rel kebenaran ketika kita tidak proporsional. Semua orang harus menjaga lidahnya,. Tidak peduli apakah itu orang yang ahli agama. Orang-orang yang pandai membaca Al-quran dan hadits tidak ptomatis pembicaraannya telah terjaga. Di sini tetap dibutuhkan proses belajar, berlatih, dan terus berjuang agar mutu kata-kata kita semakin meningkat. Alangkah ironi jika orang-orang ahli agama tidak bisa menjaga lisan. Dia banyak menasehati umat dengan perilaku-perilaku yang baik, tetapi saat yang sama dia tidak melakukan hal itu. jika orang-orang preman berkata kasar, jorok, dan tidak mengenal tata karma, orang masih maklum. Akan tetapi, jika orang-orang alim yang melakukannya, tentu ini adalah bencana serius.
Satu langkah konkret untuk mencapai upaya menjaga lisan adalah dengan memulai mengurangi jumlah kata-kata. Makin sedikit berbicara, makin tipis peluang kesalahan. Sebaliknya, makin banyak berbicara,  peluang tergelincir lidah semakin lebar. Jika lidah kita meluncur tanpa kendali, kehormatan kita seketika akan runtuh. Berbahagialah bagi siapa yang bisa berkata dengan akhlak tinggi. Selalu berkata baik. Jika tidak, cukup diam saja!
Saudaraku, sadarilah bahwa lidah ini adalah amanah. Tiap-tiap kata yang terucap darinya kelak akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah. Jangan jadikan kata-kata itu sebagai sebab datangnya murka dan kebencian-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. “keselamatan seorang muslim dalam menjaga lisannya”
Semoga Allah SWT. Membimbing lisan kita untuk berucap mengikuti keteladanan Rasulullah saw. ucapan itu keluar dari lisan bagai untaian mutiara yangsarat dengan kebenaran, berharga, bermutu, dan membawa maslahat bagi siapapun yang mendengarkannya. Amiin.
Sekian uraian dari saya, terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf apabila ada kesalahan.
Wassalamu’alaikum wr.wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

*A. Rojabi..."aLways come to discussion" *Abu Nurjihad..."saywhat do you think" *Anas Abdul Razak..."Islamic communication and broadcasting is the best" *Arum Ningsih..."Always SPIRIT" *Asep Wildan Setiawan..."don't be lazy"