Sabtu, 18 Juni 2011

Fungsi-Fungsi Tabligh dari Media Cetak


1.      Fungsi-Fungsi Tabligh dari Media Cetak

Dari beberapa defenisi mengenai tabligh dapat ditarik kesimpulan, pertama tabligh merupakan suatu proses usaha yang dilakukan secara sadar dan sengaja, sehingga diperlukan organisasi, manajemen, sistem, metode dan media yang tepat. Kedua, usaha yang diselenggarakan itu berupa ajakan kepada manusia untuk beriman dan mematuhi ketentuan-ketentuan Allah, amar ma’ruf dalam arti perbaikan dan pembangunan masyarakat, dan nahi munkar. Ketiga, proses usaha yang diselenggarakan tersebut berdasarkan suatu tujuan tertentu, yaitu kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang diridhai Allah. Sedangkan surat kabar adalah salah satu bentuk jurnalistik. Djafar H. Assegaf (1983) mengatakan jurnalistik merupakan kegiatan untuk menyampaikan pesan/berita kepada khalayak ramai (massa), melalui saluran media, baik media cetak maupun media elektronik (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 16).
Bahri Gazali mengatakan bahwa surat kabar adalah salah satu media komunikasimasyarakat pembaca yang sangat besar pengaruhnya terhadap pembacanya (Bahri Gazali, 1997: 42)  Oleh karena itu surat kabar lebih menekankan nada informatif, namun terdapat juga nada persuasif.
Media pers seperti surat kabar dan majalah tidak hanya sarat dengan informasi-informasi berwujud berita, tetapi juga diwarnai dengan bentuk-bentuk tulisan lainnya yang bersifat ganda, memberi infomasi sekaligus menghibur (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 34). Dengan demikian pers memiliki empat fungsi utama yaitu sebagai pemberi informasi, pemberi hiburan, melakukan kontrol sosial dan mendidik masyarakat secara luas (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 4).
Fungsi informasi bagi pers mmberikan ruang bagi para pemikir, muballigh, ulama dan pemuka Islam lainnya, untuk memanfaatkan serta mempergunakan peluang maupun pengaruh yang dimiliki oleh pers tersebut guna meningkatkan dakwah. Harapan tersebut seirama dengan apa yang dinyatakan oleh Hasan Basri Tanjung bahwa beranjaknya kehidupan masyarakat pada tahap informasi telah mengajak kita untuk melangkah lebih jauh atau paling tidak sama dengan perubahan sosial yang ada. Untuk mengantisipasi hal tersebut kata beliau, dakwah billisan tidak memadai lagi, tetapi harus mendapat dukungan dengan suatu media yang refresentatif dan relevan dengan cakrawala pikiran manusia yang semakin maju (Hasan Basri Tanjung, 1993). Dengan demikian pers dapat dipandang sebagai bagian dari strategi dakwah, sekaligus sebagai instrumen perubahan yang bersifat hikmah, yang menurut Harun Nasution memiliki dimensi intelektual, etikal, estetikal, dan prakmatikal.
fungsi menghibur bagi pers, bukan dalam arti menyajikan tulisan-tulisan atau informasi-informasi mengenai jenis-jenis hiburan yang disenangi oleh masyarakat. Akan tetapi menghibur dalam arti menarik pembaca dengan menyuguhkan hal-hal yang ringan diantara sekian banyak informasi yang berat dan serius. Sutirman Eka Ardhana, 1995: 35).
Fungsi mempengaruhi dari kehadiran pers terarah pada pers yang menjadi kontrol sosial. Pers memiliki pengaruh yang besar dalamm kehidupan masyarakat. Pers pun dapat mengarahkan frame of reference dari masyarakat. Sehingga media cetak (pers) sangat efektif digunakan untuk bertabligh.
Dengan demikian tampak bahwa ada kesamaan antara fungsi dakwah maupun tabligh dan fungsi pers (surat kabar). Dalam hal ini Hasanuddin mengatakan bahwa persamaan antara dakwah dan publisisti yaitu sama-sama menyampaikan isi pernyataan, sasarannya sama-sama yaitu manusia, sama-sama bertujuan agar manusia lain jadi sependapat, selangkah dan serasi dengan orang yang menyampaikan isi pernyataan (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 45). Kelihatan bahwa antara abligh ataupun dakwah dan media yang disebut surat kabar atau Koran mempunyai hubungan yang erat, terutama dakwah masa kini yaitu surat kabar sebagai alat penyampaian dakwah kepada khalayak.

2.      Pengaruh Televisi Terhadap Tingkat Pemahaman Dan Pengamalan Ajaran Islam Pemirsanya

            Maraknya tabligh melalui media televisi baik lewat siaran acara tabligh di pagi hari maupun sinetron religi di malam hari memberikan dampak positif bagi pemirsanya. Acara-acara tabligh di pagi hari menjadi siaran yang tepat untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia. Dalam ranah pemahaman acaara-acara tabligh seperti Mama dan Aa, Ummi dan lainnya, mampu menambah pemahaman pemirsa seputar Islam. Contohnya, dalam acara Mama dan Aa dengan mubalighah Mama Dedeh memberikan kesempatan pada pemirsa untuk mencurahkan permasalahannya guna mencari solusi yang Islami dalam menyelesaikannya. Dengan demikian si pemirsa disuguhkan hal yang ia sangat perlukan dalam hidupnya, yakni soluusi dari malahnya itu. Jawaban mubalighah tidak hanya memberi pemahaman pada penanya saja, tetapi juga bagi pemirsa yang lain yang menyaksikan acara tersebut. Sehingga, orang yang memiliki permasalahan yang sama bisa mendapat solusinya.
            Sinetron religi pun tak kalah berpengaruhnya  dalam memberikan pemahaman agama terhadap pemirsa. Seperti pemahaman kewajiban berkerudung bagi seorang muslimah. Tak sedikit orang tertari berkerudung seperti trendnya tokoh sinetron religi yang sedang “in”. Namun, karena notabene aktris yang berperannya tidak berkerudung, pemirsa pun banyak yang beranggapan kerudung sebagai ternd yang dipakai dan dilepas semaunya.
            Sayang, pemahaman yang bertambah tidak berbanding lurus dengan pengamalan pesan tabligh. Tabligh lewat televisi siaran tabligh pagi hari maupun sinetron religi, menurut saya baru dapat dianggap sebagai Tabligh informatif  karena  sekedar“memberitahu” umat tentang, misalnya, rukun-rukun agama, hal-hal yang wajib, sunnat, haram dst dalam Islam, sifat-sifat dan amalan-amalan Rasul yang perlu diteladani, cara berwudu’ yang benar, dsb. Tetapi belum bisa dijadikan tabligh penyadaran dimana pesan-pesan tabligh tersebut diamalkan oleh pemirsanya.
            Fakta sosial yang terjadi di tengah masyarakat menjadi alasan saya menyebut tabligh lewat televisi belum menjadi penyadar terhadap pemirsanya. dimana semakin marak pemirsa siaran tabligh di pagi hari semakin banyak pula pemirsa yang menonton siaran gosip. Semakin sering diangkat tema tentang bahaya korupsi semakin sering pula kegiatan korupsi dilaksanakan. Semakin banyak mubaligh menjelaskan masalah zinah semakin banyak pula PSK yang “mangkal”. Begitu banyak pembahasan mengenai kewajiban menghormati orang tua, begitu banayak pula anak yang terus durhaka pada orang tua.  Semakin vokal para mubaligh menyerukan anti forngrafi dan fornoaksi semakin berani pula masyarakat melakukan fornografi dan fornoaksi. Ironisnya, mereka melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu bukan karena tidak tahu syari’at, justru mereka tahu syari’at yang tak lain salah satunya dari siaran tabligh dan sinetron Islami  itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

*A. Rojabi..."aLways come to discussion" *Abu Nurjihad..."saywhat do you think" *Anas Abdul Razak..."Islamic communication and broadcasting is the best" *Arum Ningsih..."Always SPIRIT" *Asep Wildan Setiawan..."don't be lazy"