1. Resume Hasil Diskusi Seluruh Kelompok Dalam Mata Kuliah Teori KPI
A. Dakwah Lewat Mimbar
Tabligh lewat mimbar tidak hanya berupa ceramah tetapi juga berupa tulisan atau siaran tabligh di mimbar dakwah.
Kini tabligh lewat mimbar secara universal berkembang pesat dengan adanya tabligh di podium yang juga menggunakan teknologi seperti infocus. Saat menyampaikan pesan berupa peringatan akan dosa-dosa, mubaligh dapat menampilkan slide atau film indie yang mendukung penyampaian pesannya.
Mimbar pun dapat dipadukan dengan media modern. Perpaduan di sini di maksudkan dengan pemakaian media tradisional dan media modern dalam satu proses tabligh. Contohnya, khutbah Idul Fitri dari Istiqlal yang ditayangkan televisi dan dipostingkan lewat internet.
Tabligh lewat mimbar bisa dilakukan dengan teknik Tabligh informatif, tabligh penyadaran , tabligh rekreatif , tabligh reaktif dan konfrontatif.
B. Tabligh Lewat Media Cetak
Bahri Gazali mengatakan bahwa surat kabar adalah salah satu media komunikasi masyarakat pembaca yang sangat besar pengaruhnya terhadap pembacanya (Bahri Gazali, 1997: 42) Oleh karena itu surat kabar lebih menekankan nada informatif, namun terdapat juga nada persuasif.
Media pers seperti surat kabar, majalah tidak hanya sarat dengan informasi-informasi berwujud berita, tetapi juga diwarnai dengan bentuk-bentuk tulisan lainnya yang bersifat ganda, memberi infomasi sekaligus menghibur (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 34). Dengan demikian pers memiliki empat fungsi utama yaitu sebagai pemberi informasi, pemberi hiburan, melakukan kontrol sosial dan mendidik masyarakat secara luas (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 4).
Ada kesamaan antara fungsi dakwah dan fungsi pers (surat kabar). Dalam hal ini Hasanuddin mengatakan bahwa persamaan antara dakwah dan publisisti yaitu sama-sama menyampaikan isi pernyataan, sasarannya sama-sama yaitu manusia, sama-sama bertujuan agar manusia lain jadi sependapat, selangkah dan serasi dengan orang yang menyampaikan isi pernyataan (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 45). Kelihatan bahwa antara dakwah dan media yang disebut surat kabar atau Koran mempunyai hubungan yang erat, terutama dakwah masa kini yaitu surat kabar sebagai alat penyampaian dakwah kepada khalayak.
C. Tabligh Lewat Televisi
Televisi sebagai salah satu hasil karya teknologi komunikasi memiliki berbagai kelebihan, baik dari sisi programatis maupun teknologis. Dilihat dari sisi dakwah, media televisi dengan berbagai kelebihan dan kekuatannya seharusnya bisa menjadi media dakwah yang efektif jika dikelola dan dipergunakan secara profesional. Karena dakwah melalui media televisi memiliki relevansi sosiologis dengan masyarakat, mengingat pemirsa televisi di Indonesia mayoritas beragama Islam. Selain itu secara ekonomis, dakwah melalui media televisi sebenarnya juga mempunyai pangsa pasar yang potensial jika digarap secara profesional pula.
Problematika dakwah di televisi tidak bisa lepas dari problematika bisnis media.
Karena pertimbangan bisnis maka agar acara atau program dakwah di televisi bisa tetap exist harus dibuat lebih menarik, tidak monoton dan lebih variatif sehingga punya nilai jual tinggi.
Untuk membuat acara dakwah yang baik dan laku jual diperlukan Sumber Daya Manusia dakwah yang mengetahui dan memahami mengenai persoalan media televisi, baik secara teknis dan programatis.
Perlu dirintis dan dikembangkan Production House yang membuat program-program dakwah.
Ke depan sudah saatnya dipikirkan mengenai keberadaan televisi Islam di Indonesia.
D. Tabligh Lewat Radio
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan radio siaran sebagai media dakwah yaitu: Pertama, Daya Langsung. Daya langsung radio siaran berkaitan dengan proses penyusunan dan penyampaian pesan pada pendengarnya yang relatif cepat. Kedua, Daya Tembus. Faktor lain yang menyebabkan radio dianggap memiliki kekutan kelima ialah daya tembus radio siaran, dalam arti kata tidak mengenal jarak dan rintangan. Gunung-gunung, lembah-lembah, padang pasir, rawa-rawa maupun lautan dapat ditembus oleh siaran radio. Ketiga, Daya Tarik. Faktor ketiga yang menyebabkan radio siaran mempunyai kekuatan ialah daya tariknya yang kuat yang dimilikinya. Daya tarik ini disebabkan sifatnya yang serba hidup berkat tiga unsur yakni : musik, kata-kata, dan efek suara (sound effect).
Radio merupakan media dakwah (tabligh) yang paling efektif, sebab radio merupakan sarana tercepat, lebih cepat daripada Koran dan TV dalam menyampaikan informasi kepada publik tanpa melalui proses yang rumit dan butuh waktu yang banyak seperti siaran TV atau sajian media cetak. Hanya dengan melalui telepon, da’I yang akan melakukan tablih di radio dapat secara langsung menyampaikan berita atau melaporkan peristiwa yang ada di lapangan.
Radio pun alat yang akrab dengan pemiliknya. Kita jarang sekali duduk dalam satu grup dalam mendengarkan radio, tetapi biasanya mendengarkannya dilakukan sendirian, seperti di mobil, di kamar tidur, dan sebagainya. Suara da’i di radio hadir di rumah dan sangat dekat dengan pendengar. Pembicaraan langsung menyentuh aspek pribadi.
Paduan kata-kata, efek suara dan musik dalam siaran tabligh di radio mampu mempengaruhi emosi pendengar. Pendengar akan bereaksi atau memperoleh kehangatan dari suara penyiar, dan pendengar seringkali berfikir bahwa penyiar adalah seorang teman bagi mereka. Proses siaran tabligh di radio tidak rumit, tidak banyak pernik, baik bagi pengelola atau pendengar.
Siaran tabligh di radio menembus batas-batas geografis, SARA (Suku, Agama, Ras, antar golongan), dan kelas sosial. Hanya “Tunarungu” yang tidak mampu mengonsumsi dan menikmati siaran radio.
Selain itu pula, dengan adanya radio streming internet kini masalah geografis tidak menjadi kendala lagi, sebab selama terhubung dengan jaringan internet orang dapat mendengarkan radio yang ia suka sesuai dngan kebutuhan dan keinginannya dimanapun dan kapanpun ia berada.
E. Tabligh Lewat Media Konvergen
Konvergensi media adalah bergabungnya atau terkombinasinya berbagai jenis media, yang sebelumnya dianggap terpisah dan berbeda (misalnya, komputer, televisi, radio, dan suratkabar), ke dalam sebuah media tunggal.
Konvergensi media memungkinkan para mubaligh di bidang media massa untuk menyampaikan berita dan menghadirkan informasi dan hiburan, dengan menggunakan berbagai macam media.
Konvergensi media memungkinkan audiens (khalayak) media massa untuk berinteraksi dengan media massa dan bahkan mengisi konten media massa. Audiens sekarang dapat mengontrol kapan, di mana dan bagaimana mereka mengakses dan berhubungan dengan informasi, dalam berbagai jenisnya.
Keuntungan dari konvergensi cukup jelas, Ia menghemat uang karena –ketimbang mempekerjakan staf pemberitaan yang terpisah untuk setiap media—pengoperasian bisa lebih murah ketika mempekerjakan reporter yang sama untuk tiga media sekaligus: suratkabar, situs Web, dan stasiun TV. Sebagai tambahan, setiap media itu bisa mempromosikan mitra-mitra medianya. TV berita dapat mendorong pembaca untuk mengunjungi situs web atau membeli suratkabarnya (versi cetak).
Banyak juga pengeritik yang khawatir bahwa pengoperasian yang terkonvergensi ini berarti berkurangnya independensi dan keragaman bentuk jurnalisme. Beberapa di antara mereka menyimpulkan, walaupun konvergensi operasional mungkin bagus untuk perusahaan-perusahaan media, itu mungkin tidak bagus buat konsumen media.
F. Tabligh Lewat Film
film Indonesia berkembang secara pesat. perkembangan ini tidak hanya menjadi angin segar bagi dunia bisnis perfilman, tetapi juga menjadi kabar gembira bagi pelaku tabligh. hal ini dikarenakan film mampu menjadi salah satu media yang efektif untuk bertabligh. beberapa film bergenre tabligh seperti Ayat-Ayat Cinta, ?, Ema Ingin Naik Haji, dan lainnya laris di pasaran dan memberi pemahaman yang baik akan Islam.
film sebagai media representasi Islam bisa dikemas dalam bentuk film layar lebar, film idie, dan sinema elektronik (sinetron).
animasi dalam film bisa diarahkan pada kebudayaan Islami.
2. Fungsi-Fungsi Tabligh dari Media Cetak
Dari beberapa defenisi mengenai tabligh dapat ditarik kesimpulan, pertama tabligh merupakan suatu proses usaha yang dilakukan secara sadar dan sengaja, sehingga diperlukan organisasi, manajemen, sistem, metode dan media yang tepat. Kedua, usaha yang diselenggarakan itu berupa ajakan kepada manusia untuk beriman dan mematuhi ketentuan-ketentuan Allah, amar ma’ruf dalam arti perbaikan dan pembangunan masyarakat, dan nahi munkar. Ketiga, proses usaha yang diselenggarakan tersebut berdasarkan suatu tujuan tertentu, yaitu kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang diridhai Allah. Sedangkan surat kabar adalah salah satu bentuk jurnalistik. Djafar H. Assegaf (1983) mengatakan jurnalistik merupakan kegiatan untuk menyampaikan pesan/berita kepada khalayak ramai (massa), melalui saluran media, baik media cetak maupun media elektronik (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 16).
Bahri Gazali mengatakan bahwa surat kabar adalah salah satu media komunikasimasyarakat pembaca yang sangat besar pengaruhnya terhadap pembacanya (Bahri Gazali, 1997: 42) Oleh karena itu surat kabar lebih menekankan nada informatif, namun terdapat juga nada persuasif.
Media pers seperti surat kabar dan majalah tidak hanya sarat dengan informasi-informasi berwujud berita, tetapi juga diwarnai dengan bentuk-bentuk tulisan lainnya yang bersifat ganda, memberi infomasi sekaligus menghibur (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 34). Dengan demikian pers memiliki empat fungsi utama yaitu sebagai pemberi informasi, pemberi hiburan, melakukan kontrol sosial dan mendidik masyarakat secara luas (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 4).
Fungsi informasi bagi pers mmberikan ruang bagi para pemikir, muballigh, ulama dan pemuka Islam lainnya, untuk memanfaatkan serta mempergunakan peluang maupun pengaruh yang dimiliki oleh pers tersebut guna meningkatkan dakwah. Harapan tersebut seirama dengan apa yang dinyatakan oleh Hasan Basri Tanjung bahwa beranjaknya kehidupan masyarakat pada tahap informasi telah mengajak kita untuk melangkah lebih jauh atau paling tidak sama dengan perubahan sosial yang ada. Untuk mengantisipasi hal tersebut kata beliau, dakwah billisan tidak memadai lagi, tetapi harus mendapat dukungan dengan suatu media yang refresentatif dan relevan dengan cakrawala pikiran manusia yang semakin maju (Hasan Basri Tanjung, 1993). Dengan demikian pers dapat dipandang sebagai bagian dari strategi dakwah, sekaligus sebagai instrumen perubahan yang bersifat hikmah, yang menurut Harun Nasution memiliki dimensi intelektual, etikal, estetikal, dan prakmatikal.
fungsi menghibur bagi pers, bukan dalam arti menyajikan tulisan-tulisan atau informasi-informasi mengenai jenis-jenis hiburan yang disenangi oleh masyarakat. Akan tetapi menghibur dalam arti menarik pembaca dengan menyuguhkan hal-hal yang ringan diantara sekian banyak informasi yang berat dan serius. Sutirman Eka Ardhana, 1995: 35).
Fungsi mempengaruhi dari kehadiran pers terarah pada pers yang menjadi kontrol sosial. Pers memiliki pengaruh yang besar dalamm kehidupan masyarakat. Pers pun dapat mengarahkan frame of reference dari masyarakat. Sehingga media cetak (pers) sangat efektif digunakan untuk bertabligh.
Dengan demikian tampak bahwa ada kesamaan antara fungsi dakwah maupun tabligh dan fungsi pers (surat kabar). Dalam hal ini Hasanuddin mengatakan bahwa persamaan antara dakwah dan publisisti yaitu sama-sama menyampaikan isi pernyataan, sasarannya sama-sama yaitu manusia, sama-sama bertujuan agar manusia lain jadi sependapat, selangkah dan serasi dengan orang yang menyampaikan isi pernyataan (Sutirman Eka Ardhana, 1995: 45). Kelihatan bahwa antara abligh ataupun dakwah dan media yang disebut surat kabar atau Koran mempunyai hubungan yang erat, terutama dakwah masa kini yaitu surat kabar sebagai alat penyampaian dakwah kepada khalayak.
3. Pengaruh Televisi Terhadap Tingkat Pemahaman Dan Pengamalan Ajaran Islam Pemirsanya
Maraknya tabligh melalui media televisi baik lewat siaran acara tabligh di pagi hari maupun sinetron religi di malam hari memberikan dampak positif bagi pemirsanya. Acara-acara tabligh di pagi hari menjadi siaran yang tepat untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia. Dalam ranah pemahaman acaara-acara tabligh seperti Mama dan Aa, Ummi dan lainnya, mampu menambah pemahaman pemirsa seputar Islam. Contohnya, dalam acara Mama dan Aa dengan mubalighah Mama Dedeh memberikan kesempatan pada pemirsa untuk mencurahkan permasalahannya guna mencari solusi yang Islami dalam menyelesaikannya. Dengan demikian si pemirsa disuguhkan hal yang ia sangat perlukan dalam hidupnya, yakni soluusi dari malahnya itu. Jawaban mubalighah tidak hanya memberi pemahaman pada penanya saja, tetapi juga bagi pemirsa yang lain yang menyaksikan acara tersebut. Sehingga, orang yang memiliki permasalahan yang sama bisa mendapat solusinya.
Sinetron religi pun tak kalah berpengaruhnya dalam memberikan pemahaman agama terhadap pemirsa. Seperti pemahaman kewajiban berkerudung bagi seorang muslimah. Tak sedikit orang tertari berkerudung seperti trendnya tokoh sinetron religi yang sedang “in”. Namun, karena notabene aktris yang berperannya tidak berkerudung, pemirsa pun banyak yang beranggapan kerudung sebagai ternd yang dipakai dan dilepas semaunya.
Sayang, pemahaman yang bertambah tidak berbanding lurus dengan pengamalan pesan tabligh. Tabligh lewat televisi siaran tabligh pagi hari maupun sinetron religi, menurut saya baru dapat dianggap sebagai Tabligh informatif karena sekedar“memberitahu” umat tentang, misalnya, rukun-rukun agama, hal-hal yang wajib, sunnat, haram dst dalam Islam, sifat-sifat dan amalan-amalan Rasul yang perlu diteladani, cara berwudu’ yang benar, dsb. Tetapi belum bisa dijadikan tabligh penyadaran dimana pesan-pesan tabligh tersebut diamalkan oleh pemirsanya.
Fakta sosial yang terjadi di tengah masyarakat menjadi alasan saya menyebut tabligh lewat televisi belum menjadi penyadar terhadap pemirsanya. dimana semakin marak pemirsa siaran tabligh di pagi hari semakin banyak pula pemirsa yang menonton siaran gosip. Semakin sering diangkat tema tentang bahaya korupsi semakin sering pula kegiatan korupsi dilaksanakan. Semakin banyak mubaligh menjelaskan masalah zinah semakin banyak pula PSK yang “mangkal”. Begitu banyak pembahasan mengenai kewajiban menghormati orang tua, begitu banayak pula anak yang terus durhaka pada orang tua. Semakin vokal para mubaligh menyerukan anti forngrafi dan fornoaksi semakin berani pula masyarakat melakukan fornografi dan fornoaksi. Ironisnya, mereka melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu bukan karena tidak tahu syari’at, justru mereka tahu syari’at yang tak lain salah satunya dari siaran tabligh dan sinetron Islami itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar